Media Israel Time of Israel mempublikasikan analisis tajam yang mengolok-olok gaya kepemimpinan Donald Trump dalam menghadapi konflik dengan Iran. Tulisan tersebut menyoroti pola berulang: Trump melontarkan ancaman militernya yang mengerikan, hanya untuk kemudian menariknya kembali dengan alasan diplomasi sedang berjalan. Pola ini terulang minimal empat kali sejak April, menciptakan ketidakpastian strategis yang dimanfaatkan Teheran.
Perang antara AS dan Iran telah memasuki bulan keenam tanpa tanda-tanda mereda. Sepanjang periode itu, Trump konsisten mengancam akan "menghancurkan dan melemahkan" Iran, namun setiap kali tenggat mendekat, ia memilih mundur. Keputusan ini bukan terjadi sekali dua kali, melainkan menjadi pola yang kini dikritik bahkan oleh media sekutu Israel.
Episode pertama tercatat awal April ketika AS dan Iran menyepakati gencatan senjata dua pekan. Pengumuman itu datang kurang dari dua jam sebelum tenggat ultimatum Trump agar Teheran menyerah atau menghadapi serangan terhadap jembatan dan pembangkit listrik — ancaman yang ia klaim akan berarti "seluruh peradaban akan mati." Gencatan senjata itu disambut sebagai bukti tekanan diplomatik berhasil, namun juga menegaskan ketidaksediaan Trump mengeksekusi ancamannya.
Bulan Mei, Trump mengumumkan penundaan serangan militer besar yang direncanakan, mengklaim "negosiiasi serius" sedang berlangsung. Ia bahkan memuji sekutu Teluk — Qatar, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab — karena telah membujuknya menunjukkan pengekangan. Narasi ini berulang di bulan Juni ketika Trump mengancam menyerang "sangat keras" dan merebut pangkalan energi di Pulau Kharg untuk "mengambil kendali penuh Pasar Minyak dan Gas," lalu membatalkannya hanya dalam hitungan jam dengan alasan kemajuan perdamaian.
Episode terbaru dimulai Jumat lalu ketika Trump, dikelilingi Kabinetnya, menyatakan "kehilangan kepercayaan" pada negosiasi dan memperingatkan militer AS "akan menyerang mereka dengan sangat keras." Ia menikmati keberhasilan AS melumpuhkan kepemimpinan, angkatan udara, dan angkatan laut Iran. Namun hanya berjam-jam kemudian, Sekretaris Pers Gedung Putih Karoline Leavitt mengeluarkan pernyataan yang justru menaikkan tekanan: "Iran akan terus membayar sampai mereka mau bernegosiasi dengan cara yang, menurut Presiden Trump, bermakna."
Keesokan harinya, nada berubah lagi. Trump memberikan lebih banyak waktu bagi diplomasi, mengutip pejabat Iran yang tidak disebutkan nama serta pemimpin sekutu Teluk sebagai kunci perubahan sikapnya. "Itu akan menjadi bencana bagi mereka. Dan mereka tidak ingin kita melakukannya," kata Trump kepada wartawan di perjalanan pulang dari klub golfnya di New Jersey. Ia menambahkan Arab Saudi juga tidak menginginkan eskalasi dan mengira kesepakatan sudah dekat.
Di balik gilir-ganti sikap ini, para kritikus melihat gejala yang lebih mendalam. Kekuatan militer AS saja kemungkinan tidak cukup untuk memaksa Iran mundur dan mengakhiri perang yang Trump sendiri sebelumnya remehkan sebagai invasi singkat beberapa minggu. Senator Mark Kelly, Demokrat dari Arizona di Komite Angkatan Bersenjata Senat, menilai pendekatan Trump "agak tidak menentu" dan mencoba mengembalikan situasi ke bulan Februari — seolah ada tombol reset yang ingin ditekan.
Iran memang bertaruh pada ketahanan jangka panjang. Teheran memperhitungkan persediaan amunisi AS yang menipis serta keengganan pemilih Amerika menghadapi perang tidak populer menjelang pemilu paruh waktu November. Strategi ini membuat ancaman Trump semakin kehilangan daya Abschreckung — daya jera — karena lawan sudah membaca pola: ancam, lalu mundur, lalu ancam lagi.
Bagi Indonesia, eskalasi di Teluk Persia bukan sekadar berita luar negeri. Kestabilan rute maritim Hormuz menentukan harga energi global yang langsung berdampak pada inflasi domestik, anggaran subsidi BBM, dan daya beli rakyat. Ketidakpastian kebijakan AS juga memaksa Jakarta menavigasi hubungan diplomatik yang rumit: menjaga keseimbangan antara sekutu tradisional Barat dan negara-negara Teluk yang menjadi mitra energi serta TKI.
Jika pola "gertak sambal" ini berlanjut, risiko misalkulasi meningkat. Satu kesalahan kalkulasi — misalnya Iran menembak kapal tanker atau AS menembak proksi Iran — bisa memicu perang terbuka yang menenggelamkan rute minyak dunia. Indonesia sebagai negara maritim dan impor neto energi harus mempersiapkan kontinjensi: diversifikasi suplai, cadangan strategis, dan diplomasi multilateral yang lebih proaktif di forum ASEAN dan G20.
Langkah selanjutnya akan ditentukan oleh tiga faktor: apakah Trump benar-benar siap memerintahkan serangan skala penuh, seberapa keras tekanan sekutu Teluk untuk mencegah eskalasi, dan apakah Iran mau memberikan koncesi substansial di meja negosiasi. Sejauh ini, tidak ada indikasi salah satu pihak siap mundur total. Perang enteri ini justru memperpanjang amarah, bukan menyelesaikannya.