Internasional

Kuba Kembali Alami Pemadaman Listrik Nasional untuk Ketiga Kalinya Tahun Ini

Kuba Kembali Alami Pemadaman Listrik Nasional untuk Ketiga Kalinya Tahun Ini

Ringkasan

  • Kuba kembali dilanda pemadaman listrik total secara nasional, menambah beban krisis energi akibat sanksi ekonomi dan infrastruktur yang menua.

Kuba mulai memulihkan aliran listrik secara bertahap pada Selasa (7/7) setelah mengalami pemadaman listrik total di seluruh negeri sejak Senin siang. Insiden ini menandai pemadaman nasional ketiga yang terjadi dalam kurun waktu enam bulan terakhir, memperburuk krisis energi yang telah melanda negara komunis tersebut akibat keterbatasan pasokan bahan bakar.

Perusahaan listrik negara, Union Electrica (UNE), mengumumkan pemutusan total jaringan listrik pada Senin tengah hari tanpa memberikan alasan spesifik. Hingga Selasa pagi, pihak berwenang menyatakan bahwa listrik baru berhasil dipulihkan di sekitar 30 persen wilayah ibu kota Havana, dengan prioritas diberikan kepada 43 fasilitas medis dan sembilan instalasi distribusi air bersih.

Lazaro Guerra, Direktur Listrik di Kementerian Energi dan Tambang Kuba, mengakui bahwa kelangkaan bahan bakar menjadi kendala utama dalam proses pemulihan jaringan. Ia tidak memberikan kepastian kapan sistem kelistrikan nasional akan sepenuhnya kembali normal. Pemadaman ini merupakan insiden kedelapan yang terjadi sejak akhir tahun 2024, mencerminkan kerapuhan infrastruktur energi negara tersebut.

Presiden Kuba, Miguel Diaz-Canel, secara tegas menyalahkan kebijakan sanksi Amerika Serikat atas krisis energi yang terjadi. Menurutnya, upaya AS untuk memblokir akses bahan bakar ke pulau tersebut bertujuan untuk memicu ketidakstabilan sosial. Diaz-Canel memuji dedikasi para pekerja listrik yang berupaya memperbaiki sistem di tengah tekanan ekonomi dan blokade yang ia sebut sebagai genosida energi.

Kondisi masyarakat di lapangan semakin memprihatinkan akibat kebijakan pemadaman bergilir yang semakin sering diterapkan. Di beberapa wilayah Havana, warga harus menanggung pemadaman hingga 30 jam, sementara di daerah pedesaan, durasinya bisa mencapai lebih dari 70 jam. Warga mengeluhkan ketidakpastian ini yang mengganggu aktivitas ekonomi, termasuk sulitnya akses internet dan pekerjaan jarak jauh.

Sistem kelistrikan Kuba saat ini sangat bergantung pada pembangkit listrik era Soviet yang sudah tua dan tidak terawat. Situasi diperparah dengan kebijakan Washington yang membatasi pasokan minyak ke Kuba sejak Januari lalu. Tekanan diplomatik dan ekonomi ini membuat pemerintah Kuba kesulitan mengoperasikan generator yang menjadi penopang utama jaringan listrik nasional, meninggalkan hampir 10 juta penduduk dalam ketidakpastian energi yang berkelanjutan.

Mengapa Ini Penting

Krisis energi di Kuba menyoroti kerentanan ketahanan nasional terhadap sanksi ekonomi dan ketergantungan pada infrastruktur lama. Bagi pembaca di Indonesia, kasus ini menjadi pengingat penting akan urgensi diversifikasi sumber energi dan modernisasi infrastruktur kelistrikan untuk mencegah kelumpuhan aktivitas ekonomi dan digital di masa depan.

Sumber Asli
Channelnewsasia
Tanggal
7 Juli 2026
Waktu Baca
3 menit