Gaya Hidup

Lee Teng Ceritakan Kehilangan Janin di Pandemi, Kini Rayakan Kelahiran Anak Pertama

Ringkasan

  • Pembawa acara Singapura Lee Teng membagikan duka istrinya Gina Lin yang keguguran di usia tujuh bulan selama pandemi COVID-19.
  • Pembatasan perjalanan membuatnya hanya bisa melihat bayi terakhir melalui video call.
  • Kini mereka merayakan kelahiran anak pertama, Ellison.

Lee Teng, pembawa acara terkenal asal Taiwan yang menetap di Singapura, membagikan kisah kelam keluarganya dalam episode perdana dokumenter Mediacorp "Tuesday Report: Gone Before Goodbye". Pria berusia 42 tahun itu menceritakan bagaimana istrinya, Gina Lin, 33, mengalami keguguran pada usia kehamilan tujuh bulan di tengah pandemi COVID-19 pada tahun 2020. Saat itu, Lin sedang berada di kampung halamannya di Taiwan untuk melahirkan dengan bantuan keluarga, sementara Lee masih bekerja di Singapura. Sebuah pesan bahwa detak jantung bayi mereka telah berhenti menjadi pukulan telak bagi Lee. Ia recalls, "Saya benar-benar terkejut. Saya merasa seperti mayat hidup, tapi saya tetap menyelesaikan syuting hari itu. Kalau saya pikir-pikir, saya tidak tahu bagaimana saya bisa melaluinya." Pembatasan perjalanan yang ketat saat itu memaksa Lee menjalani karantina wajib selama dua minggu di Taiwan sebelum bisa menemui Lin. Kesempatan terakhir melihat bayinya hanya bisa dilakukan melalui video call, sebuah penyesalan yang masih membekas: "Saya tidak pernah bisa menggendong atau menyentuhnya secara langsung." Setelah tiba di Taiwan, Lee terpaksa menghentikan pekerjaannya selama tiga bulan demi mendampingi Lin melewati duka. "Saya melewatkan beberapa kesempatan kerja, tapi saya tidak menyesalinya sama sekali. Luka seperti ini tidak sembuh dalam semalam. Hanya waktu yang bisa perlahan-lahan meredakan rasa sakit," ujarnya.

Pasangan ini awalnya enggan membagikan cerita mereka. Selama bertahun-tahun mereka diundang ke berbagai acara untuk berbagi pengalaman, tapi masih dalam proses pemulihan dan merasa belum memiliki kekuatan emosional untuk menghibur orang lain. Baru pada awal tahun 2025 Gina Lin merasa sudah siap membuka diri. "Saya selalu terbuka untuk berbagi kisah kami. Yang terpenting adalah apakah istri saya bersedia," kata Lee dalam wawancara dengan Zaobao.sg. Kesiapan itu mendorong mereka menerima tawaran wawancara untuk dokumenter, dengan harapan kisah mereka bisa memberi kekuatan pada keluarga lain yang mengalami kehilangan serupa.

Kehilangan itu meninggalkan bekas mendalam pada kehidupan mereka berdua. Lee, yang menggambarkan dirinya sebagai orang optimis, fokus sepenuhnya pada pemulihan fisik dan emosi Lin. Ia mendorong istrinya untuk bangkit dan meyakini bahwa anak yang ditakdirkan untuk mereka akan datang pada waktunya. Sikap ini ternyata tidak sia-sia. Pada bulan Juli 2025, Gina Lin melahirkan putra mereka, Ellison. "Ketika saya melihatnya untuk pertama kali, rasanya hampir tidak nyata. Sekarang, setiap hari yang saya habiskan bersamanya adalah sesuatu yang saya hargai mendalam," kenang Lee. Menjadi ayah membawa kelelahan baru, tapi kelelahan itu adalah jenis kelelahan yang ia nikmati. Ellison baru saja merayakan ulang tahun pertamanya pada awal bulan ini, tepat saat Lee membagikan kisah mereka ke publik.

Di Indonesia, isu kehilangan janin dan duka pasca-keguguran masih sering kali tersembunyi di balik budaya yang cenderung diam tentang kematian perinatal. Data Kementerian Kesehatan RI tahun 2023 menunjukkan sekitar 1 dari 1.000 kelahiran hidup berakhir dengan stillbirth, mirip dengan angka di Singapura. Meski demikian, layanan dukungan seperti kelompok dukungan sebaya dan konseling psikologi perinatal mulai berkembang di kota-kota besar. Platform telemedisin kini memungkinkan pasangan yang berduka mengakses psikolog tanpa harus bepergian jauh, sebuah kemajuan yang bisa menjadi pembelajaran bagi negara-negara tetangga. Selain itu, kebijakan cuti melahirkan yang lebih panjang dan jaminan kesehatan mental bagi orang tua baru mulai diterapkan di beberapa perusahaan Indonesia, meskipun masih jauh dari standar ideal.

Kisah Lee Teng tidak hanya menjadi sorotan hiburan, tapi juga cerminan betapa pentingnya dukungan pasangan dan fleksibilitas tempat kerja dalam menghadapi tragedi pribadi. Bagi masyarakat Indonesia, cerita ini bisa menjadi pengingat bahwa kehilangan anak bukan hanya beban emosional, tapi juga berdampak pada karier dan dinamika keluarga. Dengan berbicara terbuka, tokoh publik seperti Lee membantu mengurangi stigma dan mendorong percakapan yang lebih sehat tentang kesehatan reproduksi. Di tengah pandemi yang masih meninggalkan trauma kolektif, narasi seperti ini dapat mendorong pembuat kebijakan untuk memperbaiki layanan kesehatan mental pasca-keguguran dan memastikan bahwa tidak ada orang tua yang harus menghadapi duka sendirian.

Ke depan, dokumenter bertema duka seperti "Tuesday Report: Gone Before Goodbye" bisa menjadi model bagi produksi lokal di Asia Tenggara yang mengangkat isu kesehatan mental dengan pendekatan humanis. Tren storytelling digital memungkinkan keluarga lain untuk berbagi kisah mereka tanpa rasa malu, sementara penelitian tentang dampak pandemi terhadap kehamilan terus berkembang. Harapan Lee dan Gina kini tertuju pada masa depan yang penuh harapan, bahwa setiap hari bersama Ellison adalah kemenangan atas kehilangan yang pernah mereka rasakan. Cerita mereka juga menjadi ajakan bagi industri media di Indonesia untuk lebih banyak menyajikan narasi yang memperkaya kesadaran sosial, bukan sekadar hiburan.

Mengapa Ini Penting

Kisah pribadi Lee Teng membuka jendela tentang dampak pandemi terhadap kesehatan reproduksi yang sering diabaikan. Di Indonesia, di mana layanan dukungan pasca-keguguran masih terbatas, narasi seperti ini dapat mendorong perbaikan sistem kesehatan mental bagi orang tua. Selain itu, cerita ini menyoroti pentingnya fleksibilitas kerja bagi karyawan yang menghadapi kehilangan, sebuah kebijakan yang masih jarang diterapkan di banyak perusahaan Indonesia. Dengan mengurangi stigma dan mendorong percakapan terbuka, kisah ini berpotensi mengubah persepsi masyarakat tentang duka perinatal menjadi isu kesehatan publik yang serius dan perlu ditangani.

Sumber Asli
Channel NewsAsia
Tanggal
15 Juli 2026
Waktu Baca
5 menit