Internasional

Netanyahu Kunjungi AS, Abaikan Desakan Mamdani: Temui Trump hingga Pemakaman Graham

Ringkasan

  • Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu tetap berkunjung ke Amerika Serikat pada 27 Juli 2026 meskipun ada desakan penangkapan dari Zohran Mamdani.
  • Ia dijadwalkan bertemu Presiden Donald Trump dan menghadiri pemakaman Senator Lindsey Graham.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu tetap melanjutkan kunjungan kenegaraan ke Amerika Serikat pada Senin (27/7/2026) tanpa menggubris desakan penangkapan yang diserukan politisi New York, Zohran Mamdani. Keberangkatan ini merupakan respons atas undangan resmi Presiden AS Donald Trump dan dijadwalkan berlangsung hingga Kamis (30/7).

Pesawat yang membawa Netanyahu lepas landas dari Bandara Ben Gurion pukul 11.00 waktu setempat menuju Washington DC. Kantor PM Israel mengonfirmasi bahwa agenda utama kunjungan meliputi pertemuan bilateral dengan Trump di Gedung Putih pada Selasa (28/7) dan partisipasi dalam upacara pemakaman Senator Lindsey Graham yang digelar dua hari, Selasa dan Rabu. Tidak ada rincian lebih lanjut soal jam pastinya Netanyahu memberikan penghormatan terakhir.

Kunjungan terjadi di tengah dinamika geopolitik yang kompleks. Di satu sisi, Israel tengah menjalani negosiasi dengan Lebanon menyusul konflik perbatasan. Di sisi lain, ketegangan antara AS dan Iran sempat memanas dalam beberapa hari terakhir, meskipun akhirnya mereda dan membuka peluang diplomasi. Netanyahu terbang ke AS di saat kritis ini dengan pesan keras terhadap Teheran.

Sebelum bertolak, ia menyampaikan peringatan tegas: setiap serangan Iran atau proksinya terhadap Israel akan mendapat balasan yang jauh lebih dahsyat. Sikap tersebut menegaskan bahwa agenda tersembunyi Netanyahu adalah mengamankan dukungan penuh Washington dalam menghadapi ancaman regional, terutama setelah ICC mengeluarkan surat perintah penangkapan atas dugaan kejahatan perang di Gaza.

Desakan Mamdani untuk menangkap Netanyahu tidak memiliki kekuatan hukum di AS karena Washington tidak mengakui yurisdiksi ICC. Apalagi Trump adalah sekutu dekat Israel dan selama masa pemerintahannya dikenal sangat pro-Tel Aviv. Oleh karena itu, risiko hukum bagi Netanyahu selama di AS nyaris nol.

Bagi Indonesia, kunjungan ini memiliki arti penting. Sebagai negara tanpa hubungan diplomatik dengan Israel dan pendukung konsisten perjuangan Palestina, Indonesia pasti mencermati setiap langkah Netanyahu. Pemerintah RI selama ini mendorong solusi dua negara dan mengkritik pendudukan Israel. Pertemuan Trump-Netanyahu yang mempererat aliansi AS-Israel berpotensi memicu pernyataan resmi dari Kementerian Luar Negeri RI.

Di sisi lain, meredanya konflik AS-Iran memberikan secercah harapan bagi stabilitas kawasan dan perekonomian global. Jika negosiasi lanjutan berhasil, harga minyak dunia bisa lebih stabil—sesuatu yang sangat relevan bagi Indonesia sebagai importir minyak. Namun, sikap agresif Netanyahu justru dapat menggagalkan peluang tersebut.

Pemakaman Lindsey Graham menjadi agenda emosional dalam kunjungan ini. Graham adalah senator dari Partai Republik yang dikenal sebagai pendukung kuat Israel dan sekutu dekat Netanyahu. Kehadiran Netanyahu di pemakaman menunjukkan kedekatan pribadi sekaligus simbol solidaritas politik.

Menurut pernyataan resmi Kantor PM Israel, kunjungan ini sepenuhnya atas undangan Trump. "Perdana Menteri Benjamin Netanyahu akan berangkat Senin mendatang untuk berkunjung ke Washington," demikian bunyi rilis yang dikutip oleh media setempat. Tidak ada pernyataan resmi dari pihak Mamdani terkait respons atas kunjungan tersebut.

Proyeksi ke depan, hasil konkret dari pertemuan Trump-Netanyahu mungkin akan diumumkan dalam bentuk kerja sama keamanan atau bantuan militer baru. Publik internasional juga menunggu apakah akan ada langkah konkret menuju negosiasi Israel-Lebanon. Netanyahu dijadwalkan kembali ke Israel pada Kamis (30/7) segera setelah rangkaian acara pemakaman Graham selesai.

Mengapa Ini Penting

Kunjungan Netanyahu ke AS di tengah desakan ICC dan konflik regional menunjukkan bagaimana aliansi AS-Israel tetap kokoh meski ada tekanan hukum global. Bagi Indonesia, hal ini berdampak pada politik luar negeri yang pro-Palestina dan stabilitas ekonomi akibat potensi perubahan harga minyak. Selain itu, meredanya ketegangan AS-Iran bisa membuka peluang diplomasi yang selama ini terhambat oleh sikap keras Israel.

Sumber Asli
CNN Indonesia Internasional
Tanggal
27 Juli 2026
Waktu Baca
4 menit