Bisnis & Startup

Menperin Bidik Indonesia Jadi Pusat Manufaktur Dunia di 2045

Ringkasan

  • Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengumumkan target Indonesia menjadi pusat manufaktur dunia pada 2045, dengan memperkuat SDM industri melalui pendidikan vokasi.
  • Acara pelepasan 2.369 lulusan SMK di Bogor menandai upaya tersebut.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengumumkan target ambisius: menjadikan Indonesia pusat manufaktur dunia pada tahun 2045. Dalam acara pelepasan lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dan Sekolah Tinggi Manufaktur (SMTI) di Bogor, Jawa Barat, Kamis lalu, ia menekankan bahwa kunci pencapaian tersebut adalah penguatan sumber daya manusia (SDM) industri yang unggul, kompeten, dan siap kerja.

"Tahun 2045, kita ingin Indonesia memasok dunia, kita ingin Indonesia menjadi pusat manufaktur dunia," kata Agus. Ia mengingatkan bahwa pendidikan vokasi industri bukan sekadar pelatihan, melainkan investasi strategis untuk menyiapkan tenaga kerja terampil yang akan menjadi penggerak utama transformasi industri nasional.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) triwulan I 2026 menunjukkan bahwa sektor pengolahan mengalami pertumbuhan 5,04 persen, berkontribusi 19,07 persen terhadap PDB nasional, menyerap lebih dari 20 juta tenaga kerja, dan menyumbang sekitar 82 persen ekspor nasional. Angka-angka ini membuktikan bahwa industri bukan sektor yang melemah, melainkan terus berkembang dan membutuhkan tenaga baru yang kompeten.

"Tangan-tangan para lulusan inilah yang akan menjadi bagian penting dari masa depan industri Indonesia," ujar Agus. Acara yang bertema "Bersama Mencetak SDM Industri Unggul, Berdaya Saing Global dan Berkelanjutan" tersebut menandai kelulusan 2.369 siswa dari sembilan SMK di bawah naungan Kementerian Perindustrian pada 2026. Sekolah-sekolah tersebut tersebar di berbagai wilayah Indonesia dengan spesialisasi beragam, mulai dari kimia industri, permesinan, otomasi industri hingga mekatronika, yang disesuaikan dengan karakteristik serta kebutuhan sektor manufaktur di masing-masing daerah.

Agus juga menekankan bahwa pembangunan industri nasional sejalan dengan visi Presiden Prabowo Subianto untuk memperkuat industrialisasi dan hilirisasi dalam negeri. "Tidak ada hilirisasi tanpa laboratorium, dan tidak ada laboratorium tanpa analis. Tidak ada pabrik yang berjalan tanpa teknisi yang terampil. Cita-cita besar menjadikan Indonesia sebagai pusat manufaktur dunia tidak diwujudkan di ruang rapat, tetapi di meja laboratorium dan di lantai produksi. Di sanalah para lulusan SMK-SMAK dan SMTI akan mengambil peran penting," tegasnya.

Selain kompetensi, Agus mengingatkan para lulusan agar menjunjung tinggi integritas dan profesionalisme saat memasuki dunia kerja. "Keunggulan kompetensi harus dibarengi dengan kejujuran dan integritas. Hasil kerja seorang analis maupun teknisi akan dipercaya karena dijalankan dengan penuh tanggung jawab. Menjaga integritas berarti menjaga mutu produk Indonesia, melindungi konsumen, sekaligus memperkuat daya saing industri nasional di pasar global," ungkapnya.

Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Industri (BPSDMI) Kemenperin Doddy Rahadi menyampaikan bahwa kualitas lulusan sekolah vokasi Kemenperin telah mendapat pengakuan dari dunia industri. "Hingga Juli 2026, sebanyak 1.483 orang atau 63,70 persen dari total 2.369 lulusan telah terserap bekerja di berbagai perusahaan industri. Capaian ini menunjukkan bahwa kompetensi lulusan SMK Kementerian Perindustrian sesuai dengan kebutuhan dunia usaha dan dunia industri," kata Doddy.

BPSDMI akan terus mendampingi lulusan yang masih dalam proses pencarian kerja. "Bagi para lulusan yang masih dalam proses rekrutmen, BPSDMI bersama SMK akan memberikan asistensi selama tiga bulan ke depan untuk pencarian kerja. Selanjutnya, apabila dalam enam bulan masih belum terserap, akan diberikan program penguatan kompetensi spesifik maupun fasilitasi pemagangan guna mempercepat penempatan kerja," jelas Doddy.

Selain memiliki tingkat penyerapan kerja yang tinggi, sekolah vokasi Kemenperin juga semakin diminati masyarakat. Pada tahun ajaran 2026, rasio pendaftar terhadap daya tampung mencapai 1:12,2, meningkat dibandingkan tahun sebelumnya sebesar 1:10,7. Doddy menegaskan tingginya animo masyarakat tersebut menjadi motivasi bagi BPSDMI untuk terus menjaga kualitas pendidikan vokasi industri.

Dari perspektif Indonesia, upaya ini sangat strategis karena negara-negara tetangga seperti Vietnam dan Thailand telah lebih dulu mengembangkan industri manufaktur berbasis teknologi. Dengan memanfaatkan bonus demografi dan meningkatkan kualitas SDM, Indonesia berpeluang besar menarik investasi langsung asing di sektor manufaktur bernilai tinggi. Selain itu, keberhasilan ini juga dapat mengurangi ketergantungan pada impor barang jadi dan memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok global.

Ke depan, Kemenperin berencana memperluas program magang nasional dan memperkuat kerja sama dengan industri untuk memastikan kurikulum vokasi tetap relevan. Pemerintah juga akan mendorong penggunaan teknologi digital di sekolah-sekolah vokasi, seperti simulasi industri 4.0 dan Internet of Things, agar lulusan siap menghadapi otomatisasi dan transformasi digital di tempat kerja.

Target menjadi pusat manufaktur dunia pada 2045 memang ambisius, tetapi dengan fondasi SDM yang kuat, dukungan kebijakan yang konsisten, dan semangat integritas dari para lulusan, Indonesia memiliki peluang nyata untuk mewujudkan visi tersebut.

Mengapa Ini Penting

Target menjadi pusat manufaktur dunia pada 2045 tidak hanya merupakan ambisi ekonomi, tetapi juga kunci untuk mengurangi pengangguran, meningkatkan nilai ekspor, dan memperkuat ketahanan industri nasional. Dengan 63,7% lulusan vokasi sudah terserap kerja, program ini menunjukkan bahwa Indonesia sedang membangun fondasi SDM yang kompetitif di kawasan Asia. Keberhasilan upaya ini akan menentukan posisi Indonesia dalam rantai pasok global dan memengaruhi kesejahteraan jutaan warga dalam beberapa dekade mendatang.

Sumber Asli
Antara News Terkini
Tanggal
16 Juli 2026
Waktu Baca
5 menit