Bisnis & Startup

Komisi VII Dorong Pemda dan UMKM Manfaatkan Ekonomi Final Piala Dunia 2026

Ringkasan

  • Wakil Ketua Komisi VII DPR Lamhot Sinaga meminta pemerintah daerah dan pelaku UMKM bersinergi memanfaatkan antusiasme final Piala Dunia 2026 Argentina vs Spanyol untuk mendorong perputaran ekonomi lokal melalui kegiatan nobar dan festival kreatif.

Wakil Ketua Komisi VII DPR RI Lamhot Sinaga mengeluarkan seruan agar pemerintah daerah dan pelaku usaha mikro, kecil, serta menengah (UMKM) tidak melewatkan momentum ekonomi yang tercipta seiring digelarnya final Piala Dunia 2026. Menurutnya, laga puncak yang mempertemukan Argentina dan Spanyol diyakini akan memicu lonjakan aktivitas masyarakat yang berpotensi menjadi katalisator pertumbuhan ekonomi di tingkat akar rumput.

Atmosfer Piala Dunia selama ini telah terbukti menciptakan ruang ekonomi baru di berbagai wilayah. Pedagang makanan dan minuman, penjual atribut sepak bola, jasa percetakan, penyedia dekorasi, hingga pelaku industri kreatif mencatat peningkatan pendapatan seiring maraknya kegiatan nonton bareng (nobar) di tempat-tempat umum. Lamhot menyebut fenomena ini sebagai efek domino positif yang harus didorong secara terstruktur.

Indonesia dikenal sebagai salah satu negara dengan basis penggemar sepak bola terbesar di dunia. Setiap kali turnamen bergengsi bergulir, ribuan titik nobar muncul secara spontan di perkotaan hingga pelosok desa. Kehadiran siaran gratis melalui TVRI memperluas jangkauan penayangan, memungkinkan masyarakat dari semua lapisan ekonomi menikmati pertandingan tanpa beban biaya langganan TV berbayar.

Akses siaran yang merata ini justru menjadi kunci penyebaran manfaat ekonomi ke lapisan terluar. Aktivitas belanja makanan, minuman, dan merchandise tidak lagi terpusat di mal atau kafe besar, melainkan meresap ke warung-warung kecil, alun-alun desa, dan pusat-pusat UMKM yang kerap terpinggirkan dari alur ekonomi formal.

Sektor kuliner menjadi pelopor penyerap tenaga kerja dan pendapatan instan selama turnamen. Data empiris dari edisi sebelumnya menunjukkan peningkatan omzet hingga 30 hingga 40 persen bagi pedagang di radius 500 meter lokasi nobar. Di sisi lain, industri fesyen olahraga dan percetakan kaos custom juga mengalami lonjakan permintaan drastis menjelang babak knockout.

Ekonomi kreatif turut berperan signifikan. Desainer grafis lokal, kreator konten media sosial, hingga penata acara komunitas menemukan peluang kolaborasi dengan brand UMKM yang ingin memanfaatkan momentum sepak bola untuk pemasaran produk. Sinergi ini melahirkan model bisnis hybrid yang menggabungkan hiburan, komunitas, dan perdagangan.

Lamhot menekankan agar momentum ini tidak berhenti pada hiburan semata. Ia mengajak pemda mengadakan festival kuliner berbasis lokal, bazar UMKM tematik, hingga promosi produk unggulan daerah di area nobar resmi. Strategi ini diharapkan mengubah euforia sesaat menjadi daya tarik ekonomi yang berkelanjutan bagi produk-produk lokal.

"Kalau dikelola dengan baik, sepak bola tidak hanya menghasilkan euforia, tetapi juga menghadirkan manfaat ekonomi nyata," ujar Lamhot di Jakarta, Kamis. Ia menambahkan bahwa ruang promosi produk lokal melalui acara-acara berbasis komunitas jauh lebih efektif dan hemat biaya dibanding iklan konvensional.

Komisi VII sebelumnya telah mendorong siaran Piala Dunia di TVRI sebagai instrumen pemerataan ekonomi. Kebijakan ini terbukti mempercepat perputaran uang di daerah karena mengurangi biaya tontonan masyarakat, sehingga dana yang tersisa dialokasikan untuk konsumsi di sekitar lokasi nobar.

Ke depan, tantangan utama terletak pada kapasitas manajemen pemda dan kesiapan UMKM mengubah momentum musiman menjadi pertumbuhan struktural. Diperlukan kurikulum pendampingan bisnis, akses modal kerja, serta infrastruktur digital agar pelaku UMKM mampu mengonversi lonjakan permintaan saat turnamen menjadi basis pelanggan jangka panjang.

Tren digitalisasi UMKM yang dipercepat pandemi seharusnya dijadikan modal. Platform e-commerce dan media sosial memungkinkan produk lokal yang dipromosikan di nobar fisik terus dijual secara online pasca-turnamen. Integrasi offline-online inilah yang akan menentukan apakah ekonomi Piala Dunia 2026 hanya gemericik sesaat atau menanam akar bagi ekosistem UMKM Indonesia.

Mengapa Ini Penting

Artikel ini mengungkap bagaimana acara olahraga global berfungsi sebagai stimulus ekonomi alami bagi jutaan UMKM Indonesia yang kerap kesulitan akses pasar. Lebih dari sekadar hiburan, final Piala Dunia menciptakan jaringan distribusi instan melalui nobar yang menjangkau desa-desa terpencil. Jika pemerintah daerah mampu mengubah momentum ini menjadi program pemberdayaan terstruktur — bukan hanya mengizinkan kegiatan spontan — maka Indonesia memiliki blueprint replikasi untuk event-event besar mendatang seperti Asian Games atau Piala Asia. Kunci keberhasilan terletak pada integrasi data UMKM, kurasi produk lokal, dan pembangunan ekosistem digital pasca-event agar lonjakan penjualan tidak mati begitu piala digenggam pemenang.

Sumber Asli
Antara News Terkini
Tanggal
16 Juli 2026
Waktu Baca
4 menit