India kini berada di persimpangan jalan strategis dalam upaya memperkuat basis manufakturnya. Baru-baru ini, Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi memimpin delegasi bisnis ke New Delhi untuk menghadiri KTT tahunan India-Jepang ke-16. Pertemuan ini merupakan kelanjutan dari visi bersama yang dicanangkan tahun lalu, di mana Jepang berkomitmen menanamkan investasi hingga 10 triliun yen atau setara US$62 miliar dalam satu dekade ke depan.
Sektor keuangan menjadi salah satu pilar utama investasi Jepang di India, yang dibuktikan dengan langkah grup finansial MUFG mengakuisisi saham di Shriram Finance senilai US$4,4 miliar. Secara kumulatif, Jepang telah menyuntikkan lebih dari US$48 miliar dalam bentuk investasi asing langsung (FDI) ke India abad ini. Data menunjukkan bahwa Jepang merupakan investor asing terbesar kedua bagi India setelah Amerika Serikat, dengan nilai investasi mencapai US$3,2 miliar pada tahun fiskal 2025-2026.
Di sisi lain, dinamika perdagangan India dengan China menunjukkan wajah yang berbeda. Meskipun Jepang unggul dalam investasi jangka panjang, volume perdagangan India dengan China mencapai US$151 miliar pada periode yang sama, jauh melampaui perdagangan dengan Jepang yang hanya sebesar US$27,5 miliar. Fakta ini menegaskan bahwa China tetap menjadi mitra dagang barang terbesar bagi India, dengan keterkaitan rantai pasok yang saling melengkapi.
Ketergantungan industri India pada komponen impor dari China sering kali menjadi bagian tak terpisahkan dari proyek-proyek yang didanai oleh investor Jepang. Hal ini menunjukkan bahwa India sebenarnya tidak harus memilih satu pihak saja, melainkan dapat memanfaatkan kolaborasi dengan Jepang untuk modal dan teknologi, serta China untuk efisiensi rantai pasok barang manufaktur.
Belajar dari sejarah ekonomi China pasca bergabung dengan WTO pada 2001, FDI terbukti menjadi katalis utama pertumbuhan ekonomi. China berhasil meningkatkan arus masuk FDI dari US$42 miliar pada tahun 2000 menjadi puncaknya di angka US$344 miliar pada 2021. Meskipun terjadi penurunan di tahun 2024, stok FDI China tetap berada di level fantastis, yakni US$3,7 triliun pada akhir 2023.
Sebagai perbandingan, India mencatat arus masuk FDI sebesar US$3,6 miliar pada tahun 2000 dan mencapai titik tertinggi US$64 miliar pada 2020. Dengan total stok FDI yang mencapai setengah triliun dolar pada 2023, India memiliki ruang yang luas untuk terus tumbuh. Strategi untuk menyeimbangkan hubungan dengan kedua kekuatan ekonomi Asia ini akan menjadi kunci keberhasilan India dalam mentransformasi dirinya menjadi pusat manufaktur global yang kompetitif.