Internasional

Lucas Herbert Cetak 62 di British Open, Gagal Rekor Satu Pukulan

Ringkasan

  • Pegolf Australia Lucas Herbert melesat ke puncak klasemen British Open 2025 dengan ronde 62, hanya satu pukulan dari rekor terendah sepanjang sejarah major putra.
  • Putt par lima kaki di hole ke-18 yang melenceng menggagalkannya mencatatkan sejarah.

Lucas Herbert nyaris membuat sejarah di Royal Birkdale, Southport, Inggris, pada Jumat (17/7/2025). Pegolf berusia 30 tahun asal Australia itu melesat ke puncak klasemen The Open Championship dengan ronde kedua yang luar biasa: 62 pukulan, atau 8 di bawah par. Angka itu menyamai rekor ronde terendah dalam sejarah mayor putra. Namun, satu putt par sepanjang sekitar lima kaki di green hole ke-18 yang bergulir melewati lubang mengubah potensi rekor baru menjadi catatan pahit.

Herbert memulai hari kedua dengan total skor even par. Dalam kondisi cuaca yang bersahabat di atas lapangan yang terik matahari, ia memulai serangkaian birdie yang menghancurkan lawan-lawannya. Enam birdie mengalir deras di sembilan hole pertama, membawanya mencapai turn dengan 28 pukulan. Angka itu menyamai rekor sembilan hole terbaik di The Open yang pernah dicatatkan Denis Durnian di Birkdale pada 1983.

Serpangan birdie itu belum berhenti. Di sembilan hole kedua, Herbert kembali menggila dengan birdie di hole ke-11, ke-12, dan ke-16. Ketika chip-nya di hole ke-17 menghasilkan peluang birdie, mimpi ronde sub-60 — sesuatu yang nyaris tak pernah terjadi di ajang mayor — mulai terasa nyata. Putt itu gagal masuk, tapi Herbert masih memiliki peluang besar di hole terakhir.

Di hole ke-18, par empat panjang, Herbert melakukan drive yang meleset dari fairway. Ia harus mengandalkan chip dari depan green untuk mencapai green dalam dua pukulan. Up-and-down itu seharusnya relatif mudah bagi pemain dengan kemampuan sekelasnya. Namun, putt par lima kaki yang seharusnya menjadi formalitas justru bergulir melewati bibir lubang. Satu-satunya bogey hari itu tercatat, dan rekor terendah sepanjang sejarah mayor putra luput dari genggamannya.

Ekspresi Herbert saat berjabat tangan dengan rekannya di green ke-18 menggambarkan segalanya. Ia tampak terpuruk meski telah menjalani ronde yang hampir sempurna. Kekecewaan itu wajar. Rekor ronde terendah mayor putra — 62 — pernah dicatatkan oleh Branden Grace di The Open 2017, juga di Royal Birkdale. Rickie Fowler dan Xander Schauffele menyamainya di US Open 2023, sementara Schauffele dan Shane Lowry melakukannya di PGA Championship 2024. Herbert seharusnya menjadi nama kelima dalam daftar eksklusif itu, atau bahkan yang pertama yang menembus angka 61.

Konteks pencapaian Herbert menjadi lebih mengesenting ketika melihat rekornya di The Open dalam beberapa tahun terakhir. Ia gagal melaju ke putaran akhir (missed cut) dalam tiga dari empat penampilan terakhirnya di kejuaraan ini. Perubahan performa yang drastis dari pemain yang kerap tersingkir lebih awal menjadi pemimpin klasemen menunjukkan evolusi signifikan dalam permainannya.

Herbert kini memimpin dengan keunggulan dua pukulan dari Jackson Suber, pemimpin overnight yang mencatatkan skor 65 di putaran pertama dan menambah 69 di putaran kedua. Suber, yang tampil konsisten namun tanpa kecemerlangan luar biasa, kini harus mengejar ketertinggalan dari pemain yang sedang berada dalam kondisi mental dan teknis terbaiknya.

Bagi penggemar golf di Indonesia, penampilan Herbert di Birkdale menjadi pengingat betapa tipisnya garis antara kesempurnaan dan kekecewaan di olahraga ini. Golf memang olahraga di mana satu inci perbedaan pada putt bisa menentukan gelar major. Komunitas golf Indonesia yang terus berkembang, terutama di kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, dan Bali, memiliki banyak pemain amatir yang memahami frustrasi serupa meski dalam skala yang jauh berbeda.

Indonesia sendiri memiliki tradisi golf yang cukup panjang, dengan beberapa lapangan kelas internasional seperti Pondok Indah Golf Course dan New Kuta Golf di Bali. Namun, kehadiran pemain profesional Indonesia di panggung internasional masih sangat terbatas. Nama-nama seperti Rory Hie dan George Gandranata pernah mengharumkan nama Indonesia di regional, tapi langkah ke level mayor global masih menjadi tantangan besar. Pencapaian Herbert — yang juga berasal dari negara dengan populasi golf tidak sebesar Amerika Serikat atau Eropa — bisa menjadi inspirasi bahwa pemain dari luar pusat kekuatan golf tradisional mampu bersaing di level tertinggi.

Ke depan, Herbert akan memasuki putaran ketiga dan keempat dengan beban ekspektasi yang berbeda. Ia kini bukan sekadar pengejar, melainkan pemimpin yang harus mempertahankan keunggulan. Sejarah menunjukkan bahwa ronde 62 sering kali diikuti oleh penurunan performa di hari berikutnya, karena pemain sulit mempertahankan level konsentrasi dan keberuntungan yang sama. Namun, jika Herbert mampu mempertahankan akurasi pukulannya dan memperbaiki kelemahan di putting green, gelar Claret Jug pertamanya bukan tidak mungkin.

The Open 2025 di Royal Birkdale telah memberikan salah satu ronde paling dramatis dalam sejarah kejuaraan ini. Herbert mungkin gagal mencatatkan rekor, tapi penampilannya membuktikan satu hal: di golf, perjalanan menuju kesempurnaan sering kali sama mengesankannya dengan pencapaian itu sendiri.

Mengapa Ini Penting

Pencapaian Lucas Herbert di British Open menjadi cerminan bahwa olahraga golf, meski kerap dianggap elit dan didominasi pemain dari Amerika Serikat dan Eropa, terbuka bagi siapa pun yang bekerja keras. Bagi Indonesia, negara dengan komunitas golf yang aktif namun minim wakil di level global, kisah Herbert — yang juga berasal dari negara 'non-tradisional' golf — memberikan inspirasi sekaligus gambaran betapa jarak antara pemain regional dan elite dunia masih lebar. Selain itu, momen putt gagal di hole ke-18 menjadi pengingat universal tentang psikologi olahraga: tekanan mental di momen krusial kerap menjadi penentu akhir, bukan sekadar kemampuan teknis.

Sumber Asli
Channel NewsAsia
Tanggal
17 Juli 2026
Waktu Baca
5 menit