Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan babak baru negosiasi dengan Iran akan dimulai hari ini, Senin (3/8). Pernyataan itu disampaikan Trump di atas pesawat kepresidenan Air Force One saat menuju Pangkalan Gabungan Andrews, Maryland, Minggu (2/8) waktu setempat.
Trump menegaskan negosiasi kali ini merupakan tindak lanjut dari pembatalan serangan besar-besaran ke Iran yang sebelumnya direncanakan Washington. "Jelas, mereka tak ingin diserang. Mereka tahu skala serangan karena mereka melihatnya," ujar Trump kepada awak media, dikutip dari AFP.
Keputusan membatalkan serangan itu, menurut Trump, lahir setelah ia berkonsultasi dengan sejumlah negara di kawasan Teluk. Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Qatar, dan Iran disebut-sebut menjadi pihak yang mendorong agar Washington mengurungkan niatnya untuk melancarkan serangan masif.
"Mereka tak menginginkannya, dan terus terang, Arab Saudi juga tak menginginkannya," imbuh Trump. Riyadh selama ini merupakan sekutu dekat Washington di Timur Tengah, namun tampak enggan terlibat dalam eskalasi konflik yang lebih luas.
Langkah negosiasi ini menjadi babak baru dalam dinamika hubungan AS-Iran yang mengalami pasang surut sepanjang beberapa bulan terakhir. Sempat terjadi gencatan senjata pada April yang kemudian diperpanjang tanpa batas waktu, lalu pada Juni kedua negara menandatangani nota kesepahaman untuk menghentikan pertempuran. Namun pada Juli, AS kembali melancarkan serangan yang dibalas langsung oleh Teheran.
Kini, Trump mengklaim bahwa perundingan akan membahas dua isu penting: status Selat Hormuz dan masa depan program nuklir Iran. "Berkaitan dengan Selat Hormuz dan pada akhirnya juga denuklirisasi," kata politikus Republik itu, dikutip dari Anadolu Agency.
Selat Hormuz adalah jalur laut strategis tempat sekitar 20 persen pasokan minyak dunia melintas. Penutupan selat ini oleh Iran pada masa konflik sebelumnya sempat membuat pasar energi global guncang dan harga minyak melonjak drastis.
Bagi Indonesia, isu Selat Hormuz bukan sekadar berita mancanegara. Kestabilan jalur ini berdampak langsung pada harga minyak mentah dunia, yang pada ujungnya berpengaruh pada harga BBM di dalam negeri dan inflasi. Ketegangan yang berlarut-larut berpotensi menekan anggaran subsidi energi dan memicu kenaikan harga kebutuhan pokok.
Selain itu, sekitar 1.500 WNI tercatat bekerja di Iran dan kawasan teluk sekitarnya. Setiap eskalasi konflik di kawasan itu selalu menimbulkan kekhawatiran akan keselamatan mereka. Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Luar Negeri biasanya bersiap melakukan evakuasi jika situasi keamanan memburuk.
Pengamat hubungan internasional menilai langkah Trump yang berulang kali membatalkan serangan menunjukkan tekanan domestik yang kuat terhadap kebijakan luar negerinya. Di sisi lain, Iran menunjukkan posisi tawar yang kuat dengan tetap membuka pintu negosiasi meski terus diserang.
Kendati demikian, peluang keberhasilan perundingan masih dipertanyakan. Sejarah menunjukkan bahwa AS dan Iran selalu gagal mempertahankan kesepakatan dalam jangka panjang. Sikap saling curiga dan kepentingan nasional yang berlawanan kerap menjadi batu sandungan.
Israel, sekutu dekat AS, juga memiliki kepentingan besar dalam isu program nuklir Iran. Tel Aviv selama ini dianggap sebagai salah satu pendukung utama serangan terhadap fasilitas nuklir Iran. Jika negosiasi AS-Iran menghasilkan kesepakatan yang tidak sesuai keinginan Israel, tekanan politik dari negara tersebut bisa menjadi faktor pengganggu.
Proyeksi ke depan, negosiasi kali ini akan menjadi ujian kredibilitas bagi kedua belah pihak. Trump mengklaim ingin menyelesaikan masalah dengan cara damai, tetapi rekam jejaknya yang sering berubah-ubah membuat banyak pihak menahan optimisme. Iran, di sisi lain, tetap bersikap hati-hati dan menegaskan tidak akan menyerah pada tekanan.
Masyarakat Indonesia perlu mencermati perkembangan ini karena dampaknya tidak hanya pada harga minyak, tetapi juga pada stabilitas keamanan regional. Setiap keputusan yang diambil Washington dan Teheran dalam negosiasi ini akan bergema hingga ke pasar energi dan geopolitik Asia Tenggara.