Joshua Kushner, investor asal Amerika Serikat dan saudara ipar Jared Kushner, memberikan pernyataan pertamanya terkait kontroversi rencana penjualan saham dalam Piala Dunia FIFA. Kushner menyatakan bahwa dirinya dan firma venturnya, Thrive Capital, tidak akan terlibat dalam proyek tersebut jika mengetahui dampak politik yang akan timbul.
"Kami mendukung motivasi FFE, namun kami gagal menilai dinamika politik dalam sepak bola global," ujar Kushner dalam pernyataannya. FFE (FIFA Forward Enterprise) adalah rencana komersial yang bertujuan membawa investasi swasta ke dalam acara-acara FIFA termasuk Piala Dunia dengan menjual saham pada anak perusahaan baru bernilai $20 miliar.
FIFA sebelumnya menyatakan bahwa proposal ini dapat memberikan dana sebesar $4,2 miliar bagi negara-negara yang kurang mampu dalam pengembangan sepak bola. Namun, kritik mulai muncul ketika para pemimpin federasi sepak bola Eropa mencurigai adanya transaksi yang dilakukan secara tertutup.
UEFA, salah satu organisasi paling berpengaruh dalam sepak bola dunia, dengan memimpin oleh Aleksander Ceferin, menyebut rencana ini sebagai "transaksi yang mencurigakan dan tidak transparan." UEFA bahkan mengancam akan mengusung kasus hukum terhadap Presiden FIFA Gianni Infantino di pengadilan Swiss.
Kushner menjelaskan bahwa semangat awal dari FFE adalah untuk mendistribusikan dana secara adil ke seluruh 211 anggota federasi sepak bola di dunia. "Kami ingin memastikan bahwa setiap negara mendapatkan kesempatan yang adil untuk berkembang," katanya. Namun, reaksinya menunjukkan bahwa ia tidak menyadari betapa sensitifnya isu ini di kalangan pemerhati sepak bola global.
Sementara itu, laporan media AS menunjukkan bahwa Kushner dan perusahaannya mungkin akan mendapatkan subpoena dari pengadilan New York. UEFA dilaporkan telah meminta hukum untuk memaksa Kushner dan Thrive Capital untuk memberikan dokumen serta memberikan deposisi terkait kasus ini.
Meskipun demikian, sumber mengatakan bahwa Kushner dan Thrive Capital tidak diharapkan menjadi tersangka dalam kasus hukum UEFA. Mereka juga belum dituduh melakukan kesalahan apa pun secara resmi.
Dari sudut pandang Indonesia, isu ini relevan karena sepak bola selalu menjadi sorotan publik. Banyak pihak yakin bahwa model investasi seperti ini bisa menjadi solusi bagi federasi sepak bola yang kurang dana, seperti di banyak negara berkembang termasuk Indonesia. Namun, kekhawatiran akan transparansi dan kepentingan investor asing justru menjadi poin krusial yang perlu dipertimbangkan.
Analis sepak bola lokal menilai bahwa skema serupa pernah diusulkan sebelumnya, tetapi selalu menemui kendala akibat kurangnya dukungan dari pemangku kepentingan utama. Dengan demikian, keterlibatan Kushner dan perusahaannya justru menjadi simbol perdebatan yang lebih luas tentang peran pasar dalam olahraga global.
"Kami konsisten menjadi mitra bagi semua pihak yang terlibat," tambah Kushner. Ia juga dikenal sebagai salah satu investor kunci dalam akuisisi Los Angeles Lakers senilai $12,5 miliar, yang merupakan salah satu tim paling sukses dalam sejarah NBA.
Sebagai gambaran, rencana FFE sempat menimbulkan harapan akan dana tambahan bagi federasi sepak bola yang minim sumber daya. Namun, penolakan masif dari UEFA dan kritik publik akhirnya membuat FIFA menarik proposal tersebut.
Infantino, yang telah lama menduduki posisi pimpinan FIFA, kini menghadapi tekanan yang semakin besar. Jika UEFA berhasil mengajukan laporan kepolisian, hal ini bisa berdampak besar pada struktur kepemimpinan dan arah kebijakan FIFA di masa depan.
Sementara itu, Kushner menegaskan bahwa dirinya tetap yakin pada pentingnya inovasi dalam sepak bola. "Kami percaya bahwa ada cara yang benar untuk membawa modal ke dalam dunia sepak bola," ujurnya. Namun, ia juga mengakui bahwa komunikasi dan keterlibatan pemangku kepentingan harus dilakukan sejak awal.
Langkah selanjutnya dari kasus ini akan menentukan bagaimana dunia sepak bola menangani isu investasi dan transparansi di era globalisasi. Apakah model baru bisa diterima, atau justru semakin mengukuhkan prinsip-prinsip demokrasi dalam olahraga, masih menjadi pertanyaan yang terbuka.
Bagi penggemar sepak bola di Indonesia, kasus ini juga mengingatkan pentingnya partisipasi publik dan transparansi dalam pengambilan keputusan yang bisa memengaruhi seluruh ekosistem sepak bola nasional maupun internasional.