Internasional

Menlu Turki Hakan Fidan Terima Ketua Hamas Baru Khalil Al Hayya

Ringkasan

  • Menteri Luar Negeri Turki Hakan Fidan bertemu dengan pemimpin baru Hamas Khalil Al Hayya di Ankara, Rabu (29/7), menandai pertemuan tingkat tinggi pertama sejak Al Hayya terpilih 20 Juli.

Menteri Luar Negeri Turki Hakan Fidan menerima Khalil Al Hayya, yang baru dipilih mengurus Biro Politik Hamas, di gedung Kementerian Luar Negeri Ankara pada Rabu (29/7). Pertemuan ini dicatat sebagai pertemuan tingkat tinggi pertama yang dihadiri Al Hayya setelah penunjukan resmi dua minggu sebelumnya.

Al Hayya, yang bermarkas di Qatar bersama sejumlah pemimpin Hamas lain sejak 2012, tiba di Ankara bersama delegasi kecil. Kunjungan ini mengindikasikan keinginan Hamas untuk memperkuat saluran diplomasi dengan aktor regional kunci seperti Turki.

Dalam pertemuan tersebut, Fidan menyampaikan ucapan selamat atas penunjukan Al Hayya. Menurut laporan Anadolu Agency, Al Hayya menjelaskan kondisi terbaru di Gaza dan Tepi Barat, menuding pemerintah Netanyahu memperluas aktivitas permukiman ilegal serta melancarkan serangan terhadap tempat-tempat suci di Yerusalem.

Al Hayya juga mengklaim bahwa Hamas sedang mengambil langkah menuju perundingan damai. Ia menyebutkan rencana Hamas untuk menyerahkan kewenangan pemerintahan di Gaza kepada Board of Peace yang berada di bawah pengawasan Amerika Serikat, sebagai bagian dari upaya transisi politik.

Selain itu, Al Hayya menyatakan upaya rekonsiliasi dengan faksi Palestina lain, merujuk pada Fatah yang memimpin Otoritas Palestina. Langkah ini dianggap penting untuk menyatukan barisan Palestina sebelum masuk ke meja negosiasi yang lebih luas.

Fidan menegaskan kembali dukungan kuat Turki terhadap perjuangan rakyat Palestina di semua forum internasional. Ia menjanjikan Ankara akan terus meningkatkan penyaluran bantuan kemanusiaan ke Gaza, serta mendukung proses perdamaian yang melibatkan Hamas.

Menteri Luar Negeri Turki juga menyampaikan apresiasi atas peran yang dimainkan Hamas dalam upaya damai, menandakan kesiapan Ankara untuk menjadi mediator yang lebih aktif dalam dinamika konflik Israel-Palestina.

Media pro-pemerintah Turki, Yeni Şafak, mempublikasikan foto pertemuan Fidan dan Al Hayya, mengonfirmasi bahwa pertemuan berlangsung di Ankara pada 29 Juli. Liputan ini memperkuat narasi bahwa Turki ingin menampilkan peran diplomatiknya secara terbuka.

Turki sejak lama menjalin hubungan dengan Hamas, sering kali melalui saluran Qatar tempat para pemimpin Hamas bermarkas. Kunjungan Al Hayya memperlihatkan keinginan Ankara untuk memperdalam pengaruhnya di wilayah Timur Tengah, terutama dalam isu kemanusiaan dan perdamaian.

Bagi Indonesia, negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia, langkah Turki ini relevan karena Jakarta konsisten mendukung pembentukan negara Palestina yang berdaulat. Keterlibatan Turki dapat memperkuat suara Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) dalam mempress Israel untuk menghentikan ekspansi permukiman.

Peningkatan bantuan kemanusiaan dari Turki juga membuka peluang bagi LSM dan badan kemanusiaan Indonesia untuk berkolaborasi dalam saluran distribusi bantuan ke Gaza, mengingat keterbatasan akses yang selama ini dihadapi oleh aktor non-negara.

Ke depan, diperkirakan Turki akan mengadakan seri pertemuan lanjutan dengan Hamas dan faksi Palestina lain untuk merancang kerangka perdamaian yang lebih konkret. Perkembangan transfer kewenangan ke Board of Peace serta dinamika rekonsiliasi internal Palestina akan menjadi indikator utama keberhasilan diplomasi Ankara.

Mengapa Ini Penting

Pertemuan ini menandakan pergeseran diplomasi Timur Tengah di mana Turki berusaha memposisikan diri sebagai pemediator kredibel bagi Hamas, yang selama ini sering diisolasi Barat. Bagi Indonesia, dukungan Turki pada proses damai dan bantuan kemanusiaan memperkuat tekanan kolektif OKI terhadap Israel, sekaligus menciptakan ruang kolaborasi bagi LSM Indonesia dalam mengirimkan bantuan ke Gaza. Jika transfer kewenangan ke Board of Peace berjalan, hal itu bisa menjadi preseden tata kelola transisi yang diakui internasional, memengaruhi dinamika keamanan regional yang secara tidak langsung mempengaruhi stabilitas ekonomi dan migrasi di Asia Tenggara.

Sumber Asli
CNN Indonesia Internasional
Tanggal
30 Juli 2026
Waktu Baca
3 menit