Gaya Hidup

Lima Kesalahan Perawatan Kulit Pria yang Sering Diabaikan Dermatolog

Ringkasan

  • Dermatolog Singapura temukan lima kesalahan perawatan kulit pria, seperti cuci wajah berlebihan, yang merusak kesehatan kulit tropis.

Dua dermatolog di Singapura memaparkan lima kebiasaan perawatan kulit pria yang justru merusak kesehatan kulit, mulai dari mencuci wajah berlebihan hingga mengabaikan perawatan kulit kepala. Temuan ini dirilis pada 16 Juli 2026 sebagai respons atas rendahnya literasi pria soal perawatan diri di negara beriklim tropis.

Mayoritas pria hanya melakukan rutinitas dasar: mencuci wajah, memakai pelembap, dan sesekali tabir surya. Namun kebiasaan sederhana itu sering diselingi praktik yang salah kaprah. Dr Teo Wan Lin, dermatolog sekaligus kepala ilmuwan Dr TWL Asian Skin Research Institute, menuturkan pria memproduksi minyak lebih banyak karena kadar testosteron tinggi. Kondisi itu membuat pori-pori mudah tersumbat dan memicu jerawat serta iritasi.

Dr Stephanie Ho dari Stephanie Ho Dermatology menambahkan bahwa banyak pria memercayai mitos yang tidak benar. Di antaranya keyakinan bahwa kulit berminyak harus dicuci berkali-kali, gaya hidup tak memengaruhi kulit, serta semua perubahan kulit murni akibat penuaan. Padahal kebiasaan tersebut menimbulkan efek jangka panjang yang merugikan.

Kesalahan pertama adalah mencuci wajah terlalu sering. Iklim Singapura yang panas dan lembap membuat wajah cepat berminyak, lalu pria menanggapi dengan mencuci wajah beberapa kali sehari. Dr Ho menjelaskan praktik itu justru merusak lapisan pelindung alami kulit. Kulit menjadi kering, lalu memproduksi minyak lebih banyak sebagai kompensasi. Cukup dua kali sehari, pagi dan malam, ditambah sekali usai berkeringat berat.

Kesalahan kedua berkaitan dengan anggapan makanan dan gaya hidup tak berdampak pada kulit. Kurang tidur, stres, merokok, dan alkohol memicu kulit kusam serta lingkaran hitam di mata. Dr Ho menyoroti suplemen protein whey yang umum dikonsumsi pria pembentuk otot dapat memicu jerawat karena merangsang produksi minyak. Ia menyarankan beralih ke protein nabati bila breakout muncul.

Kesalahan ketiga ialah menganggap semua perubahan kulit sebagai proses menua. Kemerahan berkelanjutan bisa menjadi tanda rosacea. Tahi lalat yang berubah bentuk atau luka tak kunjung sembuh berpotensi menjadi indikator kanker kulit. Dr Ho menekankan pemeriksaan dini mencegah bekas jerawat parah dan mendeteksi penyakit lebih awal.

Kesalahan keempat adalah anggapan semua pelembap sama. Dr Teo menegaskan pelembap tidak menyebabkan jerawat, mitos itu keliru. Akar masalahnya ialah pemilihan tekstur yang tidak sesuai jenis kulit. Pria berkulit berminyak disarankan memakai gel atau lotion ringan agar tidak terasa lengket di cuaca lembap.

Kesalahan kelima yaitu mengabaikan kulit kepala. Scalp merupakan bagian kulit yang bila tak dirawat memicu masalah di dahi dan garis rambut. Cuaca tropis mempercepat pertumbuhan ragi penyebab fungal acne. Sampo antiketombe dengan ketoconazole atau zinc pyrithione membantu, asal tak dipakai berlebihan.

Di Indonesia, tren perawatan pria masih tertinggal dibanding negara tetangga. Pasar produk groomming lokal seperti Bounden dan Rollover Reaction mulai tumbuh, namun edukasi medis belum merata. Cuaca tropis di Jakarta dan Surabaya mirip Singapura, sehingga risiko yang dipaparkan dermatolog tersebut relevan bagi pria Indonesia.

Dampaknya melampaui estetika. Biaya konsultasi dermatolog di kota besar mencapai ratusan ribu per sesi, belum termasuk terapi. Kebiasaan keliru yang tak dikoreksi memicu pengeluaran jangka panjang. Di sisi lain, brand lokal berpeluang mengedukasi lewat konten ilmiah而非 iklan belaka.

Dr Teo memberikan tips mendinginkan wajah usai olahraga dengan air sejuk atau facial mist. Dr Ho mengingatkan rutinitas sederhana dengan pembersih lembut, pelembap, dan tabir surya lebih efektif daripada produk menumpuk. Tabir surya disebutnya investasi jangka panjang bagi kesehatan kulit.

Ke depan, kesadaran pria Indonesia terhadap perawatan kulit diproyeksikan naik seiring masuknya klinik dermatolog digital. Edukasi berbasis bukti ilmiah perlu diperkuat agar masyarakat tak terjebak mitos. Produsen juga wajib menyertakan panduan pemakaian yang jelas demi mencegah penyalahgunaan produk.

Mengapa Ini Penting

Kesadaran perawatan kulit pria di Indonesia masih rendah sehingga mitos ini berpotensi membebani sistem kesehatan via konsultasi tidak perlu. Brand lokal dapat mengambil celah edukasi ilmiah untuk meningkatkan trust sekaligus penetrasi pasar. Cuaca tropis yang sama dengan Singapura membuat risiko fungal acne dan rosacea relevan secara langsung bagi pria urban Indonesia.

Sumber Asli
Channel NewsAsia
Tanggal
15 Juli 2026
Waktu Baca
4 menit