Pasangan Li Zhijian dan Peng Hongying akhirnya menemukan titik temu emosional setelah 16 tahun menuntut keadilan atas kesalahan medis yang membuat putra mereka, Li Yuanjian, lumpuh seumur hidup. Keputusan Majelis Medis Hong Kong yang menyatakan dokter anak, Dr Sit Sou-chi, bersalah pelanggaran kode etik profesi pada 5 Juli lalu, memberikan rasa lega sekaligus pahit bagi keluarga ini. "Kami hanya bisa mengatakan kami menerimanya, dan kami menemukan sedikit penutupan untuk meletakkan hal ini," ujar Li Zhijian kepada South China Morning Post. Namun, ia menegaskan ketidakpuasan mendalam: "Jika ditanya apakah kami puas, jawabannya pasti tidak. Apapun putusannya, kami tidak akan puas karena putra kami harus hidup seperti ini selamanya, dan kesehatannya tidak akan pernah pulih."
Kasus ini bermula pada 22 Desember 2009, ketika Yuanjian yang baru lahir mengalami kejang di Rumah Sakit Baptist di Kowloon Tong. Penyelidikan Majelis Medis mengungkap bahwa Dr Sit gagal melakukan pemeriksaan segera dan komprehensif yang seharusnya dilakukan pasca kejang. Keterlambatan diagnosis dan penanganan itu kemudian dikaitkan dengan kerusakan otak parah, meninggalkan Yuanjian menderita serebral palsy dan kuadriplegia — kondisi di mana keempat anggota tubuh lumpuh dan ia tidak mampu merawat diri sendiri sepenuhnya. Proses hukum yang berlangsung hampir dua dekade ini mencerminkan kompleksitas sistem peradilan medis di Hong Kong, di mana beban bukti seringkali berat di sisi keluarga korban.
Putusan majelis inkuiri ini sebenarnya merupakan kemenangan prosedural yang langka. Dalam praktiknya, kasus kecelakaan medis (medical malpractice) di Hong Kong sering kali berakhir dengan guguran gugatan karena kesulitan membuktikan kausalitas medis secara pasti di pengadilan sipil. Majelis Medis (Medical Council) berwenang menilai kelayakan praktik dokter, bukan menentukan kompensasi finansial. Oleh karena itu, vonis "pelanggaran disiplin profesi" ini lebih bersifat administratif, berpotensi mengakibatkan pencabutan izin praktik atau sanksi lain terhadap Dr Sit, namun tidak otomatis memberikan ganti rugi bagi keluarga. Faktanya, Li Zhijian dan istrinya masih harus menuntut ganti rugi melalui jalur perdata terpisah — sebuah perjalanan hukum yang mahal dan melelahkan secara emosional.
Kasus Yuanjian menyoroti celah sistemik dalam perlindungan pasien di Hong Kong. Berbeda dengan beberapa yurisdiksi yang menerapkan sistem kompensasi tanpa kesalahan (no-fault compensation) untuk cedera medis, Hong Kong masih sangat bergantung pada litigasi adversarial. Hal ini menciptakan ketidakseimbangan kekuatan: rumah sakit dan dokter didukung asuransi tanggung jawab profesional dan tim hukum handal, sedangkan keluarga korban seringkali kehabisan sumber daya sebelum kasus selesai. Data Majelis Medis menunjukkan hanya sebagian kecil keluhan yang berujung pada vonis pelanggaran disiplin, dan lebih sedikit lagi yang menghasilkan kompensasi substansial bagi pasien.
Dari perspektif medis, kasus ini menjadi pengingat keras mengenai standar perawatan neonatal, khususnya protokol penanganan kejang pada bayi baru lahir. Kejang neonatal adalah darurat medis yang memerlukan evaluasi segera untuk menyingkirkan penyebab berbahaya seperti hipoglikemia, infeksi intrakranial, atau kelainan metabolik. Kegagalan Dr Sit dalam memerintahkan pemeriksaan darah mendesak, pencitraan otak, atau konsultasi ke spesialis saraf anak tepat waktu, sesuai temuan majelis, merupakan penyimpangan dari standar perawatan yang wajar (standard of care). Insiden ini telah mendorong Rumah Sakit Baptist dan Otoritas Rumah Sakit (Hospital Authority) meninjau kembali prosedur darurat unit perinatologi mereka, meskipun detail revisi kebijakan internal tidak diumumkan secara publik.
Secara sosial, perjuangan keluarga Li telah menginspirasi gerakan advokasi hak pasien di Hong Kong. Kelompok-kelompok seperti "Patient Rights Watch" dan "Medical Reform Coalition" mengutip kasus ini sebagai bukti urgensi reformasi hukum kecelakaan medis, termasuk pembentukan tribunal medis khusus yang lebih cepat dan murah, serta kewajiban transparansi rumah sakit dalam melaporkan insiden kesalahan medis (incident reporting) kepada publik. Tekanan opini publik pun mendorong Majelis Medis mempercepat proses inkuiri yang awalnya tertunda bertahun-tahun karena kompleksitas bukti medis dan jadwal sidang.
Bagi Li Zhijian dan Peng Hongying, perjuangan kini bergeser ke ranah kompensasi finansial yang adil untuk biaya perawatan seumur hidup Yuanjian. Biaya fisioterapi, alat bantu mobilitas, perawatan keperawatan rumahan, dan modifikasi rumah untuk aksesibilitas kursi roda mencapai ratusan ribu dolar Hong Kong per tahun. Pasangan ini, yang berasal dari daratan China dan bermigrasi ke Hong Kong, menghadapi tekanan ganda: merawat anak berkebutuhan khusus sambil berhadapan dengan biaya hidup tinggi di kota tersebut. Mereka menolak mengungkapkan nominal ganti rugi yang dituntut, namun menegaskan akan mengejar kasus hingga ke pengadilan tinggi jika perlu.
Kasus ini juga mengangkat pertanyaan etis mendalam tentang akuntabilitas profesi medis versus kelemahan sistem. Dr Sit, melalui pengacaranya, menegaskan telah bertindak sesuai penilaian klinis saat itu dan mengekspresikan simpati atas nasib Yuanjian. Namun, majelis menilai tindakannya "di bawah standar yang diharapkan dari dokter anak yang berkompeten." Diskrepansi antara penilaian subyektif dokter dan standar objektif profesi inilah yang sering menjadi inti perdebatan hukum medis. Untuk keluarga Li, vonis ini bukan akhir, melainkan fondasi untuk menuntut restitusi penuh — bukan hanya untuk putra mereka, tapi agar tidak ada orang tua lain yang harus menunggu 16 tahun demi sekadar pengakuan kesalahan.