Kemlu Pakistan menyatakan bahwa Menteri Luar Negeri Mohammad Ishaq Dar telah melakukan panggilan telepon dengan Sekretaris Negara luar Iran, Seyyed Abbas Araghchi, untuk menegaskan kebutuhan deeskalasi ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran.
Dalam percakapan tersebut, Dar mengingatkan kedua pihak bahwa mereka telah sepakat pada Memorandum of Understanding (MOU) di Islamabad pada Juni 2026, yang menggariskan jalur komunikasi dan kerja sama untuk mengurangi risiko konflik bersenjata.
Menurut sumber ANTARA, Dar menekankan bahwa Indonesia menolak segala bentuk eskalasi yang dapat mengacaukan stabilitas regional, sekaligus menegaskan komitmen Pakistan untuk terus menjadi mitra yang aktif dalam upaya diplomasi pencegahan.
Konflik AS‑Iran yang kembali memicu kekhawatiran global muncul setelah serangkaian insiden yang melibatkan serangan siber, blokade Selat Hormuz, dan dugaan pembunuhan tokoh politik Iran. Kejadian‑kejadian tersebut menambah beban pada pasar energi global dan menimbulkan ketidakpastian bagi investasi teknologi.
Dari sudut pandang industri teknologi Indonesia, ketegangan geopolitik dapat memengaruhi rantai pasok komponen elektronik, terutama yang berasal dari Amerika Serikat atau Iran, serta meningkatkan risiko serangan siber terhadap infrastruktur kritis.
Selain itu, penutupan Selat Hormuz yang diumumkan secara sementara mempengaruhi jalur perdagangan global yang menghubungkan produsen teknologi dengan pasar Asia Pasifik, termasuk pasar elektronik dan perangkat keras di Indonesia.
Pemerintah Indonesia, melalui kementerian komunikasi dan industri, mungkin akan menilai dampak potensial terhadap investasi asing dan proyek infrastruktur digital, sambil memperkuat kolaborasi dengan negara‑negara tetangga seperti Pakistan untuk memastikan stabilitas region.
Di sisi diplomatik, keberhasilan upaya deeskalasi Pakistan dapat menjadi contoh kerja sama multilateral yang memperkuat arsitektur keamanan Asia‑Pasifik, sekaligus membuka ruang bagi inisiatif teknologi bersama yang lebih aman dan inklusif.
Secara keseluruhan, situasi ini menegaskan pentingnya diplomasi preventif dalam menghindari konflik yang berpotensi merambat pertumbuhan ekonomi digital dan ekosistem startup di Indonesia.