Teknologi

Mesin Litografi China Diproduksi Massal, Analis Sebut Bukan Ancaman Terbesar ASML

Ringkasan

  • China dilaporkan mulai memproduksi mesin litografi DUV immersion buatan lokal melalui perusahaan di Shanghai.
  • Namun, para analis menilai kemajuan itu bukan ancaman terbesar bagi ASML dibandingkan kebijakan pembatasan Amerika Serikat.

Kecemasan Barat atas lompatan teknologi semikonduktor China kembali memuncak. Kali ini, kabar bahwa Shanghai telah mulai merakit mesin litografi deep-ultraviolet (DUV) immersion buatan dalam negeri membuat saham ASML, raksasa peralatan chip asal Belanda, langsung terpukul.

Pada Senin (27/7) waktu Amerika Serikat, harga saham ASML sempat anjlok lebih dari 8 persen sebelum ditutup melemah 5,8 persen. Pemicunya adalah laporan The Information yang menyebut China telah memproduksi mesin litografi DUV immersion melalui perusahaan yang didukung pemerintah di Shanghai.

Namun, sejumlah analis menilai kepanikan itu berlebihan. Kehadiran mesin buatan China, menurut mereka, bukanlah ancaman terbesar bagi dominasi ASML di industri litografi global. Masih ada faktor lain yang jauh lebih berisiko, terutama kebijakan politik Amerika Serikat yang justru bisa mempercepat kemandirian teknologi China.

Laporan tersebut menyebutkan China menargetkan produksi lima unit mesin DUV pada tahun ini dan sekitar 20 unit pada 2027. Rencananya, mesin-mesin itu akan dipasok ke tiga perusahaan semikonduktor terbesar China: Semiconductor Manufacturing International Corporation (SMIC), Hua Hong Semiconductor, dan ChangXin Memory Technologies (CXMT).

Kabar ini memang sempat memicu reli saham perusahaan litografi di bursa domestik China pada Selasa. Zhangjiang Hi-Tech, Yongxin Optics, Highly Group, dan Wavelength Opto-Electronic semuanya menyentuh batas atas perdagangan harian. Industri seketika bergairah, tetapi para pengamat mengingatkan bahwa memproduksi mesin tidak sama dengan membuktikan mesin itu layak dipakai terus-menerus.

Paul Triolo, partner dan pemimpin kebijakan teknologi di DGA-Albright Stonebridge Group, menegaskan bahwa mesin DUV immersion adalah perangkat dengan kompleksitas sangat tinggi. Menurutnya, menghasilkan mesin yang mampu beroperasi 24 jam sehari, tujuh hari seminggu, selama setahun penuh secara komersial adalah tantangan luar biasa.

Analis Jefferies, William Beavington, juga mengingatkan bahwa laporan kemajuan China di bidang immersion DUV sebelumnya pernah terbukti keliru. Ia memilih bersikap skeptis sampai ada bukti yang lebih konkret. Namun, ia mengakui bahwa jika mesin rumahan itu benar-benar dipakai di lini produksi SMIC atau CXMT, kapabilitas domestik China bakal meningkat jauh lebih cepat.

Saat ini, pabrik chip China masih sangat bergantung pada peralatan impor untuk menambah kapasitas produksi. Data Bank of America menunjukkan impor peralatan semikonduktor ke provinsi Anhui, tempat CXMT beroperasi, mencapai 226 juta dolar AS pada Maret. Jumlah itu lebih dari dua kali lipat rata-rata bulanan pada paruh kedua tahun lalu, dengan sistem litografi mencakup 57 persen dari total impor.

Kondisi ini menjelaskan mengapa China tidak akan berhenti membeli mesin ASML selama masih bisa. Beavington menilai kualitas mesin ASML jauh lebih unggul, sehingga insentif untuk terus menggunakannya sangat besar, terutama jika akses ke pemeliharaan dan suku cadang tetap terbuka.

Di sisi lain, risiko yang lebih konkret bagi ASML justru datang dari Amerika Serikat. Rancangan undang-undang bernama Match Act (Multilateral Alignment of Technology Controls on Hardware Act) yang telah disetujui Komite Urusan Luar Negeri DPR AS pada April berpotensi melarang penjualan sistem DUV immersion ke negara-negara yang dianggap mengkhawatirkan.

