Saham Asia melorot tajam pada Jumat (24/7) setelah harga minyak Brent melonjak melewati US$100 per barel, mendorong indeks MSCI Asia Pasifik kecuali Jepang turun 1 persen, Nikkei 225 anjlok 2,9 persen, dan KOSPI Korea Selatan mengoreksi 3,7 persen.
Lonjakan minyak dipicu oleh eskalasi konflik di Teluk: serangan Houthi yang didukung Iran ke tanker Arab Saudi di Laut Merah serta penutupan hampir total Selat Hormuz oleh Tehran, yang bersama-sama mengganggu dua koridor pengangkutan minyak paling sibuk dunia.
Nigel Green, CEO deVere Group, menilai bahwa ancaman ganda pada jalur pelayaran tersebut baru mulai dihitung pasar, dan kekhawatiran inflasi yang sempat reda kini kembali mengancam kebijakan moneter global.
Kebijakan tarif baru AS terhadap 60 mitra dagang menambah tekanan inflasi, mengangkat hasil obligasi 30 tahun AS mendekati level tertinggi sejak 2007 dan biaya pinjam Eropa ke puncak 2011.
Pasar kini menilai peluang satu pertiga Fed menaikkan suku bunga minggu depan, sedangkan kenaikan September sudah sepenuhnya diharga; ECB juga memperhitungkan peluang 70 persen kenaikan bulan depan.
Di sisi ekuitas, Nasdaq futures hanya naik tipis 0,1 persen didorong hasil Intel, namun sentimen positif itu cepat tergerus oleh kekhawatiran minyak dan suku bunga.
Laporan Alphabet dan Tesla yang membakar kas untuk investasi infrastruktur AI membuat investor kecemasan, memperparah penjualan saham teknologi besar di Wall Street semalam.
Di pasar obligasi, yield 10 tahun AS bertahan di 4,7013 persen setelah menyentuh puncak 18 bulan 4,7030 persen, sedangkan yield 30 tahun di 5,17 persen mendekati rekor 19 tahun; dollar index naik ke 101,46 dan yen melemah ke 163,89 per dolar.
Analis IG Tony Sycamore memperingatkan intervensi yen atau percepatan kenaikan suku bunga BOJ akan diabaikan pasar, mengibaratkan upaya menopang yen seperti berdiri di depan kereta cepat.
Komoditas logam mulia ikut terkoreksi: emas turun 0,1 persen ke US$4.043 per ons setelah anjlok 2 persen semalam, perak stabil di US$57,45 setelah turun 3,4 persen.
Bagi Indonesia, kenaikan minyak mengancam neraca pembayaran karena impor BBM dan bahan baku industri, sekaligus memicu tekanan inflasi domestik yang bisa memaksa Bank Indonesia mempertahankan atau menaikkan suku bunga acuan.
Ke depan, pelaku pasar akan memantau perkembangan pasokan minyak, keputusan Fed minggu depan, serta respons kebijakan moneter BI dan intervensi yen Jepang sebagai indikator risiko sistemik regional.