Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, pada hari Rabu (24/6) menyatakan bahwa Amerika Serikat hingga saat ini belum memberikan tuntutan resmi kepada Israel untuk menarik pasukannya dari wilayah Lebanon selatan. Pernyataan ini disampaikan di tengah berlangsungnya negosiasi gencatan senjata yang menempatkan penarikan pasukan sebagai salah satu syarat utama yang diajukan oleh pihak Lebanon.
Dalam sebuah wawancara di sela-sela pertemuan para pemimpin daerah di Tel Aviv, Katz menyebut situasi ini sebagai pencapaian diplomatik bagi Israel. Menurutnya, posisi Israel tetap teguh untuk tidak menarik mundur pasukannya karena alasan keamanan nasional yang mendesak. Ia menegaskan bahwa kehadiran militer Israel di wilayah tersebut bertujuan untuk memberikan perlindungan bagi warga di wilayah utara Israel dari ancaman serangan lintas batas.
Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, dalam kesempatan yang sama mempertegas posisi tersebut. Ia menyatakan bahwa selama dirinya menjabat sebagai Perdana Menteri, Israel akan terus mempertahankan zona keamanan di Lebanon selatan selama diperlukan. Netanyahu menambahkan bahwa militer Israel saat ini tengah fokus pada upaya sistematis untuk membongkar seluruh infrastruktur darat milik kelompok Hezbollah.
Di sisi lain, Presiden Lebanon, Joseph Aoun, secara tegas menolak pendudukan Israel di wilayah selatan Lebanon. Aoun juga mengecam adanya campur tangan asing dalam urusan dalam negeri negaranya, sebuah sindiran yang ditujukan kepada Iran yang selama ini menjadi pendukung utama Hezbollah. Ketegangan ini menjadi latar belakang sulitnya putaran kelima perundingan Israel-Lebanon yang tengah berlangsung di Washington.
Konflik ini telah memicu eskalasi yang signifikan di Timur Tengah sejak awal Maret. Data dari Lebanon menunjukkan bahwa serangan udara dan operasi darat Israel telah mengakibatkan lebih dari 4.100 korban jiwa. Israel saat ini menduduki zona keamanan seluas 10 kilometer di sepanjang perbatasan, di mana pejabat Israel bersikeras bahwa mereka akan tetap mempertahankan kontrol atas wilayah strategis tersebut demi menjamin keamanan nasional.
Sementara itu, diplomasi tingkat tinggi terus diupayakan melalui mediasi Amerika Serikat di Washington untuk mencari solusi permanen. Fokus utama pembicaraan meliputi pelucutan senjata Hezbollah serta pengaturan penarikan pasukan. Namun, dengan sikap keras dari kedua belah pihak, tantangan untuk mencapai kesepakatan damai yang komprehensif tetap menjadi tugas diplomatik yang sangat berat bagi komunitas internasional.