Martha Lillard, wanita Oklahoma yang menjadi pasien polio terakhir di Amerika Serikat yang masih bergantung pada mesin 'paru besi' (iron lung) untuk bernapas, meninggal dunia pada 26 Juni lalu di usia 78 tahun. Kematiannya menandai berakhirnya era medis yang melambangkan kekuatan teknologi kedokteran abad ke-20 dalam mempertahankan hidup di tengah pandemi polio yang pernah menakutkan. Saudara perempuannya, Cindy McVey, mengonfirmasikan kepada The Associated Press bahwa Lillard meninggal akibat komplikasi long COVID-19, dengan sertifikat kematian mencatat penyebab utamanya adalah gagal paru kronis dan sindrom pasca-polio.
Lillard didiagnosis menderita polio pada usia 5 tahun pada tahun 1953, saat wabah penyakit ini mencapai puncaknya di Amerika Serikat. Virus poliovirus melumpuhkan otot-otot pernapasannya, memaksa dia harus tinggal di dalam silinder logam besar yang menciptakan tekanan udara negatif untuk memaksa paru-parunya mengembang dan menyusut. Mesin yang berukuran seperti tabut ini menjadi rumahnya selama lebih dari tujuh dekade, menyaksikan transformasi medis dari era sebelum vaksin hingga era digital.
Meskipun dibatasi oleh mesin, kehidupan Lillard tidak pernah sepenuhnya terisolasi. Ayahnya membangun trailer khusus agar keluarga bisa berlibur ke Missouri, sambil menelpon hotel terlebih dahulu memastikan pintu cukup lebar untuk memasukkan mesin beratnya. Ia sekolah dasar hanya dua jam sehari dan belajar sisanya via tutor, lalu menuntut di SMA Shawnee melalui sistem interkom telepon yang terhubung ke ruang kelas. Ketekunan ini membuktikan bahwa keterbatasan fisik tidak selalu berarti keterbatasan intelektual atau sosial.
Konteks historisnya krusial: polio pernah menjadi salah satu penyakit paling menakutkan di AS, melumpuhkan ribuan anak-anak setiap tahunnya. Hadirnya vaksin polio pada 1955, diikuti kampanye vaksinasi nasional masif, menurunkan kasus drastis menjadi di bawah 100 pada 1960-an dan di bawah 10 pada 1970-an. Pada 1979, AS menyatakan polio telah dieliminasi. Lillard adalah bukti hidup dari generasi yang tertular sebelum vaksin tersedia luas, dan kelangsungan hidupnya menjadi cerminan kemajuan perawatan intensif jangka panjang.
Era internet membuka dunia baru bagi Lillard. Dari dalam silindernya, ia mengakses informasi, belajar tentang penyakitnya, dan bahkan menemukan calon suaminya, Baha Salh, seorang pria dari Mesir yang ia kenal di ruang obrol daring pasca-serangan 11 September 2001. Hubungan virtual mereka berlangsung lebih dari 20 tahun sebelum Salh akhirnya mendapatkan visa dan menikah dengan Lillard pada Februari lalu. "Mereka benar-benar soulmate," ujar McVey, menggambarkan kedalaman ikatan yang terbangun di balik layar dan dinding logam.
Pandemi COVID-19 menjadi pukulan fatal bagi Lillard. Ia terinfeksi dua kali, dan sebelum pandemi kapasitas parunya sudah di bawah 25%. Infeksi SARS-CoV-2 memperparah kondisi paru yang sudah rapuh akibat dekade-tekanan mekanik dan sindrom pasca-polio. Dua tahun terakhir hidupnya, ia terpaksa berada di dalam paru besi hampir 24 jam sehari, tidak bisa lagi keluar rumah. Kematiannya menyoroti betapa rentannya populasi dengan kondisi paru pra-ekstis di hadapan virus respiratori baru.
Di luar mesin, Lillard adalah seorang seniman dan pecinta hewan. Ia menulis puisi, mengomposiskan lagu, dan menjadi relawan Humane Society serta "cross poster" penyelamatan anjing beagle di Facebook. Ia bahkan menulis necrolognya sendiri dengan jujur, lalu memperbaruinya dengan catatan: "Meninggal karena long COVID-19." Kreativitas dan empatinya menunjukkan bahwa kesehatan mental dan tujuan hidup bisa berkembang meski tubuh terkurung.
Kematian Lillard juga mengakhiri pencarian teknisi yang mampu memperbaiki paru besi miliknya—mesin yang sudah tidak diproduksi lagi dan membutuhkan keahlian mekanik spesifik yang semakin langka. "Karena dia yang terakhir, kita tidak butuh itu lagi," ucap McVey sambil menahan air mata. Kalimat itu mengandung ironi dan kesedihan: sebuat teknologi penyelamat nyawa yang pernah menjadi standar perawatan kini menjadi warisan museum, dan keahlian untuk merawatnya pun mati bersama pasien terakhirnya.