Internasional

Mahathir dan PAS Serukan Persatuan Melayu dalam Pemilihan Johor di Malaysia

Mahathir dan PAS Serukan Persatuan Melayu dalam Pemilihan Johor di Malaysia

Ringkasan

  • Mahathir Mohamad dan PAS menyerukan persatuan politik Melayu-Muslim dalam pemilihan negara bagian Johor, menantang stabilitas koalisi pemerintahan saat ini.

Pemilihan umum di negara bagian Johor, Malaysia, kini menjadi sorotan baru dalam dinamika politik berbasis etnis yang telah lama mewarnai negeri jiran tersebut. Mantan Perdana Menteri Malaysia, Mahathir Mohamad, bersama dengan partai Islam PAS, secara tegas mendesak para pemilih untuk mengutamakan kekuatan politik Melayu-Muslim di atas loyalitas partai. Seruan ini muncul di tengah persaingan ketat dalam pemilihan negara bagian yang dianggap sebagai salah satu barometer politik paling krusial di Malaysia.

Johor, yang berbatasan langsung dengan Singapura dan menjadi pusat rencana pertumbuhan ekonomi lintas batas, merupakan basis kekuatan tradisional bagi United Malays National Organisation (UMNO). Koalisi Barisan Nasional (BN) yang dipimpin oleh UMNO saat ini menguasai 40 dari total 56 kursi di dewan legislatif negara bagian tersebut, setelah meraih kemenangan telak pada tahun 2022. Namun, peta kekuatan politik kali ini tampak jauh lebih tidak menentu dibandingkan sebelumnya.

Situasi politik di Johor menjadi semakin kompleks karena adanya pergeseran aliansi. Barisan Nasional saat ini harus berhadapan dengan Pakatan Harapan (PH) di setiap kursi yang diperebutkan, meskipun kedua koalisi tersebut sebenarnya merupakan mitra dalam pemerintahan persatuan nasional yang dipimpin oleh Perdana Menteri Anwar Ibrahim. Di sisi lain, koalisi oposisi Perikatan Nasional (PN) juga turut meramaikan kontestasi dengan menargetkan 33 kursi.

Di tengah ambiguitas politik tersebut, Mahathir Mohamad, yang kini menginjak usia 100 tahun namun tetap aktif memberikan pengaruh dalam diskursus nasional, mengambil langkah strategis. Melalui surat terbuka yang diunggah di media sosial pada hari Selasa, ia mendesak masyarakat Melayu untuk memberikan dukungan kepada kandidat dari etnis Melayu tanpa memandang afiliasi partai politik atau organisasi non-pemerintah tertentu.

Dalam surat tersebut, Mahathir secara eksplisit menggunakan istilah 'Tanah Melayu', sebuah terminologi sejarah yang merujuk pada Semenanjung Malaya. Ia menekankan bahwa jika masyarakat ingin mempertahankan identitas dan kedaulatan Melayu di negara tersebut, maka suara pemilih harus diberikan kepada kandidat Melayu tanpa terikat oleh loyalitas partai. Seruan ini dinilai sebagai upaya untuk mengonsolidasikan basis pemilih konservatif di tengah fragmentasi politik yang terjadi saat ini.

Langkah Mahathir dan PAS ini dipandang oleh para pengamat sebagai upaya untuk menguji sejauh mana narasi identitas etnis masih efektif dalam memobilisasi pemilih di Johor. Dengan posisi Johor sebagai pusat ekonomi strategis, hasil dari pemilihan ini diprediksi tidak hanya akan memengaruhi stabilitas pemerintahan negara bagian, tetapi juga memberikan dampak signifikan terhadap arah kebijakan politik nasional Malaysia ke depannya.

Mengapa Ini Penting

Dinamika politik di Johor memberikan gambaran tentang bagaimana politik identitas masih sangat berpengaruh di Asia Tenggara. Bagi Indonesia, stabilitas politik di negara tetangga ini sangat krusial karena berdampak langsung pada kerja sama ekonomi lintas batas dan keamanan regional di kawasan Selat Malaka.

Sumber Asli
Scmp
Tanggal
1 Juli 2026
Waktu Baca
3 menit