Jakarta – Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto menerima kunjungan kenegaraan Presiden Belarus, Alexandr Lukashenko, di Istana Merdeka, Jakarta, pada Kamis. Pertemuan diplomatik ini diwarnai dengan momen menarik saat Lukashenko memberikan pulpen yang baru saja digunakannya untuk menandatangani buku tamu kepada Presiden Prabowo.
Peristiwa tersebut terekam dalam siaran langsung Sekretariat Presiden saat Lukashenko menyelesaikan prosesi penandatanganan buku tamu di Ruang Kredensial. Tanpa diduga, Lukashenko menyerahkan pulpen berwarna hitam dan emas yang digunakannya kepada Prabowo. Presiden Prabowo sempat menunjukkan ekspresi terkejut, namun dengan sikap hangat, beliau menerima pulpen tersebut dan menyimpannya di saku jasnya sebagai simbol persahabatan kedua negara.
Prosesi penyambutan kemudian berlanjut dengan sesi foto bersama dan perkenalan delegasi masing-masing negara. Presiden Prabowo didampingi oleh jajaran menteri kabinet, di antaranya Menteri Luar Negeri Sugiono, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, serta Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin. Selain itu, hadir pula jajaran menteri terkait lainnya seperti Bahlil Lahadalia, Prasetyo Hadi, dan Fadli Zon.
Sementara itu, Presiden Lukashenko memperkenalkan delegasi dari Belarus yang terdiri dari tokoh-tokoh penting, termasuk kedua putranya, Dmitry Lukashenko dan Nikolai Lukashenko. Hadir pula Wakil Perdana Menteri Viktor Karankevich dan Menteri Luar Negeri Maxim Ryzhenkov. Kehadiran delegasi tingkat tinggi ini menunjukkan keseriusan Belarus dalam mempererat hubungan bilateral dengan Indonesia.
Setelah rangkaian penyambutan, kedua kepala negara melanjutkan pertemuan empat mata di ruang kerja Presiden. Agenda utama dalam kunjungan ini adalah peluncuran 'Road Map for Bilateral Cooperation 2026–2030'. Kesepakatan ini menjadi landasan strategis bagi kedua negara untuk memperkuat kerja sama di sektor ekonomi, pertanian, ketahanan pangan, serta pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Belarus merupakan mitra strategis bagi Indonesia di kawasan Eurasia dan anggota kunci Uni Ekonomi Eurasia (EAEU). Mengingat Indonesia telah menandatangani perjanjian perdagangan bebas dengan EAEU pada Desember 2025, kunjungan ini dipandang sebagai langkah krusial untuk mengoptimalkan akses pasar dan memperluas cakupan kerja sama ekonomi yang lebih luas bagi kepentingan nasional kedua negara.