Real Madrid resmi memasuki era baru di musim La Liga 2026-27 dengan kembalinya Jose Mourinho ke Santiago Bernabeu. Keputusan Florentino Perez memanggil pelatih Portugal itu meniru skenario 2010, saat Madrid mengakhiri kekeringan gelar dua musim dengan menyerahkan tim ke tangan Mourinho. Kali ini, latar belakangnya mirip: Los Blancos gagal meraih trofi besar dua musim berturut-turut, meski skuad mereka dipenuhi bintang-bintang dunia seperti Kylian Mbappe, Vinicius Junior, dan Jude Bellingham.
Perez tidak hanya mengandalkan Mourinho. Presiden Real Madrid juga melakukan rekrutan massal di lini belakang dan tengah. Marc Cucurella, Denzel Dumfries, Ibrahima Konate, dan Bernardo Silva hadir memperkuat struktur tim. Di depan, Yan Diomande diboyong dari RB Leipzig dengan nilai transfer 125 juta euro — rekaman baru yang menimbulkan tanda tanya mengingat Madrid praktisch menawar melawan diri sendiri setelah saingan lain mundur. Diomande, yang dibesarkan di Florida AS usai gagal di uji coba MLS, dinilai mirip versi muda Vinicius dengan kemampuan bermain di kedua sayap.
Kembalinya Mourinho membawa konsekuensi taktis yang fundamental. Berbeda dengan era Zinedine Zidane atau Carlo Ancelotti yang mengedepankan kebebasan ekspresif, Mourinho membangun tim dari pertahanan. Preseason menunjukkan gambaran jelas: Madrid menang 1-0 atas Deportivo La Coruna di Trofeo Teresa Herrera dengan 19 substitusi, tapi Antonio Rudiger bermain fisik keras sejak menit pertama. Ini sinyal bahwa "Mourinho-ball" — disiplin, struktur, dan pragmatisme — akan menjadi identitas baru tim paling mahal La Liga.
Namun, ada paradoks menarik. Madrid memiliki trio serangan terbaik dunia: Mbappe (42 gol musim lalu plus 10 untuk Prancis di Piala Dunia), Vinicius Junior, dan Bellingham. Di sinilah dilema Mourinho: bagaimana mengintegrasikan konservatisme defensif dengan potensi eksplosif tiga bintang itu? Di masa lalu, striker di bawah Mourinho sering dikorbankan tugas defensif. Mbappe dan Vinicius bukan tipe pemain yang nyaman mundur menutupi back.
Masalah nomor 9 tetap belum terpecahkan. Endrick, dibeli 47,5 juta euro dari Palmeiras, dipinjamkan ke Lyon musim lalu dan hanya mencetak lima gol. Dia tidak memiliki profil target man klasik. Carlos Espi, bekas Levante dengan tinggi 193 cm, jadi opsi Mourinho untuk peran penopang bola — tapi usianya baru 21 tahun dan pengalaman minim. Perez menolak melepaskan Endrick, berbeda dengan Nico Paz (ke Como) dan Gonzalo Garcia (ke Fulham) yang dibiarkan pergi. Ini taruhan besar bagi presiden Madrid.
Bernardo Silva hadir mengisi kekosongan Luka Modric. Tengah Kroasia itu pergi meninggalkan celah kreativitas dan kontrol tempo. Silva membawa ketenangan dan kecerdasan posisi, tapi usianya sudah 31 tahun. Konate dan Dumfries memberikan fisikitas dan kecepatan di lini belakang, menggantikan Ferland Mendy dan menjadi alternatif Trent Alexander-Arnold yang tidak jadi datang. Cucurella, satu-satunya pemenang Piala Dunia 2026 di skuad Madrid, menawarkan kecerdasan taktis di sisi kiri mendukung Vinicius.
Statistik musim lalu mengkhawatirkan. Madrid mencetak 77 gol di La Liga — turun dari 78 musim sebelumnya dan 87 di 2023-24. Padahal Mbappe sendiri mencetak 42 gol. Artinya, tim terlalu bergantung pada brilian individu, bukan sistem kolektif. Mourinho harus memecahkan kode ini: menciptakan struktur yang justru membebaskan Mbappe dan Vinicius, bukan membelenggu mereka.
Persaingan di La Liga semakin ketat. Barcelona mengejar three-peat gelar liga di bawah Hansi Flick, sedangkan Paris Saint-Germain baru saja meraih kemenangan Champions League pertama mereka dan menegaskan dominasi Eropa. Perez tidak akan diam. Dia ingin gelar ke-16 Champions League — memperluas rekor — dan gelar Liga ke-37, tujuh lebih banyak dari Barca.
Di perspektif Indonesia, Real Madrid tetap klub paling populer di kalangan penggemar sepak bola. Kehadiran Mbappe, Vinicius, dan Bellingham memastikan rating siar langsung tetap tinggi di platform streaming lokal. Namun, gaya bermain Mourinho yang cenderung pragmatis bisa menurunkan daya tarik tontonan bagi penonton Indonesia yang terbiasa dengan sepak bola spektakuler. Ini tantangan bagi pemegang hak siar: bagaimana memasarkan tim yang menang tapi tidak selalu memuaskan mata.
Proyeksi ke depan, kunci musim Madrid ada pada keseimbangan. Jika Mourinho berhasil membuat pertahanan paling solid di Eropa sambil Mbappe-Vinicius-Bellingham tetap produktif, Madrid akan menakutkan. Jika tidak, tekanan pada Perez akan melonjak — dan sejarah menunjukkan dia tidak sabar menunggu. Musim 2026-27 akan menjawab apakah "Mourinho kedua" ini bisa memberikan apa yang gagal dicapai di masa pertamanya: trofi Champions League.