Bisnis & Startup

Menteri Pertanian Andi Amran Bidik Ekspor Kopi Indonesia Rp100 Triliun

Ringkasan

  • Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menargetkan ekspor kopi Indonesia menembus Rp100 triliun per tahun, naik dari Rp40 triliun saat ini.
  • Target itu disampaikan saat inspeksi ke sentra kopi Gayo di Bener Meriah, Aceh, Selasa.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menargetkan nilai ekspor kopi Indonesia bisa menembus Rp100 triliun per tahun, naik drastis dari capaian saat ini yang sekitar Rp40 triliun pada 2025. Target ambisius ini disampaikan langsung saat ia melakukan inspeksi mendadak di kawasan pembibitan kopi di Desa Rimba Raya, Kecamatan Pintu Rime Gayo, Kabupaten Bener Meriah, Aceh, Selasa.

Menurut Amran, potensi peningkatan ekspor kopi sangat besar jika didukung oleh hilirisasi yang kuat, perluasan pasar, dan kolaborasi seluruh pemangku kepentingan. Ia bahkan menambahkan bahwa target tersebut bisa ditingkatkan hingga Rp200 triliun jika semua sektor bergerak optimal.

Dalam sidak tersebut, Amran mengapresiasi kualitas pembibitan kopi yang dinilai sangat baik dan dikawal ketat oleh penyuluh pertanian lapangan. Pemerintah telah mengalokasikan bantuan pengembangan kopi di Aceh seluas 17.000 hektare dengan total 17 juta batang bibit. Program ini diperkirakan mampu meningkatkan pendapatan pekebun hingga Rp4 triliun.

Kopi Gayo, yang merupakan andalan daerah tersebut, sudah mendunia. Amran menceritakan pengalamannya saat bertemu mantan Presiden AS Bill Clinton di Meksiko dan Argentina, di mana pembicaraan justru mengerucut pada Kopi Gayo. Hal ini menunjukkan pengakuan global terhadap kualitas kopi dari Aceh.

Tren kenaikan harga kopi menjadi berkah tersendiri. Amran menyebut harga kopi kini mencapai Rp110 ribu per kilogram, naik dari sebelumnya Rp50 ribu per kilogram. Kondisi ini, menurutnya, harus dimanfaatkan untuk meningkatkan kesejahteraan petani melalui perbaikan tata niaga dan penguatan posisi tawar petani.

Pemerintah di bawah Presiden Prabowo Subianto sedang menyiapkan penguatan sistem ekspor nasional agar Indonesia tidak lagi sekadar pemasok bahan baku. Dengan sistem tersebut, Indonesia diharapkan menjadi penentu harga komoditas unggulan, termasuk kopi. Hal ini penting mengingat selama ini posisi tawar petani sering lemah di hadapan pembeli internasional.

Ke depan, Mentan memastikan dukungan untuk pengembangan Kopi Gayo berlanjut tahun depan. Sinergi pemerintah pusat, daerah, dan petani menjadi kunci agar Aceh semakin kokoh sebagai sentra kopi terbaik dunia. Amran optimistis dengan potensi yang dimiliki, Kopi Gayo bisa menjadi motor penggerak ekspor perkebunan nasional.

Meski target ini disambut optimisme, perjalanan untuk mencapai Rp100 triliun tidak mudah. Negara pesaing seperti Vietnam dan Brasil telah lebih dulu menguasai pasar kopi dunia. Indonesia perlu memastikan konsistensi kualitas, peningkatan produktivitas per hektar, dan infrastruktur logistik yang mendukung agar kopi Indonesia mampu bersaing di pasar ekspor.

"Kami sangat puas. Pembibitannya sangat bagus, betul-betul dikawal. Saya mengapresiasi direktur, jajaran di wilayah Aceh, dan para PPL yang bekerja dengan baik mendampingi petani," ujar Amran dalam keterangan resmi.

"Saya masih ingat ketika melakukan kunjungan ke Meksiko dan Argentina, saya bertemu Presiden Amerika Serikat ke-42 Bill Clinton. Yang dibahas justru Kopi Gayo. Saya terharu karena itu menunjukkan Kopi Gayo benar-benar sudah dikenal dunia. Karena itu kita harus terus membantu petani kopi, termasuk di Aceh," tambahnya.

Pemerintah juga tengah menggodok sistem ekspor nasional yang lebih kuat di bawah arahan Presiden Prabowo. Melalui sistem ini, Amran yakin Indonesia mampu memiliki bargaining position yang lebih kuat di pasar global. "Kita ingin Indonesia sebagai produsen memiliki posisi tawar yang lebih kuat. Nilai tambah komoditas harus kembali kepada petani dan negara sehingga kesejahteraan masyarakat semakin meningkat," pungkasnya.

Dengan potensi yang ada dan dukungan pemerintah yang terus mengalir, target ekspor kopi Rp100 triliun bukan sekadar angan. Diperlukan kerja keras dan sinergi semua elemen agar kopi Indonesia, terutama Gayo, tidak hanya dikenal dunia tetapi juga mampu memberikan dampak ekonomi yang signifikan bagi petani dan negara.

Mengapa Ini Penting

Peningkatan target ekspor kopi menjadi Rp100 triliun menunjukkan komitmen pemerintah dalam menggenjot sektor perkebunan yang selama ini berkontribusi besar terhadap devisa negara. Namun, tantangan konsistensi kualitas pasca-panen dan persaingan dengan Vietnam serta Brasil masih membayangi. Jika berhasil, target ini tidak hanya akan meningkatkan kesejahteraan petani di daerah sentra seperti Aceh, tetapi juga memperkuat posisi tawar Indonesia sebagai produsen kopi utama dunia di tengah tren harga yang sedang membaik.

Sumber Asli
Antara News Terkini
Tanggal
14 Juli 2026
Waktu Baca
4 menit