Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dikabarkan melakukan serangkaian upaya agresif agar mendapat undangan ke Gedung Putih, Washington, pada Selasa (28/7). Menurut pejabat AS dan sumber Israel, Netanyahu selama beberapa pekan terakhir memanfaatkan kebocoran informasi ke media demi menciptakan tekanan publik sehingga Trump tidak bisa menolak pertemuan tersebut.
Awalnya Trump enggan bertemu dan sejumlah staf Gedung Putih merasa terganggu dengan taktik yang dianggap memanipulasi alur diplomatik. Pemakaman Senator Lindsey Graham pekan ini akhirnya menjadi momen di mana keduanya bertemu, meskipun hanya sebagai agenda sampingan dari upacara utama.
Hubungan keduanya berubah drastis sejak pertemuan Februari lalu. Saat itu mereka menyepakati kampanye militer gabungan melawan Iran dan saling memuji koordinasi yang tak pernah terjadi sebelumnya. Namun seiring perang berkepanjangan dan gagal mencapai target menggulingkan rezim Teheran, perbedaan visi mulai terlihat jelas: Netanyahu ingin terus meningkatkan tekanan militer, sedangkan Trump berkeinginan mengakhiri konflik sebelum pemilu AS November mendatang.
Dalam pertemuan terbaru, Netanyahu berencana menyerahkan intelijen terbaru soal program nuklir dan kemampuan militer Iran. Sumber Israel menilai Trump tidak terlalu berminat melanjutkan perang besar, setidaknya sebelum pemilu, namun sadar bahwa dukungan ke Israel bisa memengaruhi peluang politik Netanyahu menjelang pemilu Israel Oktober.
Kesadaran itu membuat Trump sesekali menunjukkan dukungan, misalnya pernyataan pekan lalu bahwa Netanyahu tidak akan ditangkap saat berkunjung ke AS, setelah Wali Kota New York Zohran Mamdani menolak mencabut janji kampanye penangkapan. Secara publik Trump tidak menyalahkan Netanyahu, namun secara pribadi ia pernah menyebut perdana menteri Israel sebagai sosok yang "gila" dan "sulit" karena terus melanjutkan pemboman di Lebanon yang mengancam gencatan senjata AS‑Iran.
Laporan Axios mengungkap percakapan telepon awal Juni di mana Trump berkata kepada Netanyahu: "Sekarang semua orang membencimu... semua orang membenci Israel karena ini." Tekanan itu mendorong Israel menyetujui perjanjian trilateral dengan Lebanon sebulan lalu, namun Israel tetap menarik diri menarik seluruh pasukan dari Lebanon selatan sebelum Hizbullah dilucuti.
Menurut sumber yang hadir dalam rapat kabinet keamanan Israel Minggu lalu, Netanyahu mengaku administrasi Trump meminta penarikan pasukan dari posisi di Lebanon, Gaza, dan Suriah. Permintaan ini menambah beban diplomatik bagi Netanyahu yang harus menyeimbangkan tekanan domestik dan ekspektasi mitra utama.
Bagi Indonesia, eskalasi diplomatik ini berdampak pada stabilitas harga minyak dunia karena ketegangan di Selat Hormuz tetap tinggi. Pekerja migran Indonesia di Timur Tengah juga rentan terhadap perubahan kebijakan keamanan, sementara posisi Indonesia yang mendukung Palestina menambah kompleksitas dalam menilai dukungan AS ke Israel.
Analis geopolitik menilai bahwa kekuatan tarik‑menarik antara Netanyahu dan Trump mencerminkan pergeseran prioritas AS dari komitmen militer penuh ke diplomasi pragmatis menjelang pemilu. Jika Trump berhasil mengekstrak konsesi dari Israel, peluang gencatan senjata yang lebih luas di wilayah tersebut meningkat, namun risiko kebocoran intelijen dan tekanan internal di Israel tetap besar.
Langkah selanjutnya yang dipantau adalah apakah Trump akan mengeluarkan pernyataan resmi soal batasan dukungan militer, serta respons Netanyahu terhadap tekanan penarikan pasukan. Pemilu ganda di AS dan Israel pada akhir tahun ini akan menentukan arah kebijakan luar negeri kedua negara dalam tahun‑tahun mendatang.