Otoritas Myanmar melakukan pemusnahan besar-besaran terhadap barang bukti narkoba hasil sitaan dengan nilai estimasi mencapai US$525 juta pada Jumat (26/6/2026). Aksi pembakaran ini dilakukan di Yangon bertepatan dengan peringatan Hari Internasional Menentang Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkoba yang ditetapkan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Dalam upacara tersebut, petugas membakar 31 jenis narkotika yang berbeda di sebuah kawasan industri di pinggiran Yangon. Asap hitam pekat membubung ke udara saat petugas menyalakan api pada tumpukan narkoba yang telah disiram bahan bakar. Proses pembakaran berlangsung selama 30 menit sebelum akhirnya dipadamkan oleh tim pemadam kebakaran setempat.
Petugas kepolisian anti-narkoba, Aung Myat Soe, mengungkapkan bahwa jenis narkotika yang paling mendominasi dalam pemusnahan kali ini adalah methamphetamine atau yang dikenal sebagai sabu-sabu. Tercatat lebih dari 28 ton sabu-sabu menjadi bagian dari total barang bukti yang dimusnahkan, menandai peningkatan signifikan dibandingkan jumlah sitaan pada tahun sebelumnya.
Menteri Dalam Negeri Myanmar, Nyunt Win Swe, dalam pernyataannya menuding faksi-faksi pemberontak sebagai pihak yang paling bertanggung jawab atas melonjaknya perdagangan narkoba di negara yang tengah dilanda konflik tersebut. Menurut pemerintah, kelompok pemberontak memanfaatkan ketidakpastian politik dan situasi perang saudara untuk memperluas jaringan bisnis ilegal mereka demi mendanai operasional kelompok.
Para pengamat internasional menilai bahwa runtuhnya tata kelola pemerintahan pasca-kudeta militer tahun 2021 telah menciptakan kekosongan hukum yang dimanfaatkan oleh berbagai pihak untuk meraup keuntungan dari perdagangan narkoba. Saat ini, Myanmar telah muncul sebagai produsen opium terbesar di dunia, menggeser posisi Afghanistan setelah Taliban melakukan penindakan keras terhadap produksi narkotika di sana.
Selain menjadi pusat opium, Myanmar juga tercatat sebagai sumber utama methamphetamine di Asia Tenggara menurut data UNODC. Upaya pemusnahan ini dilakukan serentak di beberapa wilayah strategis seperti Mandalay dan Taunggyi, ibu kota negara bagian Shan yang menjadi pusat perdagangan opium. Sebelumnya pada Januari lalu, pihak berwenang juga berhasil membongkar tiga laboratorium narkoba skala besar di wilayah pegunungan yang terhubung dengan infrastruktur canggih.