Internasional

Operator Teleprompter Trump Disuspensi Karena Judi Konten Pidato

Ringkasan

  • White House menangguhkan Gabriel Perez karena memasang taruhan pasar prediksi atas isi pidato Trump.
  • Ia mengantongi lebih dari US$100.000 sebelum tertangkap.

White House menangguhkan Gabriel Perez, operator teleprompter yang sejak 2016 mengatur naskah pidato Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Penangguhan dilakukan setelah Perez ketahuan memanfaatkan pasar prediksi Kalshi untuk memasang taruhan terkait kata atau frasa tertentu yang akan muncul dalam pidato presiden. Juru bicara Gedung Putih Karoline Leavitt mengumumkan keputusan itu pada Kamis (16/7) waktu Washington.

Perez menempatkan taruhan lewat platform Kalshi dan meraup keuntungan lebih dari US$100.000. Sebagian besar hasil itu sempat terblokir di akunnya, yakni lebih dari US$90.000, sebelum ia berhasil menariknya. Kini ia berada dalam pembicaraan penyelesaian dengan platform tersebut. Leavitt menegaskan Perez tidak lagi bekerja di White House dan hanya menerima cuti administratif tanpa gaji.

Kasus ini membuka lubang etika di lingkaran inti kepresidenan. Perez memiliki akses langsung ke naskah sebelum dibacakan publik, posisi yang membuatnya bisa memanfaatkan informasi orang dalam. Ia memasang taruhan pada sejumlah momen besar, termasuk pidato State of the Union pada Februari, sambutan di Forum Davos di Swiss, serta pidato prime time Desember. Dalam satu insiden, Perez bahkan membatalkan taruhan saat Trump menyimpang dari naskah dan tidak menyebutkan kata yang sudah ia pertaruhkan.

Pasar prediksi seperti Kalshi memang sedang naik daun di Amerika. Platform ini memungkinkan publik bertaruh pada hasil peristiwa nyata, mulai dari pemilu hingga kebijakan ekonomi. Setelah berhasil memprediksi kemenangan Trump pada 2024, Kalshi makin populer. Anak Trump, Donald Jr., bahkan bergabung sebagai penasihat sejak Januari 2025. Popularitas itulah yang membuat celah manipulasi makin terlihat.

Kalshi menyatakan pihaknya sudah melaporkan aktivitas mencurigakan ke regulator federal CFTC. Tim pengawasan mereka menemukan pola taruhan yang aneh terhadap isi pidato presiden. Robert DeNault, kepala penegakan aturan Kalshi, mengatakan bukti sudah diserahkan kepada otoritas. Langkah ini penting karena pasar prediksi mulai diawasi ketat terkait tuduhan insider trading.

Bagi Indonesia, isu ini relevan karena pasar prediksi digital mulai masuk ekosistem investasi alternatif masyarakat. Meski belum setenar di AS, sejumlah platform prediksi dan trading sosial mulai menyasar pengguna lokal lewat aplikasi luar negeri. Ketergantungan pada informasi orang dalam dalam bentuk apa pun berisiko merusak kepercayaan publik. Kasus Perez menunjukkan bahwa akses informasi negara bisa jadi komoditas jika pengawasan lemah.

Di Indonesia, regulasi perdagangan berbasis prediksi belum matang. Bursa Berjangka Jakarta mengawasi kontrak berjangka, namun pasar prediksi peristiwa politik belum tersentuh aturan spesifik. Bila tren ini masuk secara luas, pemerintah perlu menyiapkan batas etis agar aparatur sipil negara tak terjebak konflik kepentingan serupa. Transparansi naskah dan akses informasi strategis harus dibatasi ketat.

Leavitt menekankan White House memiliki pedoman etika ketat yang melarang praktik semacam itu. "Presiden menganggap ini sangat disayangkan dan merupakan aib," ujarnya kepada wartawan. Ia menambahkan keputusan penangguhan sepenuhnya diambil Trump sebagai bentuk tanggung jawab.

Kasus ini muncul beberapa jam sebelum Trump hendak berpidato soal integritas pemilu AS. Leavitt memastikan teleprompter tetap ada, hanya bukan dioperasikan Perez. "Ada operator malam ini, tapi bukan yang dalam cerita itu," katanya. Peristiwa ini makin mendorong debat soal batas antara teknologi prediksi dan keamanan negara.

Ke depan, CFTC diprediksi memperketat audit terhadap pasar prediksi. Penyelesaian Perez dengan Kalshi bisa jadi preseden hukum bagi kasus serupa. White House juga berpotensi merevisi protokol akses naskah agar tak ada lagi celah taruhan. Masyarakat global akan melihat apakah pasar prediksi bisa diawasi tanpa membunuh inovasinya.

Tren pengawasan ini penting bagi negara berkembang yang mulai mengadopsi teknologi finansial baru. Indonesia perlu belajar dari Washington sebelum praktik serupa muncul di lingkaran pemerintahan. Etika digital dan batas akses informasi harus jadi fondasi, bukan sekadar aturan tulisan.

Mengapa Ini Penting

Kasus ini menunjukkan bahwa pasar prediksi berbasis peristiwa politik rawan disusupi praktik insider trading oleh elite atau staf negara. Bagi Indonesia yang mulai terpapar platform prediksi luar negeri, absennya regulasi spesifik berisiko menggerus kepercayaan publik terhadap integritas informasi. Pemerintah perlu memetakan batas etis akses aparatur terhadap data strategis sebelum tren serupa meluas di dalam negeri.

Sumber Asli
Channel NewsAsia
Tanggal
16 Juli 2026
Waktu Baca
4 menit