Para sekutu NATO secara resmi memamerkan peningkatan anggaran pertahanan melalui penandatanganan kontrak senjata bernilai miliaran dolar dalam KTT yang berlangsung di Ankara, Turki, pada Selasa (7/7). Langkah strategis ini diambil sebagai upaya nyata untuk meredam kekecewaan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, terhadap respons negara-negara Eropa dalam menyikapi konflik dengan Iran.
Pertemuan dua hari yang diselenggarakan di kompleks istana kepresidenan Ankara ini terjadi setahun setelah anggota NATO berkomitmen untuk meningkatkan pengeluaran keamanan hingga lima persen dari PDB. Tekanan keras dari Washington menjadi pemicu utama percepatan investasi militer ini, di mana negara-negara Eropa berusaha membuktikan bahwa mereka mampu memikul beban tanggung jawab pertahanan benua sendiri di tengah ancaman geopolitik yang meningkat.
Sekretaris Jenderal NATO, Mark Rutte, menegaskan bahwa negara-negara Eropa kini telah menunjukkan komitmen nyata melalui penguatan anggaran militer. Dalam forum industri pertahanan yang digelar sebelum KTT utama, NATO mengumumkan serangkaian proyek besar yang mencakup pengadaan pesawat nirawak (drone), armada pengisian bahan bakar, serta pesawat pengintai canggih. Investasi ini tidak hanya bertujuan memperkuat keamanan, tetapi juga diklaim mampu mendorong ekonomi dan menciptakan ratusan ribu lapangan kerja baru.
Namun, ketegangan tetap menyelimuti pertemuan tersebut. Presiden Trump, yang masih merasa kesal atas keputusan beberapa negara Eropa membatasi penggunaan pangkalan militer AS untuk operasi melawan Iran, terus melontarkan kritik pedas. Melalui media sosial Truth Social, Trump menyebut jalur hubungan saat ini tidak timbal balik dan menuding sekutu Eropa tidak memberikan dukungan yang memadai bagi kepentingan Amerika Serikat.
Di sisi lain, para pemimpin Eropa berupaya keras menghindari konfrontasi langsung dengan Trump yang dapat merusak kredibilitas NATO. Diplomat mengandalkan hubungan personal yang baik antara Trump dengan Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan, serta strategi diplomasi persuasif dari Mark Rutte. Meski demikian, dinamika politik yang tidak menentu, ditambah dengan riwayat perselisihan Trump dengan sejumlah pemimpin dunia lainnya, membuat situasi KTT tetap berada dalam ketegangan tinggi.
Sebagai bentuk komitmen nyata terhadap kebijakan AS terkait Iran, aliansi Eropa yang dipimpin oleh Prancis dan Inggris tengah merancang misi angkatan laut di Selat Hormuz. Meski demikian, para pemimpin Eropa masih menantikan kejelasan mengenai kesepakatan AS-Iran sebelum mengerahkan armada mereka secara penuh. Di tengah pergeseran kebijakan AS yang cenderung menarik diri dari aliansi konvensional, negara-negara Eropa kini menghadapi realitas baru untuk segera memandirikan pertahanan mereka sendiri.