Internasional

Iran Serang Kuwait dan Bahrain sebagai Balasan atas Serangan Militer Amerika Serikat

Iran Serang Kuwait dan Bahrain sebagai Balasan atas Serangan Militer Amerika Serikat

Ringkasan

  • Ketegangan Timur Tengah meningkat setelah Iran menyerang pangkalan AS di Kuwait dan Bahrain sebagai balasan atas serangan militer Amerika Serikat di Selat Hormuz.

Ketegangan di kawasan Timur Tengah kembali memuncak setelah Iran melancarkan serangan balasan terhadap Kuwait dan Bahrain. Aksi militer ini dilakukan sebagai respons atas serangan Amerika Serikat yang menyasar lima target militer Iran. Eskalasi ini secara langsung mengancam keberlangsungan gencatan senjata yang sebelumnya telah disepakati oleh kedua belah pihak pada awal bulan Juni ini.

Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) secara resmi mengonfirmasi keterlibatan mereka dalam serangan tersebut pada hari Minggu. Pihak Iran menyatakan telah mengerahkan rudal balistik serta drone tempur yang ditujukan ke Pangkalan Udara Ali Al Salem di Kuwait, serta menyasar Armada Kelima Angkatan Laut Amerika Serikat yang berpangkalan di Port Salman, Bahrain.

Menanggapi serangan tersebut, pemerintah Bahrain mengeluarkan pernyataan keras yang mengecam tindakan Iran. Menurut Bahrain, serangan ini merupakan pelanggaran nyata terhadap kedaulatan negara dan merusak peluang stabilitas serta de-eskalasi di kawasan. Hal senada diungkapkan oleh Kuwait yang menyebut tindakan Iran sebagai agresi keji yang berulang dan pelanggaran mencolok terhadap kedaulatan wilayahnya.

Sebelumnya, militer Amerika Serikat melalui Komando Pusat (CENTCOM) telah meluncurkan serangan udara dan laut pada Sabtu malam. Operasi militer tersebut menyasar 10 target militer Iran di sekitar Selat Hormuz, termasuk Sirik, Bandar-e Lengeh, dan Pulau Qeshm. Pentagon menyatakan bahwa aksi ini merupakan pembalasan atas serangan drone Iran terhadap kapal tanker minyak Kiku yang berbendera Panama.

Situasi di Selat Hormuz semakin tidak menentu setelah serangkaian insiden yang melibatkan kapal-kapal komersial. Selain tanker Kiku, kapal kontainer Ever Lovely yang terdaftar di Singapura juga dilaporkan terkena serangan drone pada hari Kamis. Insiden ini memaksa Organisasi Maritim Internasional (IMO) menangguhkan rencana evakuasi kapal-kapal yang terdampar di jalur strategis tersebut demi alasan keamanan.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump memberikan peringatan keras melalui media sosial, menyatakan bahwa Teheran telah melanggar perjanjian gencatan senjata yang ditandatangani pada 17 Juni. Trump menegaskan bahwa jika Iran terus melakukan provokasi, Amerika Serikat tidak akan ragu untuk mengambil tindakan militer yang lebih besar. Sementara itu, Kementerian Luar Negeri Iran membantah tuduhan tersebut dan justru menuding Amerika Serikat melanggar nota kesepahaman serta piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa melalui serangan brutal ke fasilitas pengawasan mereka.

Mengapa Ini Penting

Konflik di Selat Hormuz berpotensi mengganggu jalur distribusi energi global yang akan berdampak langsung pada volatilitas harga minyak dan biaya logistik di Indonesia. Ketidakstabilan di kawasan ini menuntut pelaku industri nasional untuk meningkatkan mitigasi risiko rantai pasok dan kewaspadaan terhadap fluktuasi ekonomi makro.

Sumber Asli
Aljazeera
Tanggal
28 Juni 2026
Waktu Baca
3 menit