Seoul, Korea Selatan mengeluarkan peringatan darurat gelombang panas pertama kali pada Minggu (12 Juli) di bawah sistem peringatan baru yang diluncurkan tahun ini. Badan Meteorologi Korea (KMA) menetapkan status darurat untuk dua kota di provinsi Gyeongsang Utara bagian selatan, yakni Gyeongsan dan Pohang, pada pukul 10 pagi waktu setempat. Kepala KMA Lee Mi-seon menyatakan bahwa ini merupakan pertama kalinya peringatan darurat dikeluarkan sejak mekanisme tersebut efektif berlaku, menandai babak baru dalam mitigasi bencana iklim negara tersebut.
Sistem peringatan darurat diperkenalkan sebagai respons langsung terhadap peningkatan frekuensi, durasi, dan intensitas gelombang panas di Korea Selatan selama beberapa dekade terakhir. Menurut pejabat setempat, kriteria darurat dipicu ketika wilayah yang mengalami gelombang panas diprakirakan mencapai suhu terasa (perceived temperature) 38 derajat Celsius atau suhu aktual 39 derajat Celsius selama satu hari. Sistem ini melengkapi peringatan biasa yang berlaku jika suhu terasa diprediksi bertahan di level 35 derajat Celsius atau lebih tinggi selama dua hari berturut-turut, dengan mempertimbangkan variabel kelembapan udara.
Lee Mi-seon menekankan bahwa peringatan darurat tidak sekadar menunjukkan cuaca sedang sangat panas, melainkan mengindikasikan kondisi di mana masyarakat yang sehat sekalipun menghadapi risiko signifikan mengalami kerusakan serius seperti penyakit akibat panas hingga kematian. Oleh karena itu, seluruh aktivitas luar ruangan harus dihentikan seketika dan warga diminta berpindah ke tempat yang sejuk. Tambahannya, tidak ada seorang pun termasuk anak-anak atau hewan peliharaan yang boleh dibiarkan di dalam kendaraan tertutup untuk mencegah tragedi yang mudah dicegah.
Sepanjang akhir pekan, area yang terdampak menembus kriteria darurat tersebut. Sementara itu, sebagian besar wilayah negara termasuk bagian dari ibu kota Seoul masih berada di bawah peringatan gelombang panas biasa. Data KMA memperlihatkan rata-rata jumlah hari gelombang panas per tahun telah lebih dari dua kali lipat menjadi 19 hari dalam lima tahun terakhir, dibandingkan hanya 8 hari pada era 1970-an. Jumlah malam tropis, yakni ketika suhu minimum malam tetap di atas 25 derajat Celsius, juga melonjak dari 4 menjadi 14 per tahun dalam periode yang sama.
Fenomena ekstrem di Asia Timur ini selaras dengan situasi di Eropa yang menghadapi musim panas membara setelah gelombang panas Juni memecahkan rekor suhu di berbagai negara. Para ilmuwan mengingatkan bahwa peristiwa cuaca ekstrem seperti gelombang panas semakin sering dan intensif akibat perubahan iklim yang dipicu oleh aktivitas manusia. Di Prancis, lebih dari 2.000 kematian berlebih tercatat selama gelombang panas Juni, dan 300 lainnya pada akhir Mei, menurut angka resmi.
Dampak operasional pun terasa di benua Eropa. Tengara seperti Menara Eiffel dan landmark Paris lainnya ditutup lebih awal pada akhir pekan, sementara balap sepeda Tour de France memendekkan satu etape untuk pertama kalinya dalam sejarah. Rekor suhu sepanjang masa pecah di Jerman, Polandia, Republik Ceko, Slovakia, dan Hungaria, serta rekor bulan Juni di Inggris dan Swiss. Lautan mengalami Juni terpanas dalam catatan, menurut Copernicus Marine Service Uni Eropa, yang berpotensi memicu badai tropis lebih kuat dan hujan lebat akibat peningkatan moisture.
Menambah kompleksitas, fenomena alam El Nino kembali tahun ini, memanas permukaan Samudra Pasifik dan biasanya terjadi setiap dua hingga tujuh tahun. Kombinasi pemanasan global dan El Nino diperkirakan akan memperparah gelombang panas di belahan dunia termasuk Asia Timur. Hal ini mendorong negara-negara untuk berinvestasi pada sistem peringatan dini berbasis data dan teknologi observasi cuaca yang lebih akurat guna melindungi populasi rentan.
Sebagai negara tropis yang juga rentan terhadap El Nino dan peningkatan suhu rata-rata, Indonesia perlu mempertimbangkan adopsi sistem peringkat bahaya panas yang serupa. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah memiliki protokol peringatan dini cuaca, namun integrasi indeks suhu terasa dan klasifikasi darurat dapat menyelamatkan nyawa, terutama bagi pekerja luar ruangan dan masyarakat perkotaan miskin. Teknologi sensor iklim dan analitik prediktif menjadi krusial dalam mitigasi bencana yang sifatnya lambat namun mematikan ini.
Pengembangan sistem peringatan berbasis kecerdasan buatan (AI) dan Internet of Things (IoT) dapat membantu memantau mikroklimat di kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, atau Bandung. Dengan memanfaatkan data satelit dan stasiun cuaca lokal, otoritas dapat mengeluarkan instruksi real-time kepada warga melalui aplikasi seluler dan sirine pintar. Kolaborasi lintas sektor antara pemerintah, startup teknologi, dan komunitas ilmiah menjadi kunci agar respons terhadap krisis iklim lebih tangkas dan terukur.
Pengalaman Korea Selatan menunjukkan bahwa adaptasi kebijakan terhadap realitas iklim baru adalah keharusan, bukan sekadar pilihan. Negara-negara di Asia Tenggara, termasuk Indonesia, dapat meninjau ulang protokol kesehatan publik dan infrastruktur tahan panas seperti ruang sejuk publik. Tanpa tindakan preventif yang didukung ilmu pengetahuan dan teknologi, gelombang panas ekstrem berpotensi menimbulkan beban ekonomi dan kemanusiaan yang masif di masa depan.