Seorang hakim federal Amerika Serikat, Christopher Cooper, secara resmi meminta penjelasan dari pihak pengelola Kennedy Centre terkait keberadaan terpal putih dan perancah yang masih menutupi bagian depan gedung tersebut. Instruksi ini muncul setelah nama mantan Presiden Donald Trump dihapus dari fasad gedung pusat seni pertunjukan terkemuka di Washington tersebut awal bulan ini.
Dalam perintah pengadilan yang dikeluarkan pada hari Rabu, Hakim Cooper memberikan tenggat waktu kepada dewan pengawas Kennedy Centre hingga akhir Juli. Mereka diwajibkan untuk memberikan klarifikasi mendalam mengenai tujuan serta status terkini dari pemasangan terpal dan perancah yang masih berdiri kokoh di portiko depan gedung. Pihak pengadilan menuntut transparansi mengenai mengapa area tersebut belum dibersihkan sepenuhnya setelah penghapusan nama dilakukan.
Kontroversi ini berakar dari tindakan Donald Trump yang sempat menunjuk dirinya sendiri sebagai ketua Kennedy Centre setelah kembali ke Gedung Putih tahun lalu. Dalam langkah yang dianggap kontroversial oleh banyak pihak, ia melakukan perombakan besar-besaran pada dewan pengelola dengan menempatkan para loyalisnya. Keputusan ini memicu ketegangan di lingkungan institusi seni tersebut karena dianggap mencampuradukkan politik dengan lembaga budaya independen.
Pada bulan Desember lalu, dewan pengawas yang baru dibentuk tersebut melakukan pemungutan suara untuk mengubah nama institusi menjadi 'The Donald J. Trump and John F. Kennedy Memorial Center for the Performing Arts'. Nama Trump kemudian dipasang dengan huruf berukuran besar di atas nama Kennedy, sebuah langkah yang memicu gelombang protes dari kalangan seniman dan publik. Akibat dari kebijakan ini, sejumlah seniman membatalkan jadwal pertunjukan mereka sebagai bentuk protes.
Penghapusan nama Trump dari gedung tersebut merupakan tindak lanjut dari putusan hukum yang dikeluarkan oleh Hakim Cooper awal Juni lalu. Meskipun nama tersebut telah berhasil dilepas dari fasad, keberadaan terpal dan perancah yang masih menutupi area tersebut memicu kecurigaan baru di mata hukum. Hakim ingin memastikan bahwa penghapusan tersebut dilakukan secara tuntas dan tidak ada upaya tersembunyi di balik penutupan fisik tersebut.
Kasus ini kini menjadi sorotan publik di Amerika Serikat sebagai simbol tarik-ulur antara pengaruh politik dan integritas institusi budaya. Bagi banyak pengamat, situasi di Kennedy Centre mencerminkan betapa sensitifnya menjaga netralitas ruang publik dari kepentingan politis. Pihak pengelola Kennedy Centre hingga saat ini belum memberikan pernyataan resmi mengenai alasan teknis mengapa perancah tersebut belum dibongkar sepenuhnya pasca-eksekusi perintah pengadilan.