Sebuah ledakan menghancurkan sebagian bangunan Mal AEON di Kota Kashima, Prefektur Kumamoto, Jepang, pada Selasa petang. Bencana ini terjadi sekitar satu jam setelah gempa bumi bermagnitudo 7,1 mengguncang wilayah tersebut. Perdana Menteri Jepang, Sanae Takaichi, memastikan tiga orang meninggal dunia akibat ledakan tersebut.
Korban merupakan pekerja yang tertinggal di dalam gedung saat evakuasi pasca-gempa. Sementara itu, status tiga pekerja lain masih belum diketahui. Operator mal, AEON, menyatakan pihaknya sedang menyelidiki kemungkinan kebocoran gas sebagai pemicu ledakan. Gedung ini menggunakan sistem gas LPG untuk operasionalnya.
Saksi mata menggambarkan situasi yang mencekam. Gempa mengguncang gedung selama sekitar 10 detik, membuyarkan pengunjung dan pekerja. Staf segera mengevakuasi sekitar 3.000 orang dalam waktu 30 menit. Namun, tak lama setelah evakuasi massal, terdengar ledakan dahsyat yang memperlihatkan balok baja struktur dan melontarkan puing-puing ke area parkir.
"Kepulan asap besar membubung ke atas. Abu-abu seperti vulkanik berjatuhan di sekitar kami," ujar Kazuya Tsurunaga, pemilik pub yang terletak 300 meter dari lokasi kejadian. Petugas awalnya ragu memasuki reruntuhan karena risiko runtuh susulan di tengah lebih dari 100 gempa susulan yang tercatat hingga akhir hari tersebut.
Kejadian ini terasa sangat ironis. Mal AEON Kumamoto baru saja selesai direnovasi dan dibuka kembali bulan lalu setelah rusak parah akibat gempa Kumamoto berkekuatan 7,3 skala Richter pada April 2016. Renovasi besar-besaran itu menyoroti penguatan seismik pada langit-langit dan peningkatan keselamatan keseluruhan sebagai bagian dari pemulihan pasca-bencana satu dekade lalu.
Ketua Presiden AEON, Akio Yoshida, mengakui adanya kesalahan dalam prosedur evakuasi. "Kami memastikan semua pelanggan telah dievakuasi. Kami percaya karyawan juga sudah, tetapi kemudian terungkap beberapa orang tetap berada di dalam, atau kembali karena alasan tertentu," ungkapnya dalam konferensi pers. Satu korban selamat ditemukan terluka di kamar mandi.
Operasi penyelamatan berlangsung intensif. Perdana Menteri Takaichi mengungkapkan sekitar 450 pusat evakuasi telah dibuka untuk menampung kurang lebih 7.700 orang. Cuaca panas diperkirakan berlanjut, membuat situasi di pengungsian menjadi lebih menantang.
Pemerintah Jepang mengerahkan Pasukan Bela Diri (SDF) dengan kekuatan 4.600 personel. Kepolisian juga menurunkan sekitar 2.000 petugas untuk mendukung operasi penanggulangan. Sebelum ledakan di mal, gempa juga telah merobohkan cerobong asap di pabrik Nippon Paper di Kota Yatsushiro, menelan korban jiwa dan orang hilang.
Beberapa petugas penyelamat melaporkan mencium bau gas di lokasi kejadian. Juru bicara pemerintah, Minoru Kihara, mengonfirmasi hal ini dalam konferensi pers. Sebuah kendaraan darurat berulang kali mendesak warga menjauhi area mal karena potensi kebocoran gas yang masih ada.
Kisah tragis ini menjadi peringatan keras bagi negara-negara rawan gempa seperti Indonesia. Kejadian di Kumamoto menunjukkan bahwa standar bangunan tahan gempa saja tidak cukup tanpa didukung mitigasi risiko bencana sekunder yang komprehensif, termasuk sistem pemadam kebakaran, detektor gas, dan prosedur evakuasi yang teruji untuk skenario rantai bencana.