Otoritas kesehatan Republik Demokratik (RD) Kongo secara resmi mengonfirmasi bahwa angka kematian akibat wabah Ebola terbaru di negara tersebut telah melampaui 500 jiwa. Berdasarkan laporan yang dirilis pada Minggu (5/7), situasi kesehatan masyarakat di wilayah tersebut kini berada dalam kondisi yang sangat mengkhawatirkan dengan penyebaran virus yang terus meluas.
Data statistik terbaru menunjukkan bahwa RD Kongo telah mencatat sebanyak 1.561 kasus terkonfirmasi. Dari jumlah tersebut, 506 pasien dinyatakan meninggal dunia, sementara 254 orang berhasil sembuh. Saat ini, sebanyak 628 pasien masih berada dalam pengawasan ketat serta menjalani isolasi dan perawatan intensif di rumah sakit rujukan guna memutus rantai penularan.
Selain kasus yang terkonfirmasi, otoritas setempat juga sedang memantau 354 kasus suspek yang menunjukkan gejala klinis serupa. Dari jumlah suspek tersebut, tercatat 110 kematian tambahan yang sedang dalam proses investigasi medis lebih lanjut. Hal ini menunjukkan bahwa beban penanganan wabah di lapangan masih sangat berat bagi tenaga medis.
Wabah ini dilaporkan telah berdampak luas di 36 zona kesehatan yang tersebar di tiga provinsi. Peningkatan kasus mingguan yang drastis, terutama pada pekan epidemiologi ke-25 dan ke-26, menjadi indikator kuat bahwa penularan di tingkat komunitas masih berlangsung secara masif dan sulit dikendalikan meski upaya pencegahan terus dilakukan.
Menanggapi situasi darurat ini, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah mengambil langkah strategis dengan memulai uji klinis pengobatan potensial. Fokus utama dari uji coba ini adalah menangani varian virus Ebola Bundibugyo, yang hingga saat ini belum memiliki vaksin atau protokol pengobatan spesifik yang disetujui secara global.
Proses rekrutmen pasien untuk uji klinis tersebut telah dimulai di pusat perawatan Ebola CME yang terletak di zona kesehatan Rwampara, Provinsi Ituri. Wilayah ini diidentifikasi sebagai episentrum atau titik pusat persebaran wabah, sehingga menjadi lokasi prioritas bagi intervensi medis internasional guna menekan angka kematian yang terus melonjak.