Suasana duka menyelimuti kediaman keluarga besar Soekarno di Jalan Sriwijaya Raya No. 26, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, pada Sabtu (26/9) pagi. Jenazah Mohammad Guruh Irianto Soekarnoputra tiba di rumah duka tepat pukul 07.35 WIB, diantar oleh mobil ambulans berlogo PDI Perjuangan. Kepergian putra bungsu sang Proklamator ini menjadi kabar duka mendalam bagi dunia seni dan politik nasional.
Kabar meninggalnya Guruh dikonfirmasi langsung oleh Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan, Hasto Kristyanto. Guruh mengembuskan napas terakhir di usia 73 tahun setelah menjalani serangkaian perawatan intensif di Rumah Sakit Siloam Semanggi, Jakarta. Kepergian sosok yang lahir pada 13 Januari 1953 ini meninggalkan warisan karya seni yang tak terhitung jumlahnya bagi bangsa.
Sebagai anak bungsu dari pernikahan Soekarno dan Fatmawati, sosok Guruh memang tumbuh dalam bayang-bayang besar sang ayah. Namun, ia memilih jalan hidup yang unik dengan memadukan kecintaan pada budaya dan pengabdian politik. Pendidikan formalnya mencerminkan ketertarikan yang luas, mulai dari bangku Perguruan Cikini, SMA Negeri 25 Jakarta, hingga studi Arkeologi di University of Amsterdam yang ia tempuh selama tiga tahun.
Ketertarikan intelektualnya tidak berhenti di sana. Guruh kemudian mendalami Ilmu Administrasi Negara di STIAMI hingga meraih gelar sarjana pada 2008, disusul gelar Magister Manajemen dengan konsentrasi Sumber Daya Manusia pada 2010. Perpaduan latar belakang akademis ini memberikan warna tersendiri dalam kiprahnya di panggung politik nasional.
Di luar urusan kenegaraan, publik lebih mengenal Guruh sebagai seorang maestro seni sejati. Ia merupakan motor penggerak seni pertunjukan melalui grup Swara Mahardika dan GSP Production yang menjadi kiblat koreografi dan panggung musik pada masanya. Kontribusinya dalam industri musik Indonesia pun sangat signifikan, terutama saat ia membentuk grup Guruh Gipsy dan Gank Pegangsaan.
Karya-karya emas seperti 'Kala Sang Surya Tenggelam', 'Zamrud Khatulistiwa', hingga 'Galih dan Ratna' menjadi bukti nyata betapa besar pengaruhnya terhadap musik populer Indonesia. Ia mampu mengawinkan elemen tradisional dengan modernitas, menciptakan identitas musik yang sangat khas dan berkarakter, sebuah pencapaian yang sulit ditiru oleh musisi sezamannya.
Kiprah politiknya dimulai sejak 1982 saat bergabung dengan PDI, yang kemudian bertransformasi menjadi PDIP pada 1999. Selama seperempat abad, ia mengabdi sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat dari daerah pemilihan Jawa Timur. Loyalitasnya terhadap partai dan ideologi Soekarnoisme tampak konsisten hingga akhir masa jabatannya pada 2024.
Kehidupan pribadinya, termasuk pernikahannya dengan Guseynova Sabina Padmavati pada 2002, sering menjadi sorotan media meski ia sendiri dikenal sebagai sosok yang cukup privat. Meski rumah tangganya berakhir pada 2009, Guruh tetap fokus pada dedikasinya di bidang kesenian dan tugas-tugas legislatif yang diembannya.
Bagi masyarakat Indonesia, kepergian Guruh bukan sekadar kehilangan seorang politikus, melainkan kehilangan seorang penjaga marwah kebudayaan. Ia adalah jembatan antara generasi lama dan baru dalam memahami bagaimana seni bisa menjadi alat diplomasi budaya yang efektif. Analisis terhadap jejak langkahnya menunjukkan bahwa ia berhasil membuktikan seni tidak harus terpisah dari ranah politik.
Ke depan, warisan karya seni Guruh diprediksi akan terus dikaji oleh para pengamat budaya. Kontribusi besarnya dalam memodernisasi tari tradisional dan musik Nusantara menjadi pondasi bagi banyak seniman muda masa kini. Kepergiannya memicu diskusi mengenai pentingnya pelestarian karya-karya maestro yang memiliki nilai historis dan estetika tinggi bagi bangsa.
Sebagai penghormatan terakhir, pihak keluarga dan partai saat ini tengah mempersiapkan rangkaian prosesi pemakaman. Publik dan para kolega politik diperkirakan akan memadati rumah duka untuk memberikan penghormatan terakhir kepada sosok yang telah mendedikasikan sebagian besar hidupnya untuk Indonesia.
Kehilangan sosok seperti Guruh Soekarnoputra menjadi pengingat akan pentingnya regenerasi tokoh-tokoh yang memiliki integritas seni dan politik sekaligus. Indonesia kini tidak hanya kehilangan seorang anak bangsa yang berbakat, tetapi juga kehilangan sosok yang menjadi saksi sejarah perjalanan bangsa sejak masa kecilnya di Istana Negara hingga era demokrasi modern.