Barak Yagour, Vice President of Engineering di Meta, tampil mengenakan kacamata pintar Ray-Ban Meta AI saat membuka sesi di konferensi VB Transform 2026 yang digelar di Amerika Serikat. Perangkat tersebut menjadi simbol kecil betapa kecerdasan buatan telah menyelinap ke dalam rutinitas fisik, namun argumen yang ia sampaikan menyentuh hal jauh lebih mendasar bagi dunia teknologi.
Yagour menegaskan bahwa infrastruktur perusahaan modern dibangun untuk melayani manusia, bukan agen otonom. Ia memperingatkan bahwa sisa waktu untuk merombak sistem tersebut mungkin hanya 20 bulan lagi, sebelum beban query dari AI agen meruntuhkan asumsi yang telah dibangun selama dua dekade.
Latar belakang peringatan itu muncul dari lonjakan aktivitas mesin di dalam Meta sendiri. Yagour mengungkapkan bahwa query berbasis agen yang menghantam sistem data perusahaannya melonjak 30 kali lipat hanya dalam satu periode paruh tahun. Pertumbuhan vertikal itu membalikkan logika kapasitas yang selama ini dijadikan pedoman tim engineering.
Fenomena serupa terjadi di seluruh internet. Laporan Imperva 2025 Bad Bot Report mencatat bahwa trafik otomatis telah melampaui trafik manusia sejak tahun lalu, mencakup 51% dari total aktivitas jaringan. Sementara itu, riset HUMAN Security bertajuk State of AI Traffic 2026 menyebut trafik otomatis tumbuh delapan kali lebih cepat dibandingkan trafik manusia. Yagour merujuk kedua data itu untuk menandai titik inflasi yang sudah berjalan.
Tiga asumsi inti infrastruktur Meta disebut Yagour rusak secara bersamaan: kapasitas, identitas, dan kecepatan. Pada sisi kapasitas, rumus lama yang mengaitkan satu insinyur dengan satu beban kerja sudah tidak berlaku. Seorang insinyur kini dapat melahirkan 10 agen, yang masing-masing menciptakan subagen, sehingga organisasi berisi 1.000 orang tiba-tiba memproduksi beban setara 100.000 pengguna dalam semalam.
Bagi ekosistem teknologi Indonesia, sinyal ini merupakan alarm nyata. Sebagian besar perusahaan lokal, termasuk perbankan dan e-commerce, masih mengandalkan sistem yang membedakan akses berdasarkan identitas manusia atau layanan terdeploy. Ketika agen AI mulai mengambil alih proses pengambilan keputusan, kontrol keamanan tradisional berisiko kewalahan.
Survei internal beberapa startup domestik menunjukkan adopsi asisten berbasis large language model baru tahap eksperimen. Namun, trafik bot di situs belanja dan layanan publik Indonesia sudah meningkat signifikan pasca-pandemi. Jika tidak disiapkan infrastruktur yang peka terhadap agen, lonjakan permintaan otomatis dapat memicu latensi dan biaya komputasi melambung, seperti yang dialami Meta.
Pemerintah dan pelaku industri dalam negeri perlu memetakan ulang tata kelola data. Produk lokal serupa agentic data apps belum masif, namun layanan seperti analitik perbankan otomatis dan chatbot layanan pelanggan sudah menyentuh jutaan pengguna. Tantangannya adalah menyediakan lingkungan terpercaya yang membatasi agen bergerak bebas tanpa mengorbankan kepatuhan privasi.
Yagour secara gamblang menyatakan risiko otonomi tanpa batas. “Otonomi tanpa tata kelola tidak lebih dari kekacauan,” ujarnya merujuk pada eksperimen Meta yang memberikan agen wewenang lebih luas di sistem data. Untuk meredam risiko, perusahaan membangun apa yang disebut trusted data environments, di mana agen boleh menjelajah data mentah, tetapi setiap output dilacak kembali ke sumbernya dan diperiksa ketat.
Kutipan lain menyoroti soal identitas. Menurut Yagour, agen tidak cocok dengan kategori kendali akses yang lazim: ia bukan pengguna manusia, tidak membawa kartu identitas, dan bukan layanan terdeploy, meski mampu mengambil keputusan sendiri. Meta memasker field sensitif sebelum agen menjangkaunya, serta mengevaluasi setiap permintaan secara real-time berdasarkan tujuan dan izin yang dimiliki.
Ke depan, Meta merombak lapisan data untuk memenuhi selera model reasoning yang haus akan informasi. Yagour menyebut pipeline streaming real-time menggantikan proses batch ETL untuk sistem rekomendasi, karena model butuh riwayat perilaku lengkap bukan sekadar sinyal ringkas. Penyimpanan juga dibuat sadar skema guna mencegah GPU menganggur akibat pengambilan data berlebih, dengan target 500 juta query per detik dan throughput petabyte per detik.
Proyeksi 20 bulan dari Meta bukan sekadar tenggat bagi raksasa silikon valley. Ini adalah panggilan bagi seluruh tim infrastruktur global, termasuk Indonesia, untuk mulai membangun sistem yang agent-aware. Tanpa penyesuaian segera, transisi menuju rekomendasi konversasional dan otomasi menyeluruh akan tertahan oleh fondasi yang usang.