Perdana Menteri India Narendra Modi menyelesaikan rangkaian kunjungan kenegaraan ke Indonesia, Australia, dan Selandia Baru pada Juli 2026. Kunjungan tersebut menghasilkan sejumlah kesepakatan strategis yang menandai eratnya kolaborasi antarnegara berpengaruh menengah di tengah melemahnya kepercayaan terhadap Amerika Serikat.
Dalam satu pekan, Modi mengunci penjualan rudal Brahmos supersonik ke Indonesia, mengamankan pasokan uranium dari Australia, serta meningkatkan hubungan dengan Selandia Baru menjadi kemitraan strategis berlevel "milestone". Kesepakatan itu secara individual tidak mengubah peta kekuatan Indo-Pasifik, tetapi bersama-sama menunjukkan arah baru: negara-negara menengah saling mendekat untuk membangun jaringan keamanan dan ekonomi yang lebih mandiri.
Gelombang diplomasi India tidak bergerak satu arah. Sebelum Modi melawat ke kawasan Asia-Pasifik, Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi sudah bertandang ke New Delhi pada Juli 2026. April lalu, Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung menjadi tamu di ibu kota India. Mei, giliran Presiden Vietnam To Lam diterima di sana. Pola ini mencerminkan strategi penyeimbang yang dijalankan sejumlah pemimpin regional.
Namun, menyimpulkan bahwa negara-negara menengah meninggalkan Washington merupakan kesimpulan yang berlebihan. Jepang dan Korea Selatan tetap menjadi sekutu perjanjian AS. Filipina juga mengukuhkan posisinya sebagai sekutu Washington di bawah Presiden Ferdinand Marcos Jr karena kecemasan atas agresi China di Laut Cina Selatan. Sikap kawasan terhadap AS memang beragam, bergantung pada dinamika domestik dan persepsi ancaman masing-masing negara.
Survei yang dilakukan ISEAS-Yusof Ishak Institute pada 2026 terhadap sekitar 2.000 elite kebijakan Asia Tenggara menunjukkan kecemasan yang meningkat akan ketidakpastian AS. Di saat yang sama, elite Vietnam masih lebih memercayai Washington daripada Beijing. Realitas ini membuktikan bahwa penjauhan dari AS bukan pilihan utama, melainkan penyesuaian terhadap dinamika yang berubah cepat.
India sejak lama menganut strategi multi-penjajaran. Pendekatan itu kini menjadi nilai tambah karena New Delhi menawarkan opsi penyeimbangan tanpa memaksa negara lain memilih antara Washington dan Beijing. Shruti Pandalai, India Chair di Lowy Institute Australia, menegaskan bahwa negara-negara kawasan tidak keluar dari lingkar AS, melainkan merespons pergeseran di Indo-Pasifik akibat kebijakan pemerintahan Trump kedua dan perang Iran.
Bagi Indonesia, ikatan peradaban dengan India telah berakar lama dan bertahan meski sempat retak saat perang India-Pakistan 1965. Kepentingan strategis kedua negara kini bertemu pada upaya menyeimbangkan pengaruh China serta menjaga kedaulatan maritim. Aparna Pande dari Hudson Institute menyebut India dan Indonesia sebagai kekuatan penghuni yang melihat diri sebagai hegemon di kawasan masing-masing, bersekutu dengan AS namun tetap mengelola hubungan dengan China.
Australia mencatat kemajuan paling konkret dalam lawatan Modi. KTT di Melbourne menghasilkan 18 kesepakatan mulai dari pasokan uranium, koridor industri pertahanan, hingga mineral kritis. Pandalai menyebut hubungan itu sudah melewati tahap "potensi yang belum digarap" yang kerap dilontarkan Australia di masa lalu. Diversifikasi ini mengurangi ketergantungan Canberra pada China sekaligus memperkuat posisinya sebagai aktor independen di Indo-Pasifik.
Uji coba rudal China pada 6 Juli 2026 mempertegas urgensi kerja sama tersebut. Dua hari sebelum Modi bertemu Anthony Albanese, Beijing menembakkan rudal balistik antarbenua peluncur kapal selam sejauh 7.300 km ke perairan Zona Bebas Nuklir Pasifik Selatan, mendarat di timur laut Kepulauan Solomon. Carlyle Thayer dari UNSW menilai uji coba itu mungkin tidak sengaja bertepatan dengan ktt, tetapi secara efektif menguatkan nilai kemitraan pertahanan Australia-India.
India memanfaatkan citra sebagai mitra yang relatif tidak agresif, ditopang pasar besar dan jejak keamanan maritim yang tumbuh. Diaspora India juga menjadi instrumen pengaruh; di Melbourne, Modi dan Albanese berpidato di hadapan 30.000 warga keturunan India pada 9 Juli. Bagi Modi, lawatan ini juga menjawab kritik domestik bahwa India hanya jadi penonton saat perang Iran, dengan membuktikan relevansi negara tersebut secara global.
Washington memantau erat langkah tersebut. Elbridge Colby, pejabat kebijakan Pentagon, menulis di X pada 14 Juli bahwa AS tidak khawatir dengan gembar-gembor strategi "negara menengah" kolektif. Ia justru mengkhawatirkan jika sekutu menghabiskan waktu dan dana untuk distraksi tersebut. Pernyataan itu menunjukkan bahwa meski tak terbuka menentang, AS waspada terhadap otonomi strategis kawasan.
Ke depan, pola penjajaran negara menengah diproyeksikan bertahan seiring fluktuasi geopolitik global. Indonesia akan mendapat ruang negosiasi lebih luas melalui akuisisi rudal Brahmos dan kerja sama maritim dengan India. Kerja sama seluler, energi, serta pertahanan akan menjadi arena baru di mana negara Asia mengurangi risiko ketergantungan tunggal pada satu adidaya.
Penguatan jaringan ini juga mendorong tata kelola Indo-Pasifik yang lebih multipolar. Negara berkembang mendapat alternatif nyata di luar tekanan blok besar. Bagi pembaca Indonesia, tren ini relevan karena kebijakan luar negeri yang bebas-aktif kini memiliki infrastruktur mitra konkret di Asia dan Pasifik.
Dari perspektif Indonesia, pembelian rudal Brahmos menjadi langkah nyata modernisasi alat utama sistem senjata dibandingkan bergantung pada satu sumber. Kerja sama maritim dengan India juga melengkapi posisi Indonesia sebagai poros dialektika ASEAN terhadap isu Laut Cina Selatan. Masyarakat lokal perlu memahami bahwa stabilitas kawasan kini dibentuk oleh aliansi fungsional, bukan sekadar retorika forum regional.
Produk pertahanan dalam negeri seperti PAL dan PTDI berpeluang mengambil ceruk melalui joint production dengan mitra India. Di sisi ekonomi, diversifikasi rantai pasok mineral kritis oleh Australia dan India membuka peluang ekspor nikel dan bauksit Indonesia ke jaringan baru. Pengguna Indonesia secara tidak langsung menikmati dampaknya melalui keamanan rute perdagangan dan investasi yang lebih berimbang.