Mangga Irwin asal Taiwan mencatatkan sukses besar di pasar Eropa. Dalam debutnya di Prancis pada Juni lalu, buah premium ini ludes terjual hanya dalam dua hari meski dibanderol dengan harga selangit, yakni €99,90 atau sekitar Rp2.073.000 per kilogram.
Kesuksesan ini menjadi angin segar bagi petani dan eksportir Taiwan di tengah tekanan ekonomi yang terus dilancarkan Beijing. Larangan impor yang diberlakukan China sejak 2023 tidak membuat industri mangga Taiwan terpuruk, justru memaksa mereka mencari pasar baru yang lebih menguntungkan.
Carrie Wong, wakil ketua eksekutif Natural House Group, eksportir Taiwan di balik pengiriman ke Eropa, mengungkapkan bahwa permintaan datang dari restoran kelas atas dan berbagai vendor. Namun, musim panen telah berakhir sehingga calon pembeli harus menunggu hingga tahun depan.
Mangga Irwin memiliki karakteristik yang membedakannya dari varietas lain. Kulitnya merah cerah keunguan, aromanya kaya, dan daging buahnya manis lembut tanpa serat. Pada awal Juli ini saja, pelanggan di Prancis membeli lebih dari empat ton mangga Taiwan dengan harga premium.
Sejarah varietas ini cukup panjang. Mangga Irwin pertama kali muncul pada 1939 di Florida, Amerika Serikat, melalui penyerbukan silang yang tidak disengaja antara pohon mangga Lippens dan Haden di kebun milik ahli hortikultura F.D. Irwin. Bibitnya kemudian diimpor ke Taiwan pada 1950-an dan menyebar ke Jepang pada 1980-an.
Keberhasilan menembus pasar Eropa bukan perkara mudah. Kawasan ini dikenal memiliki standar karantina tanaman dan residu pestisida paling ketat di dunia. Oleh karena itu, pencapaian ini dirayakan sebagai kisah sukses besar di Taipei.
Di sisi lain, keberhasilan ini juga memiliki makna strategis. Taiwan berhasil mendiversifikasi ketergantungan ekspornya dari China yang selama ini kerap menggunakan larangan impor sebagai alat tekanan politik. Taktik Beijing tersebut memang menyasar produsen makanan Taiwan dengan tujuan menimbulkan kerugian finansial.
Chou Chun Mi, hakim di Pingtung, Taiwan selatan, yang menjadi sentra penanaman mangga Irwin, menegaskan bahwa buah ini laris di Korea Selatan dan kini Prancis. Menurutnya, hal itu membuktikan bahwa pasar Taiwan tidak perlu bergantung pada China.
Kondisi ini menarik untuk dibandingkan dengan Indonesia. Sebagai negara penghasil mangga tropis, Indonesia sebenarnya memiliki potensi serupa untuk menembus pasar premium. Namun, kendala utama yang dihadapi petani lokal adalah standar kualitas dan sertifikasi internasional yang belum merata.
Taiwan memproduksi sekitar 100 juta kilogram mangga per tahun, dengan sebagian besar dikonsumsi di dalam negeri. Pada tahun panen yang baik, harga mangga Irwin di pasar lokal hanya berkisar NT$100 hingga NT$300 per kilogram, atau sekitar Rp55 ribu sampai Rp167 ribu. Bandingkan dengan harga di Prancis yang mencapai Rp2 juta per kilogram—margin yang sangat menggiurkan.
Dari satu persen mangga yang diekspor setiap tahun, China sempat menjadi pasar penting dengan kontribusi 59 persen pada puncaknya di 2019. Kini, Jepang telah mengambil alih posisi sebagai importir terbesar, disusul Korea Selatan dan negara-negara Eropa.
Ke depan, tren ini diprediksi akan terus berlanjut. Taiwan tampaknya akan semakin fokus menggarap pasar premium di negara maju yang menawarkan harga lebih tinggi dibandingkan pasar tradisional. Strategi ini tidak hanya menguntungkan secara ekonomi, tetapi juga mengurangi kerentanan terhadap tekanan politik dari Beijing.
Bagi Indonesia, kisah sukses Taiwan ini menjadi pelajaran berharga. Diversifikasi pasar ekspor dan peningkatan standar kualitas adalah kunci untuk bersaing di level global. Jika Taiwan mampu menjual mangga dengan harga jutaan rupiah per kilogram di Eropa, bukan tidak mungkin Indonesia juga bisa melakukan hal serupa dengan komoditas unggulannya.