RUU itu juga bakal menerapkan pembatasan ketat pada layanan dan dukungan teknis di fasilitas manufaktur semikonduktor utama. Jika diberlakukan, ASML bisa ditarik paksa dari China. Triolo menilai skenario itu justru akan menjadi berkah tersembunyi bagi upaya lokalisasi China.

Masyarakat China yang tidak lagi bisa mengandalkan teknisi asing untuk merawat peralatan yang ada akan terdorong mempercepat adopsi mesin lokal. Semakin cepat mesin itu dipakai, semakin cepat pula pengembangan teknologinya. Ironisnya, pembatasan oleh pemasok Amerika justru sudah terbukti mendongkrak lokalisasi di kategori peralatan lain.

Riset Bernstein memperkirakan tingkat kemandirian China dalam peralatan fabrikasi wafer naik ke 21 persen tahun lalu, dari 16 persen pada 2024. Pasokan domestik tumbuh 67 persen di segmen peralatan deposisi dan 37 persen di dry etching, mendorong tingkat lokalisasi masing-masing ke 27 persen dan 31 persen.

Kendati demikian, Triolo tidak melihat China akan melahirkan perusahaan sejenis ASML. Struktur pengembangan mesin litografi China lebih menyerupai program integrasi sistem yang diarahkan negara. Shanghai Yuliangsheng Technology menjadi kendaraan proyek yang terlihat, SiCarrier menangani koordinasi strategis dan koneksi ke ekosistem Huawei, serta SMIC berperan sebagai platform kualifikasi.

Beberapa perusahaan lain seperti Shanghai Micro Electronics Equipment, Beijing Keyi Hongyuan Optoelectronics, Beijing U-Precision Tech, dan Amies Technology memasok subsistem penting. Model ini sebenarnya mirip dengan cara ASML bekerja: mengoordinasikan jaringan pemasok spesialis, bukan memproduksi semua komponen sendiri.

Bagaimana dampaknya bagi Indonesia? Meskipun tidak terlibat langsung dalam produksi semikonduktor skala besar, persaingan teknologi antara China dan Barat tetap relevan. Indonesia sedang berupaya menarik investasi di sektor hilir elektronik, dan dinamika rantai pasok global akan memengaruhi ketersediaan serta harga perangkat teknologi yang masuk ke pasar domestik.

DUV lithography sendiri merupakan teknologi paling canggih yang saat ini bisa diakses pabrik chip China, karena sistem extreme ultraviolet (EUV) masih dilarang diekspor. Jika China berhasil memproduksi mesin DUV secara konsisten, persaingan industri semikonduktor global akan memasuki babak baru yang berimplikasi luas pada geopolitik dan ekonomi dunia.

Langkah selanjutnya yang perlu dicermati adalah apakah Match Act benar-benar disahkan dan bagaimana sikap Uni Eropa. ASML selama ini menjadi instrumen diplomasi teknologi Belanda dan sekutunya. Keputusan politik yang diambil di Washington dan Brussels dalam beberapa bulan ke depan akan menentukan peta persaingan ini.

Mengapa Ini Penting

Berita ini penting karena menunjukkan bahwa persaingan teknologi semikonduktor antara China dan negara-negara Barat semakin memanas, dan kebijakan politik bisa menjadi faktor penentu yang lebih besar daripada inovasi teknis. Bagi Indonesia, dinamika ini membuka peluang investasi di sektor manufaktur elektronik, sekaligus menjadi pengingat bahwa ketergantungan pada rantai pasok global memiliki risiko besar. Jika China berhasil memproduksi mesin DUV secara massal, harga perangkat elektronik di pasar global, termasuk Indonesia, berpotensi berubah. Namun, jika pembatasan AS justru mempercepat kemandirian China, peta kekuatan industri chip dunia akan bergeser dan Indonesia perlu menyiapkan strategi agar tidak tertinggal.

Sumber Asli
Channel NewsAsia
Tanggal
2 Agustus 2026
Waktu Baca
6 menit