Mario Goetze kembali berdiri di depan trofi Piala Dunia pada Rabu lalu di FIFA Museum, Rockefeller Center, Manhattan. Momen tersebut membawa kembali kenangan manis saat ia membantu tim nasional Jerman menjuarai Piala Dunia 2014 di Rio de Janeiro. Saat melihat trofi yang kini dipamerkan tersebut, Goetze merasakan refleksi mendalam atas pencapaian yang mengubah karier sepak bolanya selamanya.
Pada final Piala Dunia 2014, Goetze yang saat itu baru berusia 22 tahun mencetak gol penentu kemenangan melalui sepakan kaki kiri di babak tambahan waktu. Gol tersebut tidak hanya memupus harapan Argentina, tetapi juga memastikan Jerman menjadi tim Eropa pertama yang memenangkan Piala Dunia di tanah Amerika Selatan. Bagi Goetze, makna dari gol tersebut baru benar-benar dipahami seiring berjalannya waktu.
Goetze mengaku bahwa pada saat itu ia tidak menyadari betapa besar dampak dari gol yang dicetaknya. Ia hanya fokus bermain sepak bola dan menikmati momen kemenangan bersama rekan-rekannya. Kini, di usia 34 tahun, ia memandang momen tersebut sebagai sesuatu yang fenomenal, tidak hanya bagi karier pribadinya tetapi juga bagi sejarah sepak bola Jerman secara keseluruhan.
Di sela-sela kunjungannya ke museum, Goetze juga merefleksikan sebuah insiden yang ia anggap kurang tepat, yakni saat ia mengunggah foto bersama Lionel Messi tak lama setelah pertandingan final berakhir. Saat itu, Messi baru saja mengalami kekalahan pahit, dan unggahan tersebut menuai kritik karena dianggap kurang sensitif terhadap kondisi sang lawan yang sedang bersedih.
Goetze kini mengakui bahwa tindakan tersebut adalah kesalahan dalam pemilihan waktu. Ia menegaskan bahwa unggahan itu didasari oleh kekagumannya yang besar terhadap sosok Messi sebagai pesepak bola, bukan untuk mengejek. Ia menyesali bahwa momen tersebut tidak dilakukan pada kesempatan yang lebih tepat, mengingat emosi yang sangat tinggi dari pihak Argentina saat itu.
Dalam kesempatan yang sama, Goetze juga memberikan apresiasi tinggi terhadap umur panjang karier Messi di level tertinggi. Ia mengaku kagum melihat bagaimana Messi dan Cristiano Ronaldo mampu mempertahankan performa mereka selama lebih dari dua dekade. Bagi Goetze, konsistensi yang ditunjukkan oleh legenda sepak bola tersebut merupakan pencapaian yang luar biasa dan sulit untuk disamai oleh pemain lain.