Sebuah tanah longsor menghantam Kabupaten Pengshui di Kota Chongqing, Tiongkok, pada Jumat pagi pukul 09.10 waktu setempat, menewaskan delapan orang dan menyisakan 34 warga yang belum ditemukan. Bencana yang terjadi di lereng pegunungan itu langsung memicu evakuasi besar-besaran terhadap lebih dari 1.100 penduduk serta memutus akses air, listrik, dan gas dalam radius satu kilometer dari lokasi kejadian.
Rekaman yang disiarkan stasiun televisi nasional CCTV memperlihatkan tumpukan batu dan material tanah menutupi sebagian jalan permukiman dan area komersial di kaki gunung. Sepuluh orang berhasil dievakuasi dari reruntuhan, dua di antaranya mengalami luka berat. Tim penyelamat yang berjumlah lebih dari 800 personel masih menyisir lokasi untuk mencari korban yang hilang di tengah ancaman batu-batu berbahaya di sisi tebing.
Pengshui merupakan wilayah di bagian tenggara Chongqing yang berbatasan dengan Provinsi Hubei dan Guizhou. Topografi daerah tersebut dikenal curam dan sulit diprediksi, seperti disampaikan pejabat setempat dalam konferensi pers pasca-bencana. Kondisi geologi ini menjadi salah satu faktor utama tingginya risiko longsor saat curah hujan meningkat atau struktur tanah mengalami pergeseran.
Tiongkok memang kerap menghadapi bencana geologi di region pegunungan barat dan barat daya. Awal bulan ini, longsor serupa di Provinsi Gansu menewaskan 21 orang. Pola kejadian yang berulang menunjukkan bahwa mitigasi bencana di kawasan bergunung masih menjadi tantangan besar bagi otoritas setempat, meski teknologi pemantauan cuaca dan seismik terus dikembangkan.
Pemerintah pusat Tiongkok menyalurkan bantuan lebih dari 8.000 item kebutuhan darurat ke Chongqing, termasuk tenda, tempat tidur lipat, dan paket siaga keluarga. Kementerian Keuangan dan Kementerian Manajemen Darurat juga mengalokasikan dana bantuan bencana alam sebesar 50 juta yuan atau setara 7,36 juta dolar AS untuk operasi penyelamatan dan bantuan warga terdampak.
Bagi Indonesia, peristiwa ini menyodorkan cermin atas kerawanan serupa di berbagai daerah. Tanah longsor rutin terjadi di Jawa Barat, Jawa Tengah, hingga Sumatra Barat setiap musim hujan. Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana mencatat longsor sebagai salah satu bencana dengan korban jiwa tertinggi setelah banjir bandang. Kerapuhan tata ruang dan permukiman di lereng bukit menjadi akar persoalan yang belum tuntas.
Perbedaannya, Indonesia masih memiliki keterbatasan dalam sistem peringatan dini berbasis sensor gerakan tanah secara massif. Tiongkok mulai memanfaatkan jaringan pemantauan real-time dan satelit untuk memetakan zona rawan longsor. Di sisi lain, partisipasi warga dalam pelaporan retakan tanah dan relokasi sukarela di Indonesia kerap terkendala masalah ekonomi dan legalitas lahan.
Presiden Tiongkok Xi Jinping menyerukan agar pejabat daerah mengorganisasi pencarian dan penyelamatan secara ilmiah serta segera menyelidiki penyebab longsor. Imbauan tersebut disampaikan melalui kantor berita resmi Xinhua sebagai bentuk arahan langsung kepala negara dalam penanganan bencana nasional.
“Batu-batu berbahaya masih tersisa di sisi tebing dan kondisi medan sangat tidak bisa diprediksi,” ucap pejabat lokal Pengshui dalam keterangan kepada publik. Pernyataan itu mengonfirmasi bahwa operasi penyelamatan tidak hanya berpacu dengan waktu, tetapi juga dengan ancaman longsor susulan yang bisa membahayakan tim lapangan.
Pasokan listrik, air, dan gas yang diputus dalam radius satu kilometer akan tetap dinonaktifkan sampai struktur lereng dinyatakan stabil. Otoritas setempat juga harus memutuskan nasib ribuan warga yang mengungsi, apakah akan direlokasi permanen atau kembali setelah perbaikan infrastruktur selesai.
Ke depan, penguatan sistem deteksi dini dan pembatasan pembangunan di zona curam menjadi keniscayaan bagi Chongqing maupun kota pegunungan lain di Tiongkok. Untuk Indonesia, insiden ini menegaskan urgensi investasi pada teknologi geospasial dan disiplin tata ruang agar korban serupa tidak terus berulang tiap tahun.