Internasional

Nolan Angkat Odyssey ke Layar IMAX Lewat Kamera Film Khusus

Ringkasan

  • Christopher Nolan rilis The Odyssey sebagai film IMAX penuh pertama, syuting 6 bulan di 6 negara dengan Matt Damon sebagai Odysseus.

Christopher Nolan merilis The Odyssey sebagai film fitur pertama yang seluruhnya digarap dengan kamera film IMAX, menghadirkan epos Homer ke bioskop dengan skala produksi masif. Film yang dibintangi Matt Damon sebagai Odysseus ini tayang perdana di jaringan bioskop global termasuk layar IMAX dan pemutaran 35mm eksklusif, menyusul proses syuting enam bulan di enam negara.

Karya terbaru sutradara Oppenheimer itu menuturkan perjalanan pulang Odysseus setelah Perang Troya, dengan tantangan alam, dewa, dan monster yang menghalangi kepulangannya ke Ithaca. Nolan menempatkan Damon sebagai raja yang letih oleh perang dan rindu keluarga, bukan sekadar pahlawan pedang. Anne Hathaway memerankan Penelope, sementara Tom Holland menjadi Telemachus, putra yang tumbuh tanpa ayah.

Nolan memilih epos kuno itu karena belum pernah diadaptasi sebagai blockbuster modern. Ia melihat tantangan membangun dunia mitologi Yunani kuno yang terasa nyata bagi penonton masa kini sebagai energi kreatif tersendiri. "The Odyssey adalah karya luar biasa yang sangat penting bagi sejarah dunia, namun belum pernah diadaptasi sebagai blockbuster modern," ujar Nolan.

Produksi berlangsung di Maroko, Yunani, Italia, Islandia, Skotlandia, dan Amerika Serikat selama 91 hari syuting. Pendekatan practical filmmaking kembali digunakan, dengan set luas dan lokasi nyata agar penonton merasa berada di kapal Odysseus. Nolan ingin laut ganas, angin, hujan, dan salju hadir utuh seperti imajinasi pembaca Homer pertama.

Di Ait Benhaddou, Maroko, desainer produksi Ruth De Jong membangun set 360 derajat seluas lebih dari 10.000 meter persegi untuk jatuhnya Troya, memadukan arsitektur existing dengan 60 struktur baru dan ruang bagi 2.000 figuran. Beberapa kuda Troya setinggi 11 meter dibuat untuk lokasi berbeda, dirancang sebagai persembahan rusak untuk Poseidon yang ditemukan hanyut di pantai.

Gua Nestor di Yunani dipakai untuk pertemuan dengan Cyclops, lanskap Islandia mewakili Hades, dan Favignana dekat Sisilia menjadi Ithaca berkat Castello di Santa Caterina abad ke-15. Kastil itu tak punya akses jalan, sehingga peralatan diangkut funicular dan helikopter, sementara kru mendaki tiap hari selama tiga pekan syuting.

Penggunaan IMAX penuh menuntut inovasi teknis. Kamera film IMAX lama berukuran besar dan berisik, sehingga Nolan dan sinematografer Hoyte van Hoytema mengembangkan model Keighley bersama IMAX, dilengkapi pelindung suara. Saat dibungkus, kamera mencapai berat 136 kg dan hanya bisa merekam beberapa menit sebelum gulungan film diganti.

Total 640 km seluloid habis selama produksi, jarak lebih panjang dari Toronto ke New York. Sebanyak 5.300 kostum dirancang Ellen Mirojnick dari bahan alami, kain tenun tangan, dan perunggu usang agar detailnya tajam di layar raksasa. Seluruh upaya itu bertujuan membuat mitos terasa nyata, bukan fantasi lewat.

Bagi industri film Indonesia, pendekatan Nolan menunjukkan nilai lokasi nyata dan kamera fisik di tengah dominasi CGI. Meski bioskop IMAX di Indonesia terbatas pada kota besar seperti Jakarta dan Surabaya, minat penonton terhadap format besar tetap tinggi saat film Marvel atau Nolan tayang. Produksi lokal belum menyentuh kamera film IMAX, namun rumah produksi mulai melirik syuting lanskap Nusantara sebagai daya tarik visual.

Damon menyebut peran ini sebagai film terbesar kariernya dari sisi skala dan ambisi. "Ini film terbesar yang pernah saya kerjakan dalam hal skala dan ambisi," katanya. Pernyataan itu mencerminkan beban produksi yang tak sekadar teknis, melainkan pengalaman aktor terhadap epik tersebut.

Ke depan, keberhasilan The Odyssey akan mendorong studio Hollywood memperluas penggunaan kamera film format besar untuk genre non-science fiction. Nolan membuktikan bahwa mitos klasik bisa kompetitif di pasar blockbuster modern. Tren ini berpeluang menguatkan kembali bioskop sebagai ruang pengalaman kolektif, bukan sekadar layar alternatif dari streaming.

Di Indonesia, kehadiran film ini menguji kesiapan distributor lokal menyediakan saluran format premium secara merata. Jika permintaan memadai, jaringan bioskop dapat menambah layar IMAX atau 70mm di luar Pulau Jawa. Hal itu akan memberi ruang bagi penonton daerah menikmati karya dengan kualitas gambar setara ibu kota.

Mengapa Ini Penting

Masuknya kamera film IMAX penuh ke produksi epos klasik menekan industri lokal untuk berinvestasi pada infrastruktur bioskop premium agar tak tertinggal arus global. Masyarakat Indonesia di luar kota besar selama ini tersisih dari pengalaman format besar yang sebenarnya diminati luas. Keberhasilan film ini juga membuka wacana bahwa karya berakar budaya dapat dikemas sebagai hiburan visual skala dunia tanpa bergantung penuh pada efek digital.

Sumber Asli
Channel NewsAsia
Tanggal
17 Juli 2026
Waktu Baca
4 menit