Internasional

Konflik AS-Iran tak Halangi Irak Ekspor 30 Juta Barel via Selat Hormuz

Ringkasan

  • Irak masih mampu mengekspor lebih dari 30 juta barel minyak mentah melalui Selat Hormuz pada Juli meski kawasan itu dilanda perang AS-Iran dan ancaman penutupan jalur pelayaran.

Ketegangan geopolitik di kawasan Teluk belum mampu menghentikan laju ekspor minyak mentah Irak. Meski Selat Hormuz menjadi medan perseteruan antara Amerika Serikat dan Iran, Baghdad tercatat masih mengirimkan sekitar 30 juta barel minyak melalui jalur perairan paling vital di dunia itu sepanjang Juli lalu.

Berdasarkan data yang dihimpun dari perusahaan pemasaran minyak negara Irak, SOMO, volume ekspor yang melewati Selat Hormuz pada periode 4 Juli hingga 4 Agustus mencapai angka 30 juta barel lebih. Jumlah ini memang menurun drastis bila dibandingkan dengan rata-rata ekspor bulanan Irak sebelum perang pecah, yang biasa menembus 105 juta barel.

Sebagian besar minyak tersebut berasal dari terminal-terminal selatan Irak yang berlokasi di dekat Basra. Terminal ini selama ini menjadi andalan utama ekspor Irak karena aksesnya yang langsung ke perairan Teluk.

Kepala SOMO, Ali Nizar, memperkirakan total minyak mentah yang melintasi Selat Hormuz pada Juli mencapai 35,5 juta hingga 37 juta barel. Di luar itu, Irak juga mengalirkan sekitar 7 juta barel melalui jalur pipa Irak-Turkiye menuju pelabuhan Ceyhan. Sebagian kecil lainnya diangkut menggunakan truk tangki melewati wilayah Suriah.

Penutupan Selat Hormuz oleh Iran dan blokade yang dilakukan AS sebenarnya menjadi momok bagi negara-negara pengekspor minyak di kawasan. Namun, Irak menunjukkan daya tahan yang tak terduga. Negeri yang berbatasan langsung dengan Iran ini tetap mampu mempertahankan jalur ekspornya meski berada di tengah pusaran konflik.

Kondisi ini menjadi ironi tersendiri. Di satu sisi, Iran menutup selat tersebut sebagai bentuk perlawanan terhadap AS. Di sisi lain, Irak yang notabene bertetangga dengan Iran justru masih leluasa mengirimkan minyaknya melewati jalur yang sama.

Situasi ini menarik untuk dicermati dari perspektif Indonesia. Sebagai negara pengimpor minyak mentah, setiap gangguan pada jalur pasokan global akan berdampak langsung pada harga energi di dalam negeri. Ketika Selat Hormuz bermasalah, harga minyak mentah dunia biasanya langsung meroket, dan Indonesia pun ikut merasakan dampaknya melalui kenaikan harga BBM dan tarif listrik.

Namun, fakta bahwa Irak masih bisa mengekspor dalam jumlah signifikan memberikan sedikit ruang bernapas bagi pasar minyak global. Pasokan yang tetap mengalir dari Irak membantu menahan laju kenaikan harga yang lebih ekstrem.

Bagi Indonesia, stabilitas pasokan minyak dari kawasan Teluk tetap menjadi perhatian serius. Meski pemerintah terus mendorong diversifikasi sumber impor, ketergantungan pada minyak dari Timur Tengah masih cukup tinggi. Setiap gejolak di kawasan ini selalu berpotensi mengganggu ketahanan energi nasional.

Sementara itu, Iran dan Oman dikabarkan tengah membahas masa depan Selat Hormuz. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menyatakan negosiasi dengan Muscat telah memasuki tahap akhir. Pembahasan ini dinilai krusial karena menyangkut kelangsungan rute pelayaran minyak global yang menjadi urat nadi perekonomian dunia.

Jika kesepakatan antara Iran dan Oman tercapai, bukan tidak mungkin Selat Hormuz akan kembali normal dalam waktu dekat. Namun, ketidakpastian politik di kawasan masih menjadi variabel yang sulit diprediksi. Konflik AS-Iran yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda bisa sewaktu-waktu mengubah peta situasi.

Ke depan, Irak tampaknya akan terus mengandalkan kombinasi jalur ekspor yang ada, baik melalui selat maupun pipa darat. Rencana pembangunan pipa baru menuju pelabuhan Baniyas di Suriah yang masih dalam tahap studi bisa menjadi alternatif jangka panjang untuk mengurangi ketergantungan pada Selat Hormuz.

Bagi pasar global, ketahanan Irak ini menjadi sinyal bahwa pasokan minyak belum sepenuhnya terancam. Namun, situasi tetap rapuh. Indonesia perlu terus waspada dan memperkuat cadangan strategisnya agar tidak terlalu rentan terhadap gejolak geopolitik di kawasan Teluk.

Mengapa Ini Penting

Berita ini penting bagi Indonesia karena Selat Hormuz merupakan jalur transit sekitar 20 persen pasokan minyak dunia. Meski Irak masih bisa mengekspor, ketidakstabilan di kawasan Teluk tetap menjadi ancaman nyata bagi ketahanan energi nasional. Indonesia yang masih mengimpor minyak dalam jumlah besar akan merasakan dampak langsung jika konflik meluas. Kemampuan Irak mempertahankan ekspor memberi sedikit ruang bagi pasar, tetapi situasi tetap rapuh dan bisa berubah sewaktu-waktu. Pemerintah Indonesia perlu menjadikan momen ini sebagai pengingat untuk mempercepat transisi energi dan memperkuat cadangan strategis.

Sumber Asli
CNN Indonesia Internasional
Tanggal
5 Agustus 2026
Waktu Baca
4 menit