Pemimpin spiritual komunitas Yahudi Haredi Lithuania, Dov Lando, melontarkan pernyataan kontroversial yang mengguncang lanskap politik Israel. Dalam sebuah rekaman diskusi internal yang bocor ke publik melalui Channel 12, Lando secara terbuka menyatakan bahwa wilayah yang kini menjadi Israel justru akan lebih stabil dan damai jika berada di bawah kepemimpinan Arab. Pernyataan ini muncul di tengah ketegangan domestik yang memuncak terkait kebijakan wajib militer bagi kelompok ultra-ortodoks di tengah agresi militer yang berkepanjangan.
Lando berargumen bahwa keberadaan negara Israel sebagai entitas Zionis justru menjadi akar dari permusuhan yang tak kunjung usai dengan dunia Arab. Ia membayangkan skenario alternatif di mana wilayah tersebut dikelola di bawah naungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) tanpa keberadaan negara Israel yang eksklusif. Baginya, ideologi Zionisme adalah katalis utama yang memicu kebencian mendalam dari bangsa Arab terhadap komunitas Yahudi di wilayah tersebut.
Pandangan radikal ini disampaikan Lando saat ia membimbing para rabbi muda mengenai isu wajib militer. Di tengah kebijakan pemerintahan Benjamin Netanyahu yang kerap menggemakan narasi 'perang tujuh front', tekanan terhadap kelompok Haredi untuk ikut mengangkat senjata semakin masif. Selama ini, kaum Haredi memegang teguh komitmen untuk fokus belajar Taurat dan mengecualikan diri dari kewajiban militer yang dianggap sebagai beban moral dan spiritual.
Ketegangan antara pemerintah Israel dan kelompok Haredi mencapai titik didih ketika banyak tentara cadangan tewas dalam pertempuran di Jalur Gaza. Banyak pemuda Haredi merasa tertekan dan bersalah atas situasi ini, namun Lando justru menepis beban tersebut. Ia menegaskan bahwa kematian para serdadu Israel adalah konsekuensi dari kebijakan pemerintah yang dianggapnya menyimpang dari ajaran agama yang benar.
Menurut Lando, pemerintah Israel saat ini lebih mengedepankan kehormatan negara dan simbolisme nasionalistik dibandingkan keselamatan warga negara itu sendiri. Ia secara implisit menyatakan bahwa keterlibatan militer dalam perang saat ini bukanlah tanggung jawab moral kaum Haredi, melainkan tanggung jawab para pemimpin yang terjebak dalam ambisi politik Zionisme yang keliru.
Komentar Lando mencerminkan keretakan mendalam di dalam struktur sosial Israel. Kelompok Haredi, yang mencakup sekitar 13 persen dari total 10 juta populasi Israel, selama ini memang menjadi entitas yang unik karena ketergantungan mereka pada studi agama dan penolakan terhadap sekularisme. Kritik dari sosok berpengaruh seperti Lando menunjukkan bahwa narasi persatuan nasional yang dipropagandakan Netanyahu mulai mengalami pengikisan dari dalam.
Bagi masyarakat Indonesia, pernyataan ini memberikan perspektif baru mengenai dinamika internal di Israel. Selama ini, publik Indonesia cenderung melihat Israel sebagai entitas monolitik yang bersatu di bawah bendera Zionisme. Namun, suara Lando membuktikan bahwa ada perbedaan ideologis yang tajam di dalam internal masyarakat Yahudi itu sendiri, terutama terkait bagaimana mereka memandang eksistensi negara mereka sendiri di tanah yang penuh konflik.
Analisis ini juga menyoroti bagaimana agama sering kali menjadi instrumen legitimasi bagi kebijakan perang maupun perdamaian. Di Indonesia, di mana moderasi beragama selalu menjadi isu sentral, fenomena di Israel ini menjadi pengingat bahwa fanatisme nasionalisme yang dibungkus identitas keagamaan bisa menciptakan polarisasi yang sangat berbahaya bagi kelangsungan hidup sebuah bangsa.
Lando dengan tegas menyatakan bahwa sejarah hubungan antara orang Arab dan Yahudi tidak pernah seburuk saat ini. Menurutnya, Zionisme telah mengubah dinamika yang dulunya mungkin bisa dikelola dengan pendekatan koeksistensi menjadi permusuhan terbuka yang penuh darah. Ini adalah pukulan telak bagi narasi pemerintah Israel yang selalu mengklaim bahwa peperangan adalah satu-satunya jalan untuk mempertahankan eksistensi.
Langkah selanjutnya bagi pemerintah Israel akan semakin berat. Tekanan dari kelompok Haredi untuk tetap dibebaskan dari wajib militer kini memiliki landasan ideologis yang lebih berani. Jika para pemimpin spiritual Haredi terus menantang legitimasi negara, Netanyahu akan menghadapi krisis internal yang mungkin lebih mengancam stabilitas pemerintahannya dibandingkan ancaman dari luar.
Ke depan, tren perlawanan dari kelompok ultra-ortodoks ini diprediksi akan semakin meningkat seiring dengan bertambahnya jumlah korban jiwa di pihak militer Israel. Ketika narasi 'kehormatan negara' tidak lagi mampu menutupi kerugian manusia yang terus berjatuhan, posisi pemerintah akan semakin terisolasi. Penolakan terhadap wajib militer dari kelompok Haredi bukan sekadar soal malas berperang, melainkan soal penolakan terhadap visi masa depan Israel yang dipaksakan oleh rezim saat ini.
Secara geopolitik, pernyataan tokoh seperti Lando mungkin tidak mengubah kebijakan luar negeri Israel secara instan. Namun, ini adalah retakan simbolis yang signifikan. Ketika pemimpin agama yang paling konservatif sekalipun mulai mempertanyakan keabsahan negara, maka klaim moralitas yang diusung oleh pemerintah Zionis mulai kehilangan pijakan di mata rakyatnya sendiri.