Sheikh Hamad bin Khalifa Al Thani, mantan Emir Qatar yang dikenal sebagai arsitek modernisasi negara tersebut, meninggal dunia pada usia 74 tahun. Sosok yang akrab disapa Father Emir ini memerintah Qatar dari 1995 hingga 2013, meninggalkan warisan reformasi ekonomi, sosial, dan budaya yang mendalam.
Lahir di Doha pada Januari 1952, Sheikh Hamad menempuh pendidikan awal di kota kelahirannya sebelum melanjutkan ke Akademi Militer Kerajaan Inggris di Sandhurst pada 1971. Ia bergabung dengan angkatan bersenjata Qatar dan mencapai pangkat mayor jenderal, berperan penting dalam pengembangan militer negara tersebut.
Pada 31 Mei 1977, ia diangkat sebagai putra mahkota dan menteri pertahanan. Pada 10 Mei 1989, ia menjadi ketua Dewan Tertinggi Perencanaan, bertanggung jawab atas kebijakan sosial dan ekonomi Qatar. Setelah karier militer dan pemerintahan yang sukses, ia mengambil alih kepemimpinan Qatar pada 27 Juni 1995, dan berkuasa hingga 25 Juni 2013, saat menyerahkan tahta kepada putranya, Sheikh Tamim bin Hamad Al Thani.
Di bawah kepemimpinan Sheikh Hamad, ekonomi Qatar mengalami pertumbuhan pesat berkat ekspansi sektor energi. Ia memandang ladang gas North Field, ladang gas non-asosiasi terbesar di dunia, sebagai pilar dominasi ekonomi Qatar. Investasi besar-besaran di sektor LNG pun dilakukan, dan pada 1996, Qatar mulai mengekspor LNG, dengan pengiriman pertama ke Jepang. Pada 2006, Qatar menjadi eksportir LNG terbesar di dunia, dan pada 2010, kapasitas produksi LNG mencapai 77 juta ton per tahun, mewakili 20 persen pasar global saat ini.
Selain energi, Sheikh Hamad merancang rencana pembangunan komprehensif di bidang pendidikan, kesehatan, olahraga, budaya, dan media. Pada Oktober 2001, ia membentuk Dewan Tertinggi Urusan Ekonomi dan Investasi untuk mengawasi ekonomi, energi, dan diversifikasi investasi. Langkah ini memperkuat fondasi ekonomi Qatar yang berkelanjutan.
Sheikh Hamad juga mengambil langkah berani dalam kebebasan pers. Beberapa bulan setelah menjabat, pada Oktober 1995, ia menghapus sensor pers lokal, meningkatkan status kebebasan pers di Qatar. Pada 1996, ia meluncurkan Al Jazeera Media Network, yang menjadi fajar baru di dunia media Arab dan internasional. Al Jazeera kini dikenal sebagai salah satu jaringan media paling terkemuka, meliput berita global, geopolitik, dan memberikan suara bagi komunitas minoritas.
Dalam hal demokrasi, Sheikh Hamad memperkenalkan pemilihan kota pada Maret 1999, di mana perempuan diizinkan memilih dan mencalonkan diri. Pada 8 Juni 2004, Qatar mengadopsi konstitusi permanen pertamanya, yang menetapkan dasar-dasar pemerintahan demokratis dan hak-hak warga negara. Ia juga meluncurkan Qatar National Vision 2030 pada 2004, sebuah strategi jangka panjang untuk mentransformasi Qatar menjadi ekonomi berbasis pengetahuan dan pembangunan berkelanjutan.
Di panggung global, Sheikh Hamad meningkatkan profil Qatar sebagai mediator konflik. Qatar terlibat dalam mediasi sengketa Hanish Islands antara Eritrea dan Yaman pada 1995, perang Yaman 2007-2010, krisis politik Lebanon 2008, dan proses perdamaian Darfur 2010-2011. Pada Oktober 2012, ia menjadi pemimpin Arab pertama yang mengunjungi Gaza sejak blokade, membawa 90 ton bantuan dan berkomitmen untuk investasi $400 juta di bidang perumahan dan infrastruktur, serta merangkul kepemimpinan Hamas, yang mengecewakan Israel dan sekutunya.
Warisan Sheikh Hamad tidak hanya terlihat dari pertumbuhan ekonomi dan infrastruktur, tetapi juga dari peran Qatar sebagai pusat diplomasi dan media global. Langkah-langkahnya telah mengubah Qatar dari negara kecil menjadi pemain kunci di panggung dunia, dengan dampak yang terus terasa hingga kini.