Jakarta, CNN Indonesia -- Awak kapal kontainer berbendera Siprus yang ditembak oleh pasukan Garda Revolusi Iran (IRGC) di Selat Hormuz telah berhasil mengevakuasi diri dan berada dalam kondisi selamat, menurut laporan United Kingdom Maritime Trade Operations (UKMTO) pada Minggu (12/7). Insiden ini menandai eskalasi terbaru dalam serangkaian konfrontasi militer antara Iran dan Amerika Serikat yang berpotensi mengganggu stabilitas pasokan energi global.
Menurut pernyataan UKMTO, kapal tersebut ditembak pada jarak sekitar 17 kilometer di sebelah timur Oman. "UKMTO telah diinformasikan oleh otoritas militer dan CSO kapal bahwa awak kapal telah meninggalkan kapal dan saat ini berada di sekoci penyelamat," kata badan maritim Inggris tersebut. Seluruh kru dilaporkan selamat tanpa korban jiwa, meskipun kondisi kapal dan kargo belum dikonfirmasi secara detail.
Garda Revolusi Iran mengklaim tindakan penembakan tersebut sebagai "tembakan peringatan" setelah kapal container tersebut mengabaikan instruksi berulang kali untuk menggunakan koridor pelayaran yang telah disetujui. Menurut laporan IRNA, IRGC menyatakan kapal itu "terkena tembakan peringatan dan berhenti" setelah dinilai menggunakan jalur yang tidak sah. Namun, penutupan total Selat Hormuz yang diumumkan IRGC sebagai respons pasca-insiden ini mengesalkan komunitas maritim internasional.
"Setelah insiden ini... Selat Hormuz akan ditutup hingga pemberitahuan lebih lanjut dan hingga berakhirnya intervensi Amerika di wilayah ini dan tidak ada kapal yang diizinkan untuk melewatinya," tegas pernyataan Garda Revolusi yang dikutip media staat Iran. Ancaman lebih lanjut pun dilemparkan: IRGC akan menargetkan "pangkalan musuh baru di wilayah tersebut" jika aksi militer baru dilakukan terhadap mereka. Kebijakan blokade total ini melanggar Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Hukum Laut (UNCLOS) 1982 yang menjamin kebebasan pelayaran di selat internasional.
Amerika Serikat merespons dengan cepat dan keras. Komando Pusat AS (CENTCOM) meluncurkan serangan balasan yang menjadi ronde ketiga konflik langsung antara kedua negara, pada Minggu (12/7) pukul 23.15 GMT (sekitar pukul 02.45 dini hari waktu Teheran). Serangan tersebut dilaksanakan atas arahan Presiden Donald Trump, menurut CENTCOM, "setelah pasukan Korps Garda Revolusi Islam secara terang-terangan menyerang" kapal sipil yang melintas di selat strategis tersebut.
"Amerika Serikat memberikan kerugian besar dengan terus melemahkan kemampuan Iran untuk menyerang pelaut sipil dan kapal komersial yang bebas melintasi selat," kata pernyataan CENTCOM. Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth menegaskan posisi keras Washington: "Iran membuat pilihan yang buruk. Sekarang mereka membayar akibatnya." Retorika ini mengindikasikan kebijakan deterrence (pencegahan) AS yang beralih ke posture ofensif-proaktif di wilayah Teluk Persia.
Selat Hormuz merupakan chokepoint (titik kemacetan) paling kritis bagi pasokan minyak dunia. Sekitar 20% hingga 30% konsumsi minyak global melintasi saluran air lebar 39 kilometer ini setiap hari. Penutupan total, bahkan hanya selama beberapa hari, berpotensi mengakibatkan lonjakan harga minyak mentah global, mengganggu rantai pasokan energi, dan memicu tekanan inflasi di negara-negara impor neto seperti Indonesia. Data OPEC menunjukkan sekitar 21 juta barel per hari melewati selat ini pada 2023.
Bagi Indonesia, eskalasi ini menimbulkan risiko ganda. Sebagai negara impor neto minyak dan gas, kenaikan harga energi global akan membebani anggaran negara melalui subsidi BBM dan LPG 3 kg, serta meningkatkan biaya logistik domestik. Sektor pelayaran nasional juga harus berwaspada terhadap premi asuransi war risk yang melonjak dan potensi pengalihan rute yang memperpanjang waktu tempuh dan biaya operasional. Pemerintah melalui Kementerian ESDM dan Kemenhub perlu memantau perkembangan ketat dan menyiapkan kontingensi pasokan serta perlindungan kapal berbendera Indonesia.