Menteri luar negeri negara-negara ASEAN berkumpul di Manila pekan ini untuk membahas sejumlah krisis regional, mulai dari ketahanan energi dan pangan, situasi Myanmar, hingga ketegangan di Laut Cina Selatan. Pertemuan tersebut berlangsung di tengah tekanan global yang semakin kompleks setelah konflik Timur Tengah mengganggu rantai pasok energi dan pupuk dunia.
Forum tahunan ini menjadi ajang penguji komitmen blok Asia Tenggara dalam merespons tantangan yang sudah membara sepanjang 2024. Filipina selaku tuan rumah menyiapkan agenda yang padat, termasuk konsultasi dengan mitra dialog seperti Amerika Serikat, China, Rusia, Jepang, Australia, Kanada, dan Britania Raya. Kehadiran Menlu Wang Yi, Sergei Lavrov, dan Marco Rubio di Manila memperlihatkan betapa tinggi nilai strategis perbincangan kawasan ini di mata kekuatan besar.
Isu ketahanan energi mencuat setelah KTT ASEAN di Cebu pada Mei lalu. Saat itu, perang di Timur Tengah memicu kelangkaan bahan bakar, lonjakan harga minyak, dan gangguan rute perdagangan global. Dua bulan berselang, analis menilai Asia Tenggara relatif lebih tangguh dibanding banyak kawasan lain karena berhasil mendiversifikasi mitra energi dan memangkas ketergantungan pada satu pemasok.
Sharon Seah dari ISEAS – Yusof Ishak Institute menyatakan langkah jangka pendek tersebut belum cukup menjamin keamanan energi jangka panjang. Penyelesaian sesungguhnya, menurutnya, terletak pada pengurangan dependensi terhadap fosil melalui percepatan transisi energi terbarukan. Ia mendorong operasionalisasi ASEAN Power Grid agar listrik bisa dibagi lintas batas negara anggota.
Proyek jaringan listrik regional itu menuntut pembangunan infrastruktur transmisi, modernisasi grid, investasi teknologi baterai, serta penyelarasan regulasi antarnegara. Tanpa itu, transisi energi di Asia Tenggara bakal berjalan lambat dan rentan terhadap guncangan eksternal. Bagi Indonesia, isu ini krusial karena negara masih mengandalkan batu bara namun punya potensi surya dan geotermal besar yang belum terhubung optimal ke jaringan regional.
Ancaman lain yang lebih pelik adalah pangan. Seah memperingatkan bahwa ketahanan pangan bisa menjadi beban lebih berat ketimbang energi. Perubahan iklim memicu kekeringan, banjir, dan cuaca ekstrem yang merusak produksi pertanian regional. Gangguan Selat Hormuz akibat konflik AS-Iran turut memangkas pasokan pupuk dan mengerek biaya produksi pangan.
Dampak pangan belum terasa sepenuhnya karena negara masih memanfaatkan hasil panen musim lalu dan mengimpor dari pasar lebih luas. Namun, jika mitigasi tak dijalankan, krisis bisa meledak pada periode berikutnya. Indonesia sebagai negara berpenduduk besar sangat terpapar karena sebagian pupuk dan gandum masih diimpor, meski program pangan mandiri terus digenjot.
Situasi Myanmar kembali menghiasi meja diplomasi setelah menteri luar negerinya, Tin Maung Swe, bertemu diplomat ASEAN awal bulan ini di Bangkok. Itu menjadi kontak tatap muka pertama sejak kudeta militer 2021, meski beberapa anggota keberatan. Thailand memfasilitasi pertemuan informal tersebut untuk menjaga saluran dialog mengingat banyaknya pengungsi dan pekerja migran Myanmar di wilayahnya.
Khin Zaw Win dari Tampadipa Institute menilai ASEAN tak mudah tertipu oleh janji junta. Menurutnya, negara anggota sadar bahwa Myanmar menerima Konsensus Lima Poin tetapi tak mengeksekusi apa pun. Larangan bagi pemimpin Min Aung Hlaing dan menteri luar negeri Myanmar ke pertemuan puncak ASEAN tetap berlaku sampai ada kemajuan nyata.
Laut Cina Selatan melengkapi daftar agenda yang memanas. Peringatan 10 tahun putusan arbitrase 2016 yang menolak klaim luas China baru saja lewat, sementara Beijing tetap mengabaikan rulings tersebut. Juru bicara Departemen Luar Negeri Filipina, Dominic Xavier Imperial, menyatakan ASEAN dan China berkomitmen menyelesaikan code of conduct yang substansial dan efektif tahun ini.
Ke depan, ASEAN diprediksi tetap mengambil langkah hati-hati berbasis konsensus. Engangement informal mungkin memberi ruang diplomasi tertutup, tetapi solusi politik Myanmar harus dipimpin rakyatnya sendiri. Untuk energi dan pangan, percepatan kolaborasi lintas batas jadi penentu apakah Asia Tenggara keluar dari ancaman krisis sebagai kawasan yang lebih tangguh.