Stadion Marakana di Beograd, Serbia, menjadi saksi bisu peristiwa kontroversial saat suporter Red Star merayakan warisan Ratko Mladic, terpidana mati kasus genosida yang meninggal dunia di Den Haag akhir Agustus lalu. Dalam laga bertajuk derbi abadi melawan Partizan, ultras Red Star membentangkan spanduk bertuliskan 'Pravac Potocari' atau 'Arah Potocari', merujuk pada desa di Bosnia tempat ribuan pria dan anak laki-laki Bosniak dibantai pada Juli 1995 di bawah komando Mladic.
Aksi ini melampaui batas dukungan sepak bola konvensional. Para suporter tidak hanya membawa gambar besar sang jenderal, tetapi juga melakukan aksi mengheningkan cipta sebagai penghormatan resmi di tengah pertandingan. Peristiwa ini terjadi hanya beberapa hari setelah UEFA menjatuhkan denda sebesar 98.250 euro kepada Red Star akibat spanduk pujian serupa yang dibentangkan saat laga Liga Europa di Republik Ceko.
Ketegangan di tribun stadion Serbia bukanlah fenomena baru, melainkan cerminan dari keterkaitan erat antara dunia hooliganisme, nasionalisme ekstrem, dan kepentingan politik. Slobodan Georgiev, direktur berita TV Nova S, menilai bahwa stadion telah beralih fungsi menjadi alat rekrutmen paramiliter sejak pecahnya Yugoslavia. Pesan-pesan yang dianggap terlalu sensitif atau radikal bagi pemerintah sering kali disuarakan melalui tribun sebagai corong tidak resmi.
Keterlibatan suporter dalam narasi politik ini didukung oleh struktur yang terorganisir. Banyak dari kelompok pendukung fanatik ini memiliki sejarah panjang dengan tokoh-tokoh paramiliter, termasuk mendiang Zeljko Raznatovic alias Arkan, yang dikenal luas sebagai sosok di balik pembentukan basis massa pendukung Red Star. Hingga kini, pengaruh kelompok tersebut tetap kuat dan sering kali beroperasi tanpa konsekuensi hukum yang berarti.
Analisis dari Sasa Djordevic, pakar dari Global Initiative Against Transnational Organized Crime, menyoroti bahwa insiden di Marakana adalah indikasi kuat bahwa normalisasi kebencian telah terjadi. Ketika aksi glorifikasi terhadap penjahat perang dianggap sebagai rutinitas di stadion, masyarakat secara perlahan kehilangan sensitivitas terhadap kekerasan. Debat publik yang kian minim membuat perilaku ini seolah-olah menjadi bagian dari budaya sepak bola yang diterima.
Bagi audiens di Indonesia, fenomena ini memberikan pelajaran berharga mengenai bahaya politisasi suporter. Meskipun konteks sejarahnya berbeda, Indonesia juga memiliki riwayat panjang gesekan antar suporter yang sering kali ditunggangi oleh kepentingan di luar olahraga. Ketika tribun stadion kehilangan fungsinya sebagai ruang sportivitas dan berubah menjadi panggung propaganda, integritas kompetisi olahraga menjadi taruhannya.
Ivana Jeremic, editor Balkan Insight, menegaskan bahwa hubungan antara kelompok suporter garis keras dan pemegang kekuasaan adalah rahasia umum. Dukungan yang diberikan kepada narasi Mladic di stadion diyakini tidak mungkin terjadi tanpa restu atau pembiaran dari otoritas setempat. Hal ini menciptakan ekosistem di mana klub sepak bola bertindak sebagai instrumen ideologis pemerintah.
UEFA sendiri telah mencoba melakukan intervensi melalui sanksi larangan kehadiran suporter dalam laga tandang di Swiss dan Belgia. Namun, sanksi finansial dan administratif tampaknya belum cukup untuk meredam sentimen ideologis yang telah mengakar selama puluhan tahun. Tantangan besar bagi otoritas sepak bola Eropa adalah bagaimana memisahkan politik dari tribun tanpa memicu eskalasi konflik yang lebih luas.
Ke depan, tren glorifikasi ini diprediksi akan terus berlanjut selama belum ada tindakan tegas dari pemerintah Serbia terhadap kelompok-kelompok yang menggunakan sepak bola sebagai alat agitasi. Tanpa adanya pemisahan yang jelas antara otoritas klub dan pengaruh kelompok ultranasionalis, stadion akan terus menjadi zona abu-abu tempat sejarah kelam diputar kembali demi agenda politik masa kini.
Situasi ini menjadi pengingat keras bagi komunitas sepak bola global bahwa sportivitas bukan sekadar tentang aturan di lapangan hijau. Keamanan dan kenyamanan penonton di stadion sangat bergantung pada upaya kolektif untuk menolak segala bentuk ujaran kebencian yang dibungkus dalam atribut klub. Sepak bola seharusnya menjadi pemersatu, bukan panggung bagi mereka yang memuja tragedi kemanusiaan.