Menteri Pendidikan Dasar, Menengah, dan Pendidikan Vokasi Abdul Muti mengajak pelajar di Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, untuk menggunakan media sosial secara bijak guna menatap masa depan yang lebih gemilang. Imbauan tersebut disampaikan saat kunjungan kerja di SMAN 2 Praya pada Kamis pekan ini.
Di hadapan siswa, Abdul Muti menekankan perlunya menjaga kesehatan otak dengan tidak begadang hanya untuk bermain gawai. Ia meminta pelajar menaruh telepon seluler berjarak minimal satu meter dari tempat tidur serta tidak menidurkan ponsel di dekat kepala.
Pesan menteri ini muncul di tengah kebiasaan remaja yang makin lekat dengan layar ponsel, termasuk saat jam istirahat malam. Badan Kesehatan Dunia mencatat bahwa paparan layar berlebih dan kurang tidur berisiko menurunkan fungsi kognitif serta konsentrasi belajar pada usia sekolah.
Kementerian sebelumnya juga menerbitkan surat edaran pembatasan gawai di satuan pendidikan yang bertujuan meningkatkan fokus murid. Langkah di Lombok Tengah menjadi bagian dari sosialisasi langsung agar kebijakan tersebut dipahami bukan sekadar aturan tertulis.
Masa Perkenalan Lingkungan Sekolah menjadi momen strategis untuk menanamkan karakter. Abdul Muti menilai pelaksanaan MPLS di lokasi tersebut berjalan tertib dan sesuai ketentuan, sehingga dapat diisi dengan wawasan tentang bahaya perundungan dan narkoba.
Kekhawatiran terhadap perilaku kelelawar—begadang malam dan tidur siang—disampaikan secara lugas kepada siswa. Menteri mengingatkan agar mereka tidak menjadi manusia kelelawar yang justru merugikan masa depan sendiri.
Bagi Indonesia, pesan ini relevan karena survei literasi digital menunjukkan mayoritas pengguna internet usia 13–18 tahun menghabiskan lebih dari lima jam per hari di media sosial. Kebiasaan itu beririsan dengan penurunan waktu belajar dan kualitas tidur remaja di kota besar maupun daerah.
Dampaknya tidak hanya pada individu. Sekolah kerap kehilangan momentum membangun lingkungan ramah anak jika siswa lebih asyik di dunia maya daripada berinteraksi sehat di lingkungan nyata. Edukasi langsung seperti yang dilakukan Mendikdasmen dapat memotong tren isolasi sosial pelajar.
Kepala SMAN 2 Praya Mustanadi menyambut momentum MPLS sebagai sarana membentuk karakter pelajar dan mewujudkan sekolah nyaman. Ia menyatakan pihaknya terus meningkatkan kualitas layanan agar anak memiliki kompetensi serta saling menghargai.
"Sayangi otak untuk masa depan yang gemilang. Jangan jadi manusia kelelawar, jangan begadang," ucap Abdul Muti di depan siswa. Ia menambahkan, biasakan hal baik seperti menjauhi narkoba dan bullyiing supaya sukses.
Pengawasan di sekolah akan diperketat untuk menjamin lingkungan ramah. Mustanadi menegaskan edukasi berulang dan pengawasan menjadi kunci mewujudkan sekolah yang aman bagi seluruh warga belajar.
Ke depan, pendekatan serupa berpotensi diperluas ke daerah lain dengan tingkat kecanduan gawai tinggi. Kolaborasi orang tua, sekolah, dan pemerintah daerah menjadi penentu keberhasilan membebaskan pelajar dari jerat layar malam.
Tren pembatasan gawai di ruang belajar diproyeksikan bertambah seiring evaluasi surat edaran kementerian. Lombok Tengah dapat menjadi contoh pelaksanaan MPLS berbasis penguatan karakter jika program ini dirawat secara konsisten.