Memasuki hari ke-121 konflik, ketegangan di Timur Tengah mencapai titik didih baru setelah Amerika Serikat melancarkan serangan udara ke wilayah Iran untuk hari kedua berturut-turut. Operasi militer AS menyasar titik strategis di Sirik, Bandar-e Lengeh, dan Pulau Qeshm, sebagai respons atas serangan pesawat nirawak terhadap sebuah kapal komersial di dekat Selat Hormuz. Aksi militer ini memperluas cakupan konflik yang kini mengancam stabilitas jalur perdagangan minyak global.
Sebagai balasan atas serangan tersebut, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran mengklaim telah meluncurkan serangkaian rudal balistik dan pesawat nirawak yang menargetkan Pangkalan Udara Ali Al Salem di Kuwait dan markas Armada Kelima AS di Bahrain. Eskalasi ini memicu kepanikan di kedua negara tersebut; Bahrain membunyikan sirine peringatan serangan udara, sementara Kuwait mengaktifkan sistem pertahanan udara guna menangkal ancaman rudal dan drone yang masuk ke wilayah kedaulatan mereka.
Analis politik berbasis di Teheran, Abas Aslani, menegaskan bahwa Iran memandang Selat Hormuz sebagai instrumen daya tawar strategis untuk mencegah agresi lebih lanjut dari pihak asing. Menurutnya, Iran tidak akan mentoleransi upaya paksa untuk mengubah status quo di kawasan tersebut. Posisi ini memperjelas bahwa Iran siap melakukan eskalasi jika tekanan militer dari Amerika Serikat terus berlanjut di wilayah pesisir mereka.
Di Washington, Presiden Donald Trump memberikan peringatan keras, menyatakan bahwa AS mungkin akan mengambil langkah lebih tegas jika Iran tidak menghentikan serangannya. Pernyataan ini menimbulkan kekhawatiran di kalangan pengamat internasional mengenai potensi perang terbuka yang lebih besar. Di sisi lain, anggota Kongres AS dari Partai Demokrat, Ro Khanna, mengkritik keras tindakan tersebut sebagai pelanggaran terhadap Resolusi Kekuatan Perang (War Powers Resolution) dan mengancam akan membawa masalah ini ke ranah hukum.
Situasi semakin rumit dengan adanya keterlibatan pihak lain di kawasan. Negara-negara Teluk seperti Oman, Qatar, dan Uni Emirat Arab kompak mengecam serangan Iran terhadap Bahrain dan menyatakan solidaritas penuh terhadap keamanan regional. Sementara itu, Israel memanfaatkan situasi dengan melakukan serangan baru di Lebanon selatan, meskipun sehari sebelumnya sempat tercapai kesepakatan kerangka kerja untuk mengakhiri permusuhan di wilayah tersebut.
Para ahli militer, termasuk pensiunan perwira angkatan laut AS, Harlan Ullman, memperingatkan bahwa pola serangan 'saling balas' ini sangat berisiko lepas kendali. Lonjakan harga minyak dunia diprediksi akan menjadi konsekuensi langsung dari ketidakstabilan ini, yang pada akhirnya dapat menekan pemerintah AS untuk kembali ke meja perundingan guna meredam eskalasi lebih lanjut sebelum krisis ekonomi global terjadi.