Bisnis & Startup

Ng Chee Khern Gantikan Edmund Cheng sebagai Ketua CAAS Singapura

Ringkasan

  • Mantan kepala angkatan udara Singapura, Ng Chee Khern, akan memimpin Otoritas Penerbangan Sipil mulai 1 Agustus, menggantikan Edmund Cheng setelah lebih dari sembilan tahun.

Singapura menunjuk mantan kepala angkatan udara, Ng Chee Khern, sebagai ketua baru Otoritas Penerbangan Sipil (CAAS) mulai 1 Agustus. Pengalihan kepemimpinan ini mengakhiri masa jabatan Edmund Cheng yang telah berlangsung lebih dari sembilan tahun di puncak otoritas tersebut.

Ng yang pernah menjabat Kepala Angkatan Udara Republik Singapura dari 2006 hingga 2009, lalu menjadi Sekretaris Tetap Kementerian Sumber Daya Manusia hingga 2025, saat ini sudah menjabat sebagai wakil ketua CAAS sejak Januari. Kementerian Transportasi (MOT) dalam pernyataan hari Rabu lalu menyatakan bahwa pengalaman kepemimpinan luas yang dimiliki Ng—termasuk pengalaman di Kementerian Kesehatan dan kelompok Smart Nation serta Digital Government di kantor Perdana Menteri—akan sangat membantu CAAS dalam memperkuat posisi Singapura sebagai pusat penerbangan global. Pengalaman tersebut juga diyakini akan mendorong transformasi berkelanjutan dan penerapan teknologi di sektor penerbangan.

Sementara itu, Edmund Cheng akan turun jabatan setelah lebih dari sembilan tahun mengabdi di CAAS. Ia pertama kali bergabung sebagai wakil ketua pada Desember 2016 dan naik menjadi ketua pada Juli 2018. Sebelumnya, Cheng pernah memimpin perusahaan ground handling SATS dari 2003 hingga 2016 dan menjabat ketua Singapore Tourism Board dari 1993 hingga 2001. Di bawah kepemimpinannya, CAAS mengembangkan proyek-proyek jangka panjang seperti Terminal 5 Bandara Changi, Kawasan Industri Timur Changi, dan Distrik Perkotaan Timur Changi. Otoritas ini juga mendirikan Asia Pacific Sustainable Aviation Centre dan Singapore Sustainable Aviation Fuel Company.

Selama pandemi COVID-19, Cheng membawa sektor penerbangan Singapura melalui masa sulit dan berhasil membangun kembali industri tersebut. Pada 2025, angka pergerakan penumpang mencapai rekor hampir 70 juta orang, sementara kargo udara melebihi dua juta ton. Pada tahun yang sama, CAAS mengumumkan komitmen S$1 miliar (sekitar US$780 juta) untuk mendukung inisiatif di bidang konektivitas, teknologi, infrastruktur, dan sumber daya manusia. Di bawah kepemimpinan Cheng, CAAS meluncurkan Peta Transformasi Industri Transportasi Udara pada 2023 dan Blueprint Pusat Penerbangan Berkelanjutan Singapura pada 2024, yang menjadikan sektor ini lebih ramah lingkungan dan berbasis teknologi.

Bagi Indonesia, perkembangan ini layak diamati. Sektor penerbangan Indonesia tengah berupaya memulihkan diri pasca pandemi dan memperluas aksesibilitas ke daerah-daerah terpencil. Model transformasi yang diterapkan Singapura—yang menggabungkan perencanaan infrastruktur jangka panjang, adopsi bahan bakar berkelanjutan, dan integrasi teknologi digital—dapat menjadi referensi bagi Indonesia dalam mengembangkan bandara-bandara baru seperti di Kalimantan dan Papua, serta dalam membangun sumber daya manusia yang kompeten di bidang penerbangan. Selain itu, upaya Singapura dalam mendorong bahan bakar pesawat berkelanjutan berpotensi menginspirasi kebijakan serupa di Indonesia, yang saat ini masih bergantung pada impor bahan bakar aviasi.

Dalam pernyataannya, MOT mengucapkan terima kasih kepada Cheng atas “pelayanan yang luar biasa” dan kontribusi “yang sangat berharga” bagi otoritas serta sektor penerbangan Singapura. Cheng sendiri menyampaikan bahwa ia merasa terhormat dapat berkontribusi pada perkembangan industri yang menjadi tulang punggung ekonomi nasional tersebut. Sementara itu, Ng Chee Khern menyatakan kesiapannya untuk melanjutkan agenda transformasi yang telah dirintis, dengan fokus pada perluasan jaringan rute global Singapura dan memperkuat posisinya sebagai pusat logistik udara di Asia.

Ke depan, CAAS berencana untuk mempercepat implementasi Blueprint Pusat Penerbangan Berkelanjutan, yang mencakup pengembangan bahan bakar nabati untuk penerbangan dan peningkatan efisiensi energi di seluruh bandara. Bagi Indonesia, momen ini dapat menjadi peluang untuk menjalin kerja sama bilateral di bidang penelitian dan pengembangan bahan bakar berkelanjutan, serta berbagi pengetahuan tentang manajemen bandara yang terintegrasi. Dengan demikian, perubahan kepemimpinan di CAAS tidak hanya menjadi kisah sukses Singapura, tetapi juga berpotensi memberikan dampak positif bagi dinamika penerbangan di kawasan Asia Tenggara.

Ke depannya, industri penerbangan regional diharapkan terus berkolaborasi untuk menghadapi tantangan perubahan iklim, permintaan perjalanan yang meningkat, dan persaingan global. Indonesia perlu mempersiapkan sumber daya manusia yang kompetitif dan kebijakan yang mendukung inovasi, agar tidak tertinggal dalam persaingan udara yang semakin ketat.

Mengapa Ini Penting

Pergantian kepemimpinan di CAAS Singapura membawa implikasi luas bagi kawasan Asia Tenggara, terutama bagi Indonesia yang sedang berupaya memulihkan dan memodernisasi sektor penerbangannya. Pengalaman Ng di bidang militer, pemerintahan, dan teknologi dapat mempercepat adopsi inovasi seperti bahan bakar berkelanjutan dan integrasi digital, yang juga menjadi kebutuhan mendesak bagi Indonesia guna mengurangi ketergantungan pada impor dan meningkatkan aksesibilitas ke daerah terpencil. Selain itu, komitmen CAAS senilai S$1 miliar untuk infrastruktur dan sumber daya manusia dapat menjadi benchmark bagi kebijakan serupa di Indonesia, mendorong investasi yang lebih besar pada pembangunan bandara dan pelatihan pilot serta teknis. Dengan demikian, perkembangan ini tidak hanya memperkuat posisi Singapura sebagai hub global, tetapi juga menciptakan peluang bagi negara-negara tetangga untuk belajar dan berkolaborasi, sehingga persaingan di sektor penerbangan regional menjadi lebih sehat dan berkelanjutan.

Sumber Asli
Channel NewsAsia
Tanggal
15 Juli 2026
Waktu Baca
4 menit