Internasional

Komandan Polisi Hamas Gaza Utara Tewas dalam Serangan Udara Israel

Ringkasan

  • Komandan pasukan polisi yang dijalankan Hamas di Gaza Utara, Brigadir Jenderal Abdel-Nasser Al-Maqadma, tewas dalam serangan udara Israel di kawasan Sheikh Radwan, utara Kota Gaza, pada Sabtu (25/7/2025).
  • Al-Maqadma yang juga menjabat sebagai Gubernur Gaza Utara itu menjadi target ketika militer Israel menyebutnya sebagai anggota sayap militer Hamas.

Serangan udara Israel di kawasan Sheikh Radwan, utara Kota Gaza, pada Sabtu (25/7/2025) menewaskan Brigadir Jenderal Abdel-Nasser Al-Maqadma. Pria itu menjabat sebagai kepala pasukan kepolisian di bawah kendali Hamas di Gaza Utara sekaligus gubernur wilayah tersebut. Kementerian Dalam Negeri yang dikelola Hamas mengonfirmasi kematian Al-Maqadma pada hari yang sama.

Militer Israel dalam pernyataannya menyebut Al-Maqadma juga merupakan anggota sayap militer Hamas. Klaim itu menjadikan Al-Maqadma sebagai figur senior terbaru yang ditargetkan dalam kampanye militer Israel di jalur Gaza. Sejak konflik memuncak, Israel secara konsisten menyebut personel kepolisian Hamas sebagai target sah karena keterkaitan mereka dengan struktur militer organisasi itu.

Namun serangan itu tidak berhenti pada Al-Maqadma. Lima warga Palestina lainnya turut kehilangan nyawa dalam rentetan serangan terpisah pada hari yang sama. Seorang petugas medis tewas di kamp pengungsi Nuseirat. Dua orang lainnya meninggal dalam sebuah rumah di Khan Younis yang diserang Israel dengan alasan menargetkan anggota kelompok Islamic Jihad.

Kisah paling menyayat hati datang dari Khan Younis pada sore hari. Khaled Al-Breim, seorang siswa SMA baru lulus, tewas dalam serangan ketika hendak membawa manisan untuk dibagikan kepada kerabat dan teman yang datang ke rumah keluarganya. Mereka berkumpul untuk memberikan ucapan selamat atas kelulusannya. Khaled seharusnya bersiap memasuki jenjang universitas.

Korban keenam adalah seorang petugas polisi yang sebelumnya terluka dalam serangan Israel pekan lalu. Luka-lukanya tidak tertolong dan ia menghembuskan napas terakhir pada Sabtu. Dengan demikian, total korban jiwa akibat serangan Israel pada satu hari itu mencapai enam orang.

Kematian Al-Maqadma menambah daftar panjang aparat kepolisian Hamas yang tewas dalam beberapa bulan terakhir. Israel membunuh puluhan anggota pasukan polisi tersebut dengan dalih mereka memiliki keterikatan dengan sayap militer Hamas dan merupakan ancaman aktif. Strategi ini memicu kecaman dari Hamas yang menilai Israel sengaja mengincar institusi kepolisian untuk menciptakan kekacauan tata kelola di Gaza.

Hamas menyebut serangan itu sebagai pelanggaran lebih lanjut terhadap gencatan senjata yang dimediasi Amerika Serikat pada Oktober lalu. Perjanjian gencatan senjata itu nyaris diabaikan oleh Israel. Sejak kesepakatan ditandatangani, serangan Israel telah menewaskan lebih dari 1.180 warga Palestina, mayoritas warga sipil, berdasarkan data Kementerian Kesehatan Gaza. Di pihak Israel, empat tentara tewas dalam serangan di Gaza selama periode yang sama.

Bagi masyarakat Indonesia, berita ini memiliki resonansi yang kuat. Indonesia secara konsisten menyerukan penghentian kekerasan dan pengakuan atas hak-hak kemanusiaan rakyat Palestina. Dengan populasi Muslim terbesar di dunia, sikap diplomatik Indonesia terhadap konflik Israel-Palestina selalu mendapat perhatian publik. Kementerian Luar Negeri Indonesia telah berulang kali menyerukan perlindungan terhadap warga sipil dan meminta komunitas internasional bertindak tegas.

Secara historis, Indonesia tidak memiliki hubungan diplomatik resmi dengan Israel. Pemerintah Indonesia konsisten menolak normalisasi hubungan selama isu Palestina belum diselesaikan secara adil. Sikap ini mencerminkan dukungan publik yang luas di Indonesia terhadap perjuangan kemerdekaan Palestina, yang kerap dimanifestasikan melalui aksi solidaritas dan bantuan kemanusiaan.

Dampak konflik ini juga terasa di sektor ekonomi global yang mempengaruhi Indonesia. Fluktuasi harga minyak dan ketidakpastian rantai pasok global akibat ketegangan di Timur Tengah berpotensi menaikkan biaya pokok produksi dan inflasi di dalam negeri. Sejumlah komoditas ekspor Indonesia turut terpengaruh oleh gangguan logistik di jalur perdagangan internasional.

Ke depannya, situasi di Gaza diperkirakan tetap memanas. Israel menunjukkan sinyal bahwa mereka akan terus melakukan operasi militer meskipun perjanjian gencatan senjata sudah disepakati. Sementara Hamas berupaya mempertahankan struktur kepemerintahan dan keamanan mereka di tengah tekanan militer yang berkelanjutan. Negosiasi perdamaian yang lebih substansial masih jauh dari kata tercapai.

Komunitas internasional, termasuk Indonesia, menghadapi dilema dalam merespons eskalasi berkelanjutan ini. Upaya mediasi yang dilakukan oleh Amerika Serikat, Mesir, dan Qatar belum membuahkan hasil yang signifikan. Sanksi internasional terhadap Israel juga belum diterapkan secara efektif, sementara bantuan kemanusiaan yang masuk ke Gaza masih sangat terbatas dibandingkan kebutuhan mendesak di lapangan.

Mengapa Ini Penting

Kematian pejabat senior Hamas di Gaza bukan sekadar kerugian satu figur militer. Peristiwa ini memperlihatkan bahwa Israel terus melanggar gencatan senjata yang telah disepakati, yang berpotensi memicu eskalasi lebih jauh. Bagi Indonesia, konflik berkepanjangan ini berdampak langsung pada stabilitas ekonomi global, khususnya harga energi dan rantai pasok internasional yang mempengaruhi harga kebutuhan pokok dalam negeri. Selain itu, tekanan publik kepada pemerintah Indonesia untuk mengambil sikap diplomatik yang lebih tegas akan terus meningkat mengingat sentimen pro-Palestina yang kuat di masyarakat.

Sumber Asli
Al Jazeera
Tanggal
25 Juli 2026
Waktu Baca
4 menit