Kementerian Kesehatan Lebanon secara resmi merilis data terbaru mengenai dampak kemanusiaan akibat eskalasi agresi militer Israel di wilayahnya. Hingga laporan ini diterbitkan, angka kematian telah mencapai 4.301 jiwa, sementara jumlah warga yang mengalami luka-luka tercatat sebanyak 12.199 orang. Data tersebut mencakup periode sejak dimulainya eskalasi intensif pada 2 Maret 2026.
Selain peningkatan angka korban jiwa yang signifikan, situasi keamanan di lapangan terus memburuk dengan adanya serangan udara yang menyasar berbagai titik di Lebanon. Laporan dari Kantor Berita Nasional Lebanon mengonfirmasi adanya serangan drone di Kota Nabatieh al-Fawqa. Dalam insiden tersebut, pesawat nirawak militer Israel dilaporkan menjatuhkan granat kejut ke arah pemukiman warga.
Serangan di Nabatieh al-Fawqa berlangsung dalam dua tahap. Lima menit setelah serangan pertama, drone tersebut kembali menjatuhkan granat kejut kedua di lokasi yang sama. Taktik serangan berulang ini menimbulkan ketakutan mendalam di kalangan warga sipil yang masih bertahan di wilayah tersebut, karena sering kali menargetkan lokasi yang sama untuk memastikan dampak yang lebih luas.
Ketegangan juga meningkat di wilayah Distrik Tyre, tepatnya di Kota Siddiqine. Sebuah kendaraan sipil dilaporkan menjadi target serangan drone Israel. Serangan tersebut tidak hanya terjadi satu kali, melainkan diikuti oleh serangan lanjutan yang mengakibatkan dua orang warga mengalami luka-luka akibat hantaman proyektil.
Situasi di Lebanon Selatan kini berada dalam kondisi yang sangat kritis dengan intensitas serangan yang terus berlanjut tanpa jeda. Upaya diplomatik untuk meredam konflik sejauh ini masih menghadapi tantangan besar, sementara suara-suara dari otoritas Lebanon menyatakan bahwa kesepakatan apa pun dengan pihak Israel tidak boleh melegitimasi pendudukan wilayah kedaulatan mereka.
Kondisi kemanusiaan yang memburuk ini memicu perhatian internasional terhadap perlindungan warga sipil di zona konflik. Komunitas global terus mendesak adanya gencatan senjata segera untuk menghentikan jatuhnya lebih banyak korban jiwa dan mencegah kerusakan infrastruktur yang lebih parah di Lebanon, di tengah ketidakpastian keamanan regional yang kian mengkhawatirkan.