Internasional

Mossad Pecat Dua Pejabat Senior Usai Gagal Gulingkan Rezim Iran

Ringkasan

  • Badan intelijen Israel Mossad memberhentikan kepala direktorat intelijen dan kepala divisi Iran usai operasi penggulingan rezim Tehran gagal sebelum mencapai tahap eksekusi.

Badan intelijen Israel Mossad secara resmi memecat dua pejabat senior dalam rangka perombakan besar-besaran pasca kegagalan misi rahasia menggulingkan rezim Iran. Kedua pejabat tersebut adalah kepala direktorat intelijen yang baru dilantik beberapa bulan lalu serta kepala divisi Iran, meski identitas keduanya tetap dirahasiakan demi keamanan operasional.

Menurut laporan Channel 12, misi penggulingan rezim dirancang untuk memicu pemberontakan massa di Iran, namun rencana itu stagnan di tahap perencanaan dan tidak pernah memasuki tahap operasional. Kegagalan ini memicu amarah kepala Mossad Roman Gofman yang sejak awal dikabarkan bersengketa dengan kedua pejabat tersebut terkait strategi dan prioritas penanganan ancaman Iran.

Latar belakang pemecatan ini tidak terlepas dari dinamika geopolitik yang berputar cepat sejak Februari lalu. Pada 28 Februari, Israel dan Amerika Serikat melancarkan serangan gabungan ke Iran yang berhasil menewaskan Ayatollah Ali Khamenei, pemimpin tertinggi negara tersebut. Kematian Khamenei seharusnya menciptakan kekosongan kekuasaan yang dimanfaatkan untuk transisi rezim, namun realitas di lapangan berjalan אחרת.

Iran dengan cepat menunjuk Mojtaba Khamenei, putra sang ayatollah, sebagai penerus kepemimpinan. Transisi kekuasaan berlangsung tertib tanpa gejala keacauan sipil yang diharapkan oleh arsitek operasi. Pemerintahan teokratis Tehran justru menunjukkan ketangguhan struktural, sementara serangan balas Iran ke posisi AS di Timur Tengah justru mengescalate ketegangan.

Kegagalan prediksi Netanyahu soal kerapuhan rezim Iran memicu kemarahan Presiden Donald Trump. Beberapa media AS melaporkan Trump merasa dibujuk Netanyahu untuk menyerang Iran dengan janji rezim akan runtuh sendirian. Fakta di lapangan membuktikan sebaliknya, mendorong Trump untuk mengecualikan Netanyahu dari pengambilan keputusan strategis terkait perang lawan Iran.

Puncak perpecahan ini terlihat pada 18 Juni ketika AS dan Iran menandatangani nota kesepahaman kerangka perdamaian — sebuah langkah diplomatik yang ditentang keras oleh Israel. Perundingan lanjutan kemudian macet akibat eskalasi di Selat Hormuz, menunjukkan betapa rumitnya dinamika kekuasaan di wilayah tersebut.

Bagi Indonesia, ketidakstabilan Timur Tengah ini memiliki dampak ekonomi nyata. Sebagai negara importir energi dan komoditas pertanian, kenaikan harga minyak dunia akibat ketegangan Selat Hormuz langsung mengikis daya beli masyarakat dan menambah beban anggaran subsidi energi. Kementerian ESDM telah mengakui risiko pasokan BBM jika jalur strategis tersebut terblokir.

Di sisi keamanan, Indonesia sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar dunia memperhatikan dinamika Iran-Israel dengan cermat. Escalasi konflik berpotensi memicu radikalisme dan polarisasi domestic, meski pemerintah melalui Kemlu konsisten mendorong diplomasi dan solusi dua negara untuk Palestina. Kehadiran Mojtaba Khamenei sebagai pemimpin baru juga menandakan kontinuitas kebijakan anti-Barat yang mempengaruhi dinamika OIC dan forum multilateral lain.

Analis keamanan regional menilai pemecatan massal di Mossad mencerminkan krisis kepercayaan internal Israel terhadap kemampuan intelijen mereka memprediksi dinamika internal Iran. Kegagalan ini bukan hanya soal operasi gagal, tapi kegagalan analisis fundamental tentang struktur kekuasaan Tehran yang ternyata lebih kokoh dari estimasi.

Sementara itu, observator diplomasi mencatat pergeseran peran AS dari sekutu militan Israel menjadi mediator yang justru mengejar kesepakatan terpisah dengan Iran. Langkah Trump menandatangani kerangka perdamaian tanpa persetujuan Netanyahu menandakan era baru di mana kepentingan nasional AS tidak lagi sepenuhnya selaras dengan agenda keamanan Israel.

Ke depan, perombakan di Mossad kemungkinan besar akan diikuti peninjauan ulang doktrin intelijen Israel terhadap Iran. Fokus mungkin bergeser dari strategi "rejim change" ke pendekatan containment dan sabotase terbatas. Bagi Indonesia, situasi ini menegaskan pentingnya diversifikasi sumber energi dan ketahanan pangan sebagai pertahanan utama terhadap gejolak geopolitik global yang semakin tidak terduga.

Mengapa Ini Penting

Kegagalan operasi Mossad dan perpecahan AS-Israel mengubah lanskap keamanan Timur Tengah secara fundamental. Bagi Indonesia, ini bukan sekadar berita luar negeri: kenaikan harga minyak dari ketegangan Selat Hormuz langsung menggerus daya beli rakyat dan membengkakkan defisit anggaran subsidi energi. Lebih jauh, munculnya pemimpin Iran baru yang anti-Barat dan isolasi diplomatik Israel mempersulit upaya Indonesia memainkan peran konstruktif di forum OIC dan PBB. Pemecatan massal di intelijen Israel juga mengirim sinyal bahaya: bahkan aparat intelijen terbaik dunia bisa salah baca dinamika internal lawan — pelajaran krusial bagi aparat keamanan kita sendiri dalam menghadapi ancaman asimetris.

Sumber Asli
CNN Indonesia Internasional
Tanggal
8 Agustus 2026
Waktu Baca
4 menit